Sumbangan / Donate

Donate (Libery Reserve)


U5041526

Kamis, 14 Oktober 2010

Bab 7

DI RUMAH TOM BOMBADIL

Keempat hobbit itu melangkahi ambang batu yang lebar, dan berdiri diam sambil mengerjap-ngerjapkan mata. Mereka berada di sebuah ruangan panjang beratap rendah, dipenuhi cahaya lampu yang menggantung dari balok-balok atap; di meja kayu gelap yang disemir berdiri lilin-lilin tinggi dan kuning, menyala terang.
Di sebuah kursi di ujung ruangan, menghadap pintu luar, duduk seorang wanita. Rambutnya yang pirang panjang mengalun turun ke bahunya; gaunnya hijau, sehijau alang-alang muda, bebercak keperakan seperti butir-butir embun; ikat pinggangnya dari emas, berbentuk rangkaian bunga lili bertaburkan mata biru pucat bunga for-get-me-not. Di sekitar kakinya, di dalam bejana-bejana lebar dari tanah hat hijau dan cokelat, mengambang bunga-bunga lili air, sehingga ia tampak seolah bertakhta di tengah kolam.
"Masuklah, tamu-tamu yang budiman!" katanya, dan ketika ia berbicara, tahulah mereka bahwa suara nyanyian jernih yang tadi mereka dengar adalah suaranya. Mereka maju beberapa langkah dengan malu-malu, dan mulai membungkuk rendah, merasa kaget keheranan dan canggung, seperti orang yang mengetuk pintu untuk meminta minuman, dan ternyata pintu dibukakan oleh ratu peri muda yang cantik, berpakaian bunga-bunga hidup. Tapi, sebelum mereka bisa mengatakan sesuatu, wanita itu bangkit dengan ringan, melompati bejana-bejana bunga lili, dan berlari sambil tertawa ke arah mereka; saat ia berlari, gaunnya berbunyi gemersik perlahan, seperti angin di semak-semak berbunga di tepi sungai.
"Mari, kawan-kawan yang baik!" katanya, memegang tangan Frodo. "Tertawalah dan bersuka rialah! Aku Goldberry, putri Sungai." Lalu dengan ringan ia melewati mereka, menutup pintu lalu memunggunginya, kedua lengannya yang putih terbentang di depannya. "Biarlah sang malam kita kunci di luar!" katanya. "Sebab kalian mungkin masih takut kepada kabut, bayangan pohon, air yang dalam, dan makhluk-makhluk liar. Jangan takut! Karena malam ini kalian ada di bawah atap Tom Bombadil."
Para hobbit menatapnya keheranan; ia memandang mereka masing-masing, dan tersenyum. "Nova cantik Goldberry!" akhirnya Frodo berkata, hatinya terharu, dipenuhi kebahagiaan yang tidak dipahaminya. Ia berdiri seperti kalau sedang tersihir oleh suara-suara indah kaum Peri; tapi sihir kali ini berbeda: kegembiraannya tidak begitu tajam dan agung, tapi lebih dalam dan lebih dekat kepada hati makhluk hidup; indah, tapi tidak aneh. "Nona cantik Goldberry!" ia berkata lagi. "Kini kegembiraan yang tersembunyi di dalam lagu-lagu itu menjadi jelas bagiku.
Oh ramping bagai tongkat willow! Oh sehalus bunga rampai!
Oh alang-alang di telaga hidup! Si cantik putri Sungai!
Oh musim semi dan musim panen, musim semi lagi bergantian!
Oh angin di atas air terjun, dan bunyi tawa dedaunan!

Mendadak ia berhenti dan tergagap, tercengang mendengar dirinya mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi Goldberry tertawa.
"Selamat datang!" katanya. "Aku tak pernah mendengar para hobbit bermulut manis seperti itu. Tapi kulihat kau sahabat kaum Peri; cahaya matamu dan nada suaramu mengungkapkannya. Ini pertemuan gembira! Duduklah dan tunggulah Tuan rumah ini! Dia takkan lama. Dia sedang merawat hewan-hewan kalian yang letih."
Para hobbit dengan senang hati duduk di kursi-kursi pendek beralaskan anyaman rumput, sementara Goldberry menyibukkan diri di meja; mata mereka mengikutinya, karena keluwesan gerakannya memenuhi mereka dengan_ kebahagiaan yang menenteramkan. Dari belakang rumah terdengar nyanyian. Sekali-sekali, di antara banyak kata derry dol dan gembira dol dan dering a ding dillo, mereka menangkap kata-kata yang diulang-ulang:
Tom Bombadil tua orang yang periang;
Jaketnya biro cerah, sepatu botnya kuning terang.

"Nona cantik!" kata Frodo lagi setelah beberapa saat. "Katakan kalau pertanyaanku tidak bodoh, siapakah Tom Bombadil?"
"Dia," kata Goldberry, menahan gerakannya yang cepat, dan tersenyum.
Frodo memandangnya dengan ekspresi bertanya. "Dia, seperti yang kaulihat," kata Goldberry, sebagai jawaban atas ekspresi wajahnya. "Dia Penguasa hutan, air, dan bukit."
"Jadi, seluruh negeri aneh ini miliknya?"
"Bukan!" jawab Goldberry, dan senyumnya lenyap. "Itu akan sangat menjadi beban," tambahnya dengan suara rendah, seolah pada dirinya sendiri. "Pohon-pohon dan rumput, dan semua makhluk yang tumbuh atau hidup di negeri ini, adalah milik diri mereka sendiri. Tom Bombadil adalah Penguasa. Belum pernah ada yang menangkap Tom tua bila dia berjalan di hutan, di dalam air, melompat di atas puncak-puncak bukit pada sung dan malam hari. Dia tak kenal takut. Tom Bombadil adalah Penguasa."
Sebuah pintu membuka, dan Tom Bombadil masuk. Sekarang ia tidak memakai topi, rambut cokelatnya yang tebal dimahkotai daun-daun musim gugur. Ia tertawa, mendekati Goldberry dan memegang tangannya.
"Inilah istriku yang cantik!" ia berkata sambil membungkuk kepada para hobbit. "Inilah Goldberry-ku, berpakaian hijau keperakan, dengan bunga-bunga di korsetnya! Apakah meja makan sudah penuh? Aku melihat krim kuning dan madu, roti putih dan mentega; susu, keju, rempah-rempah hijau, dan berry yang matang sudah terkumpul. Apakah itu cukup untuk kita? Apakah makan malam sudah siap?"
"Sudah," kata Goldberry, "tapi mungkin tamu-tamu belum siap?"
Tom bertepuk tangan dan berseru, "Tom! Tom! Tamu-tamumu lelah dan kau hampir lupa! Mari, kawan-kawan, Tom akan menyejukkan kalian! Kalian akan membersihkan tangan yang berdebu, dan membasuh wajah yang letih; melepaskan jubah yang berlumpur, dan menyisir rambut yang kusut!"
Ia membuka pintu, mereka mengikutinya melewati selasar pendek dan membelok tajam. Mereka tiba di sebuah kamar rendah dengan atap miring (rupanya sebuah penthouse, dibangun pada sisi utara rumah itu). binding-dindingnya dari batu bersih, tapi sebagian besar tertutup tikar-tikar hijau yang menggantung dan tirai kuning. Ada empat kasur tebal, masing-masing dengan tumpukan selimut putih, diletakkan di lantai sepanjang satu sisi. Pada dinding seberang ada bangku panjang dengan mangkuk tanah fiat lebar, dan di sampingnya berdiri kendi-kendi cokelat berisi air, beberapa dingin, beberapa papas beruap. Sandal-sandal lembut berwarna hijau disiapkan di samping setiap tempat tidur.
Tak lama kemudian, sesudah mandi dan segar, hobbit-hobbit duduk di depan meja, dua pada setiap sisi, sedangkan di masing-masing ujung meja duduk Goldberry dan sang Tuan. Makan malam berlangsung lama dan gembira. Meski para hobbit makan dengan lahap, makanan tidak kurang. Minuman di gelas mereka tampak seperti air jernih dan sejuk, tapi memabukkan seperti anggur dan membuat mereka banyak bersuara. Tamu-tamu mendadak menyadari bahwa mereka sedang bernyanyi gembira, seolah menyanyi lebih mudah dan lebih wajar dilakukan daripada berbicara.
Akhirnya Tom dan Goldberry bangkit dan membereskan meja dengan cepat. Para tamu disuruh duduk diam, dan ditempatkan di kursi-kursi, masing-masing dengan bangku kaki untuk kaki mereka yang lelah. Api menyala di perapian lebar di depan, menguarkan bau manis, seolah membakar kayu apel. Ketika semuanya sudah beres, semua lampu di ruangan itu dipadamkan, kecuali satu lampu dan sepasang lilin di setiap pojok rak cerobong asap. Lalu Goldberry datang dan berdiri di depan mereka, memegang lilin; ia mengucapkan selamat malam dan tidur nyenyak.
"Tenteramlah sekarang," katanya, "sampai pagi! Jangan hiraukan bunyi-bunyi malam hari! Sebab di sini tak ada yang bisa masuk lewat pintu dan jendela, kecuali sinar bulan dan bintang, dan angin dari atas bukit. Selamat malam!" ia keluar dari ruangan itu, sosoknya berkilauan dan berdesir. Langkah kakinya seperti bunyi aliran sungai yang mengalir lembut menuruni bukit, melalui batu-batu sejuk di keheningan malam.
Tom duduk sejenak bersama mereka dalam keheningan, sementara masing-masing berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengajukan salah satu pertanyaan yang tadi hendak mereka kemukakan saat makan malam. Kantuk menekan kelopak mata. Akhirnya Frodo berbicara, "Apakah kau mendengar aku berteriak, Master, atau kebetulan saja kau lewat saat itu?"
Tom seolah terbangun dari mimpi yang menyenangkan. "Eh, apa?" katanya. "Apakah aku mendengarmu berteriak? Tidak, aku tidak dengar: aku sibuk bernyanyi. Kebetulan saja aku datang, kalau kau menyebutnya kebetulan. Bukan rencanaku, meski aku memang menunggu kalian. Aku mendengar kabar tentang kalian, dan tahu kalian sedang mengembara. Kami menduga kalian akan datang ke air tidak lama lagi: semua jalan menuju ke sana, turun ke Withywindle. Si Willow Tua Kelabu, dia penyanyi hebat; sulit bagi orang-orang kecil untuk lepas dari belitan-belitannya yang simpang-siur. Tapi Tom ada urusan di sana, dan dia tidak berani merintangi." Tom mengangguk, seolah kantuk menyerangnya lagi; tapi ia melanjutkan dengan suara bernyanyi lembut:
Aku perlu ke sana: memetik lili air,
dedaunan hijau dan bunga lili, 'tuk menyenangkan istriku nan cantik,
bunga-bunga terakhir sebelum tahun ini berakhir, agar terhindar dari musim dingin,
'tuk berkembang di dekat kakinya yang manis, sampai salju mencair.
Tiap tahun di akhir musim panas aku pergi mencarinya untuk dia,
di telaga besar, dalam dan jernih, jauh di Withywindle;
di sana mereka mekar lebih dulu di musim semi, dan hidup lebih lama.
Dekat telaga itu dulu kutemukan sang putri Sungai,
Goldberry muda nan cantik, duduk di antara rerumputan.
Indah nyanyiannya saat itu, dan jantungnya berdebar!

Ia membuka matanya dan memandang mereka dengan kilatan biru yang muncul tiba-tiba:
Dan beruntunglah kalian-sebab sekarang aku takkan lagi
pergi ke sana, menyusuri sungai di hutan,
tidak saat tahun hampir usai. Dan aku pun takkan lewat
rumah si Tua Willow saat musim semi baru dimulai,
tidak sampai musim semi ceria, saat putri Sungai
menari lewat jalan willow 'tuk mandi di dalam air

Ia kembali diam; tapi Frodo masih mengajukan satu pertanyaan: Yang paling ingin ia ketahui jawabannya. "Ceritakan pada kami, Master," kata Frodo, "tentang si Willow. Siapa dia? Aku belum pernah dengar tentang dia."
"Tidak, jangan!" kata Merry dan Pippin bersamaan, dan mendadak duduk tegak. "Jangan sekarang! Besok pagi saja!" "Itu benar!" kata pria tua itu. "Sekarang waktunya istirahat. Ada hal-hal yang tidak baik didengar saat dunia sudah diselubungi kegelapan. Tidurlah sampai pagi terang, bersandarlah pada bantal! Jangan hiraukan bunyi-bunyian malam! Jangan takut pada willow kelabu!" Setelah itu ia menurunkan lampu dan memadamkannya, dan sambil membawa satu lilin di masing-masing tangannya, ia menuntun mereka keluar dari ruangan itu.
Kasur-kasur dan bantal mereka lembut seperti bulu angsa, dan selimut-selimut terbuat dari wol putih. Baru saja membaringkan diri di ranjang empuk dan menarik selimut menutupi tubuh, mereka Ian-sung tertidur.

Di larut malam, Frodo berbaring dalam mimpi, tanpa cahaya. Lain ia melihat bulan muda timbul; di bawah sinarnya yang redup, di depannya berdiri sebuah tembok hitam dari batu-batuan, ditembus sebuah lubang melengkung seperti gerbang besar. Frodo merasa diangkat, dan ketika lewat di atasnya, ia melihat tembok batu itu adalah lingkaran bukit, di dalamnya ada lapangan, dan di tengahnya berdiri sebuah batu berpuncak, seperti menara besar, tapi bukan buatan tangan. Di puncaknya berdiri sosok seorang laki-laki. Bulan yang naik seolah menggantung sejenak di atas kepalanya, dan berkilauan di rambutnya yang putih ketika angin meniupnya. Dari lapangan gelap di bawah terdengar teriakan-teriakan jahat, dan lolongan kawanan serigala. Tiba-tiba sebuah bayangan gelap berbentuk sayap besar melintas di depan bulan. Sosok itu mengangkat tangannya, dan seberkas cahaya berkeredap dari tongkat yang dipegangnya. Seekor rajawali besar menukik ke bawah dan membawanya pergi. Suara-suara itu meraung dan serigala-serigala melolong. Ada bunyi embusan angin keras, dan bersamanya terdengar pula bunyi langkah kaki kuda, menderap, menderap, menderap dari Timur. "Para Penunggang Hitam!" pikir Frodo .. ketika terbangun; bunyi derap kaki kuda itu masih bergema dalam benaknya. Ia bertanya-tanya, apakah ia masih punya keberanian untuk meninggalkan tembok-tembok batu yang aman ini. Ia berbaring tak bergerak, masih mendengarkan; tapi kini semuanya diam. Akhirnya ia membalikkan badan dan tertidur lagi, atau mengembara ke dalam mimpi yang -kelak tak bisa diingatnya lagi.
Di sebelahnya Pippin tidur dengan nyaman; tapi mimpinya mulai berubah, dan ia pun membalikkan badan sambil mengerang. Tiba-tiba " ia terjaga, atau mengira ia terjaga; meski begitu, dalam kegelapan ia masih mendengar bunyi yang mengganggu mimpinya: tip-tap, keriut: bunyi seperti dahan-dahan bergetar kena angin, jari-jari ranting menggesek tembok dan jendela: keriut, keriut, keriut. Ia bertanya dalam hati, apakah ada pohon-pohon willow dekat rumah; tiba-tiba muncul perasaan mengerikan bahwa ia sama sekali bukan berada di dalam rumah biasa, tapi di dalam batang willow lagi, mendengarkan suara keriut mengerikan yang menertawakannya. Ia duduk tegak, dan merasa bantal-bantal lembut mengikuti tekanan tangannya, maka ia berbaring kembali dengan lega. Di telinganya seakan-akan ada yang membisikkan, "Jangan takut! Tenteramlah sampai pagi! Jangan hiraukan bunyi-bunyian malam!" Lalu ia tertidur lagi.
Merry mendengar bunyi air dalam tidurnya yang tenang: air yang mengalir dengan lembut, lain menyebar, menyebar tak terelakkan di sekeliling rumah, menjadi telaga gelap tak berpantai. Airnya menggeluguk di bawah tembok, dan perlahan tapi pasti semakin naik. "Aku akan tenggelam!" pikirnya. "Air akan masuk, dan aku akan tenggelam." ia merasa sedang terbaring di tanah berlumpur lembek dan basah, lain sambil melompat bangkit ia meletakkan kakinya di sudut sebuah batu ubin yang keras dan dingin. Kemudian ia ingat berada di mana, dan berbaring kembali. Ia seolah mendengar atau ingat mendengar, "Tak ada yang bisa masuk lewat pintu atau jendela, kecuali sinar bulan dan bintang, dan angin dari alas bukit." Embusan lembut udara segar menggerakkan tirai. Merry menarik napas panjang dan tertidur lagi.
Sejauh yang diingatnya, Sam tidur nyenyak sepanjang malam, bagai batang kayu yang diam (kalau batang kayu bisa nyenyak).

Keempatnya bangun bersamaan di pagi hari. Tom sedang mondar-mandir di dalam ruangan, bersiul-siul seperti burung jalak. Ketika mendengar mereka bergerak, ia menepukkan tangannya dan berseru, "Hei! Kemari gembira dol! derry dol! Sayangku!" ia menyibakkan tirai-tirai kuning, dan para hobbit melihat tirai-tirai itu menutupi jendela di setiap ujung ruangan, satu menghadap ke timur dan satu lagi ke barat.
Mereka melompat bangkit dengan perasaan segar. Frodo berlari ke Jendela sebelah timur, dan melihat sebuah kebun dapur yang kelabu ditutupi embun. Ia setengah berharap melihat lempengan tanah kering Pada tembok, tanah yang penuh jejak kaki kuda. Sebenarnya pandangannya tertutup oleh barisan buncis pada tiang-tiang tinggi; tapi di atas, dan jauh di seberang, puncak bukit yang kelabu berdiri di depan matahari terbit. Pagi itu pucat: di Timur, di belakang awan-awan panjang seperti garis-garis wol kotor bernoda merah pada tepiannya, muncul nada-nada kuning kemilau. Sepertinya bakal turun hujan; tapi cahaya menyebar dengan cepat, dan bunga-bunga buncis xyang merah mulai berkilauan di depan daun-daun hijau yang basah.
Pippin memandang ke luar dari jendela barat, ke dalam genangan kabut. Forest tersembunyi dalam kabut. Rasanya seperti memandang dari atas ke suatu atap awan miring. Ada sebuah lipatan atau saluran di mana kabut terpecah ke dalam banyak gelombang dan riak; lembah Withywindle. Sungai mengalir menuruni bukit di sebelah kiri, dan lenyap ke dalam bayang-bayang putih. Lebih dekat ada kebun bunga dan pagar tanaman yang dipangkas, tertutup jaringan embun keperakan; di seberangnya ada hamparan rumput yang sudah dipangkas, berwarna kelabu pucat berembun. Tidak ada pohon willow di dekat situ.
"Selamat pagi, kawan-kawanku yang ceria!" seru Tom, membuka lebar-lebar jendela timur. Udara sejuk mengalir masuk; berbau hujan. "Matahari tidak akan banyak menunjukkan wajahnya hari ini kukira. Aku sudah berjalan ke mana-mana, melompat di puncak-puncak bukit, sejak fajar kelabu menyingsing, mencium angin dan cuaca, rumput basah di bawah kaki, langit basah di atasku. Kubangunkan Goldberry sambil bernyanyi di bawah jendela; tapi tak ada yang bisa membangunkan para hobbit di pagi hari. Di malam hari, makhluk-makhluk kecil bangun dalam kegelapan, dan tidur setelah hari terang! Dering a ding dillo! Bangunlah sekarang, kawan-kawanku yang riang! Lupakan bunyi-bunyian madam! Dering-a ding dillo del! Derry del, sayangku! Kalau kalian cepat datang, kalian akan menemukan sarapan di meja. Kalau terlambat, kalian akan mendapat rumput dan air hujan!"
Para hobbit segera datang-bukan karena ancaman Tom kedengaran serius-dan meninggalkan meja siang sekali, setelah meja itu kelihatan agak kosong. Baik Tom maupun Goldberry tidak berada di sana. Tom kedengaran sibuk di sekitar rumah, gemerincing di dapur, naik-turun tangga, dan bernyanyi di sana-sini di luar. Ruangan itu menghadap ke barat, dengan pemandangan ke lembah yang tertutup kabut, dan jendelanya terbuka. Air menetes dari atap jerami di atas. Sebelum mereka selesai sarapan, awan-awan sudah menyatu menjadi atap tak terputus, dan hujan kelabu turun rintik-rintik terus-menerus. Forest sama sekali tertutup di belakang tirai hujan.
Ketika mereka memandang ke luar jendela, suara jernih Goldberry yang bernyanyi di atas mereka mengalir lembut, seolah jatuh bersama hujan dari langit. Mereka tidak bisa banyak menangkap kata-katanya, tapi tampaknya jelas itu sebuah lagu hujan, semanis curah hujan di alas bukit-bukit kering, yang menceritakan kisah sebuah sungai yang mengalir dari mata air di dataran tinggi ke Laut jauh di bawah. Para hobbit mendengarkan dengan senang; Frodo merasa bahagia, dan mensyukuri cuaca yang ramah, karena keberangkatan mereka jadi tertunda. Sejak bangun ia merasa berat hati harus pergi dari sini; tapi sekarang ia menduga mereka takkan bisa melanjutkan perjalanan hari itu.

Angin bercokol di Barat, awan-awan yang lebih tebal dan basah bergulung-gulung untuk menjatuhkan muatan hujan mereka ke atas tanah gundul Downs. Tak ada yang terlihat di sekeliling rumah, kecuali curahan air hujan. Frodo berdiri dekat pintu yang terbuka, memperhatikan jalan setapak putih berubah menjadi sungai kecil berwarna susu dan mengalir penuh buih ke lembah. Tom Bombadil datang melompat-lompat mengelilingi sudut rumah, sambil melambaikan tangannya seolah menahan hujan-dan memang ketika melompati ambang pintu ia kelihatan kering, kecuali sepatu botnya. Ia melepaskan sepatunya dan meletakkannya di sudut cerobong asap. Lalu ia duduk di kursi terbesar dan memanggil para hobbit berkumpul di dekatnya.
"Ini hari Goldberry mencuci," katanya, "dan pembersihan untuk musim gugur. Terlalu basah untuk makhluk hobbit biarkan mereka istirahat selama masih sempat! Ini hari yang baik untuk cerita-cerita panjang, untuk tanya jawab, jadi Tom akan mulai bicara."
Lalu ia menceritakan kisah-kisah luar biasa, kadang-kadang seolah berbicara pada dirinya sendiri, kadang-kadang menatap mereka tiba-tiba dengan mata biru cerah di bawah alisnya yang tebal. Sering kali suaranya berubah menjadi nyanyian, lalu ia keluar dari kursinya dan menari-nari. Ia menceritakan kisah-kisah tentang kumbang dan bunga, adat pepohonan, dan makhluk-makhluk ajaib di Forest, tentang makhluk-makhluk jahat dan baik, makhluk-makhluk ramah dan tidak ramah, makhluk-makhluk kejam dan yang baik hati, dan rahasia-rahasia yang disembunyikan di bawah semak-semak.
Saat mendengarkan, mereka mulai memahami kehidupan Forest, terlepas dari diri mereka, bahkan merasa menjadi orang asing di tempat yang bagi semua makhluk lain terasa seperti di rumah sendiri. Yang banyak keluar-masuk kisah-kisah Tom adalah si Tua Willow, dan perasaan ingin tahu Frodo jadi cukup terpuaskan, bahkan lebih dari cukup, karena kisah itu tidaklah menyenangkan. Dalam ceritanya, Tom menyingkap habis isi hati pohon-pohon dan pikiran mereka, yang sering kali gelap dan aneh dan dipenuhi kebencian pada semua makhluk yang bergerak bebas di bumi mengunyah, menggigit, memecahkan, memotong, membakar: perusak dan perampas kekuasaan. Bukan tanpa sebab tempat itu disebut Old Forest, karena ia memang kuno, bertahan di antara hutan-hutan lebat yang terlupakan; dan di dalamnya tinggal ayah-ayah dari ayah-ayah pepohonan, tidak lebih cepat tua daripada bukit-bukit, dan mereka ingat masa ketika mereka menjadi penguasa. Tahun-tahun tak terhitung banyaknya memenuhi hati mereka dengan keangkuhan dan kebijakan yang berakar, dan dengan kedengkian. Tapi tidak ada yang lebih berbahaya daripada si Willow Besar: hatinya busuk, tapi kekuatannya masih segar; dan ia cerdik, menguasai angin, nyanyian dan pikirannya menyebar melalui hutan di kedua sisi sungai. Rohnya yang kelabu dan haus menarik kekuatan dari dalam bum, menyebar seperti benang akar halus di dalam tanah, serta jari-jari ranting yang tak tampak di udara, sampai ia menguasai hampir semua pepohonan di Forest, mulai dari Hedge/High Hay sampai Downs.
Mendadak pembicaraan Tom beralih dari hutan ke sungai segar, melewati air terjun bergelembung, batu-batu, dan karang tua, menyelinap di antara bunga-bunga kecil di tengah rumput rapat dan celah-celah basah, akhirnya mengembara naik ke Downs. Mereka mendengar tentang Great Barrows, bukit-bukit hijau, dan lingkaran-lingkaran batu di atas bukit serta di lembah di antara perbukitan. Domba-domba mengembik dalam gerombolan. Tembok-tembok hijau dan putih berdiri menjulang. Ada benteng-benteng di puncak-puncak bukit. Raja-Raja dari kerajaan-kerajaan kecil berjuang bersama, dan Matahari yang masih muda bersinar bagaikan api di logam merah pedang mereka yang masih baru dan haus darah. Ada kemenangan dan kekalahan; menara-menara jatuh, benteng-benteng dibakar, dan nyala api membubung ke langit. Emas ditumpuk di atas tandu jenazah raja-raja dan ratu-ratu; gundukan tanah menutupi mereka, dan pintu-pintu batu tertutup; rumput tumbuh di atas semuanya. Domba-domba berjalan beberapa lama, menggigiti rumput, tapi dengan segera bukit-bukit itu kosong lagi. Sebuah bayangan datang dari tempat-tempat gelap yang jauh sekali, dan tulang-belulang bergerak di bawah gundukan tanah. Hantu-hantu Barrow-wight berjalan di tempat-tempat cekung dengan denting cincin pada jemari yang dingin, dan rantai emas di dalam angin. Cincin-cincin batu menyeringai dari dalam tanah, seperti gigi patah di bawah sinar bulan.
Para hobbit menggigil. Bahkan di Shire selentingan tentang Barrow-wight di Barrow-downs di luar Forest sudah terdengar. Tak ada hobbit yang senang mendengar kisah itu, meski di dekat perapian nyaman yang jauh sekalipun. Mendadak keempat hobbit itu ingat apa yang selama ini terusir dari benak mereka, karena kebahagiaan gal di rumah itu: rumah Tom Bombadil bersandar di bawah bukit-bukit menakutkan itu. Mereka mulai kehilangan konsentrasi mendengar cerita Tom, dan mulai bergerak-gerak gelisah sambil saling pandang.
Ketika mereka mendengar lagi kata-katanya, ternyata ia sudah mengembara masuk ke wilayah di luar ingatan mereka, dan di luar pikiran sadar mereka, ke masa-masa ketika dunia lebih luas, dan lautan-lautan mengalir langsung ke Pantai barat; dan Tom masih terus bernyanyi ke masa yang lebih jauh, sampai ke sinar bintang purbakala, ketika hanya kaum Peri yang terjaga. Lalu mendadak ia berhenti, dan mereka melihat ia mengangguk-angguk, seolah sedang bermimpi. para hobbit duduk diam di depannya, terpukau; angin sudah berhenti bertiup, seperti tersihir oleh 'kata-katanya, awan-awan mengering, terang sudah berakhir, dan kegelapan datang dari Timur dan Barat; seluruh langit bertaburan cahaya bintang-bintang putih.
Apakah pagi dan sore yang berlalu itu hanyalah pagi dan sore satu hari, atau beberapa hari, Frodo tidak tahu. Ia tidak merasa lapar atau lelah, hanya dipenuhi kekaguman. Bintang-bintang bersinar melalui jendela, dan keheningan angkasa seolah mengelilinginya. Akhirnya ia berbicara tentang keheranannya, dan ketakutan yang muncul mendadak akibat keheningan itu,
"Siapakah kau, Master?"
"Eh, apa?" kata Tom sambil duduk tegak, matanya berkilauan dalam kegelapan. "Bukankah kalian sudah tahu namaku? Hanya itu jawaban satu-satunya. Kau sendiri siapa? Sendirian dan tak bernama? Tapi kau masih muda dan aku sudah tua. Paling Tua, itulah aku. Camkan kata-kataku, kawan-kawan: Tom sudah ada sebelum sungai dan pohon-pohon; Tom ingat tetes hujan pertama dan biji pohon ek pertama. Dia membuat jalan-jalan sebelum Makhluk-Makhluk Besar ada, dan dia melihat orang-orang kecil datang. Dia sudah ada sebelum Raja-Raja dan kuburan dan Barrow-wight. Ketika para Peri sudah pergi ke barat, Tom sudah ada di sini, sebelum lautan melengkung. Dia tahu kegelapan di bawah bintang-bintang, ketika kegelapan itu masih belum mengenal ketakutan-sebelum Penguasa Kegelapan datang dari Luar."
Sebuah bayangan seolah melewati jendela, dan para hobbit den-an cepat melirik ke luar. Ketika mereka membalikkan badan lagi, Goldberry sudah berdiri di ambang pintu di belakang, bermandikan cahaya. Ia memegang lilin, menutupi nyalanya dari angin dengan tangannya; cahaya lilin itu mengalir menembusnya, seperti cahaya matahari mengenai sebuah kerang putih.
"Hujan sudah berhenti," katanya, "dan air segar mengalir turun di bawah sinar bintang. Sekarang mari kita tertawa dan bersenang-senang!
"Dan mari makan dan minum!" seru Tom. "Kisah-kisah panjang
membuat orang haus. Dan mendengarkan cerita panjang membuat I kita lapar, pagi, siang, dan malam!" Sambil berkata demikian, ia me- lompat ban-kit dari kursinya; dengan saw loncatan ia mengambil lilin dari atas rak cerobong asap dan menyalakannya dalam api yang dipegang Goldberry; lalu ia menari-nari mengelilingi me ja. Tiba-tiba ia melompat keluar dari pintu dan menghilang.
Dengan segera ia kembali, membawa baki besar berisi penuh makanan. Lalu Tom dan Goldberry menata meja; para hobbit duduk setengah heran dan setengah tertawa: begitu indah keluwesan Goldberry, begitu riang dan aneh lonjakan-lonjakan Tom. Meski begitu, mereka seolah menjalin suatu tarian tunggal, tanpa saling mengganggu, masuk dan keluar ruangan, dan seputar meja; dengan sangat cepat makanan, kendi-kendi, serta lampu sudah ditata. Panggung menyala terang oleh lilin, putih dan kuning. Tom membungkuk kepada tamu-tamunya. "Makan malam sudah siap," kata Goldberry; sekarang para hobbit melihat ia berpakaian warna perak seluruhnya, dengan korset putih, dan sepatunya seperti jaring ikan. Tapi Tom berpakaian biru polos, biru seperti bunga forget-me-not yang tersiram hujan, dan stokingnya hijau.

Makan malam itu bahkan lebih lezat daripada sebelumnya. Di bawah sihir kata-kata Tom, mungkin para hobbit sudah kehilangan satu atau banyak hidangan, tapi ketika makanan disajikan di depan mereka, rasanya sudah saw minggu sejak mereka terakhir makan. Mereka tidak bernyanyi atau bahkan berbicara banyak untuk beberapa saat, dan hanya memusatkan perhatian pada makanan. Tapi setelah beberapa saat semangat mereka bangkit kembali, dan suara mereka nyaring oleh keriangan dan tawa.
Setelah mereka makan, Goldberry menyanyikan banyak lagu untuk mereka; lagu-lagu yang dimulai dengan ceria di perbukitan, dan jatuh dengan lembut ke dalam keheningan; dan dalam keheningan itu terbayang dalam benak mereka telaga-telaga dan lautan yang lebih Was daripada yang pernah mereka kenal, dan ketika mereka menengok ke dalamnya, mereka melihat langit di bawah sana dan bintang-bintang bagai berlian di kedalaman. Lalu sekali lagi Goldberry mengucapkan selamat tidur dan meninggalkan mereka dekat perapian. Tapi Tom kini benar-benar terjaga, dan menghujani mereka dengan pertanyaan.
Rupanya ia sudah tahu banyak tentang mereka dan semua keluarga mereka, bahkan tentang sejarah dan kejadian di Shire dari masa yang hampir tak bisa diingat oleh kaum hobbit sendiri. Mereka sudah tidak heran akan hal ini; tapi Tom tidak merahasiakan bahwa ia tahu semua hal tersebut terutama dari Petani Maggot, yang ia anggap sebagai orang yang lebih penting daripada yang diduga para hobbit. "Di bawah kakinya yang tua ada tanah, dan tanah hat pada jemarinya; ada kebijakan dalam tulang-tulangnya, dan kedua matanya terbuka lebar," kata Tom. Jelas Tom juga berurusan dengan para Peri, dan kelihatannya berita dari Gildor tentang pelarian Frodo sampai kepadanya.
Tom tahu begitu banyak, dan caranya bertanya cerdik sekali, sampai-sampai Frodo mendapati dirinya menceritakan lebih banyak tentang Bilbo, dan harapan-harapan serta ketakutannya sendiri, daripada yang pernah diceritakannya pada Gandalf. Tom mengangguk-anggukkan kepala, dan ada kilatan di matanya ketika ia mendengar tentang para Penunggang itu.
"Tunjukkan padaku Cincin berharga itu!" ia berkata tiba-tiba, di tengah-tengah cerita: dan Frodo, dengan penuh keheranan, mengeluarkan rantai dari dalam sakunya, dan setelah melepaskan ikatan Cincin, ia segera memberikannya pada Tom.
Cincin itu seolah membesar sejenak di tangan Tom yang besar dan berkulit cokelat. Mendadak ia mendekatkan Cincin itu. ke matanya, dan tertawa. Sekilas para hobbit melihat suatu pemandangan lucu sekaligus menakutkan, yaitu mata Tom yang biru cerah berkilauan melalui lingkaran emas. Lalu Tom memasang Cincin itu pada ujung jari kelingkingnya, dan mengangkatnya ke dekat nyala lilin. Untuk beberapa saat para hobbit tidak melihat sesuatu yang aneh. Lalu mereka menarik napas kaget. Tidak ada tanda-tanda Tom menghilang!
Tom tertawa lagi, lalu melempar Cincin itu ke udara-dan Cincin itu lenyap seketika. Frodo berteriak, Tom mencondongkan badan ke depan, mengembalikan Cincin itu sambil tersenyum.
Frodo mengamatinya dengan saksama, dan agak curiga (seperti orang yang baru saja meminjamkan perhiasan kepada seorang pesulap). Cincinnya masih sama, atau kelihatan sama, dan beratnya juga sama: karena bagi Frodo, Cincin itu selalu terasa berat di tangan. Tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk memastikan. Mungkin ia agak jengkel dengan Tom, karena Tom seolah menganggap enteng sesuatu yang bahkan oleh Gandalf dianggap penting dan berbahaya. Frodo menunggu kesempatan. Ketika pembicaraan sedang berlanjut, dan Torn sedang menceritakan kisah konyol tentang luwak dan tingkah lakunya yang aneh, Frodo menyelipkan Cincin itu di jarinya.
Merry berbalik kepadanya untuk mengatakan sesuatu, dan terkejut, nyaris terpekik. Frodo cukup senang: cincin ini memang cincinnya, karena Merry memandang kosong ke kursinya, dan jelas tak bisa melihatnya. Frodo bangkit berdiri, dan diam-diam menjauh dari api, menuju pintu luar.
"Hei, kau!" teriak Tom, melirik ke arahnya dengan pandangan tahu dalam matanya yang- bersinar-sinar. "Hei! Frodo! Kemari! Kau mau ke mana? Torn Bombadil tua belum buta. Lepaskan cincin emasmu! Tanganmu lebih indah tanpa dia. Kembalilah! Tinggalkan permainanmu dan duduklah di sampingku! Kita perlu berbicara lebih lama lagi, dan memikirkan pagi hari. Tom harus mengajarkan jalan yang benar, dan menahan kaki kalian dari pengembaraan."
Frodo tertawa (sambil mencoba merasa puas), dan sambil melepaskan Cincin, ia kembali duduk. Kata Tom, ia menduga besok matahari akan bersinar, besok pagi akan menyenangkan, dan berangkat besok akan banyak membawa harapan. Tapi sebaiknya mereka berangkat pagi-pagi, karena cuaca di negeri itu tidak begitu bisa dipastikan untuk jangka lama, bahkan oleh Tom sekalipun, dan kadang-kadang bisa berubah lebih cepat sebelum ia bisa mengganti jaketnya. "Aku bukan ahli cuaca," katanya, "begitu pula semua makhluk lain yang berjalan dengan dua kaki."
Mengikuti nasihatnya, mereka memutuskan pergi agak ke arah utara dari rumah Tom, melalui lereng barat Downs yang lebih rendah: dengan demikian, mereka bisa berharap bertemu Jalan Timur dalam satu hari perjalanan, dan menghindari Barrows. Tom mengatakan mereka tak perlu takut-dan jangan ikut campur urusan orang lain.
"Tetaplah di atas rumput hijau. Jangan mencampuri urusan batu-batu kuno atau Wight yang dingin, atau mengorek-ngorek rumah mereka, kecuali kalau kalian orang-orang kuat dengan hati yang tak pernah bimbang!" ia mengatakan itu lebih dari sekali; dan ia menasihati mereka untuk melewati barrows di sisi barat, kalau kebetulan berjalan dekat salah satu. Lalu ia mengajari mereka suatu sajak untuk dinyanyikan, kalau kebetulan nasib sial membuat mereka jatuh ke dalam bahaya atau kesulitan.

Ho! Tom Bombadil, Tom Bombadillo!
Dekat air, hutan, dan bukit, di alang-alang dan willow,
Dekat api, matahari, dan bulan, dengar sekarang, dengarkanlah!
Kami membutuhkanmu, Tom Bombadil, datanglah!

Ketika mereka selesai menyanyi mengikutinya, Tom menepuk bahu mereka masing-masing sambil tertawa, dan sambil membawa lilin-lilin. Ia menuntun mereka kembali ke kamar tidur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar