Sumbangan / Donate

Donate (Libery Reserve)


U5041526

Kamis, 14 Oktober 2010

Bab 1

PESTA YANG DITUNGGU-TUNGGU

Ketika Mr. Bilbo Baggins dari Bag End mengumumkan bahwa dalam waktu dekat ia akan merayakan ulang tahunnya yang kesebelas puluh satu, dengan pesta besar gegap-gempita, di Hobbiton menyebar banyak desas-desus dan kegairahan.
Bilbo kaya-raya dan berwatak aneh. Selama enam puluh tahun ia menjadi keajaiban di wilayah Shire, semenjak ia menghilang dan mendadak kembali lagi. Harta kekayaan yang dibawanya dari lawatannya kini sudah menjadi legenda setempat, dan penduduk di sana percaya, meski apa pun yang dikatakan orang-orang tua, bahwa Bukit di Bag End penuh dengan terowongan-terowongan yang tumpah-ruah oleh harta karun. Dan bukan kekayaan itu saja yang membuat Bilbo tersohor, tetapi juga umur panjangnya menimbulkan kekaguman. Perjalanan waktu kelihatannya tidak banyak pengaruhnya pada Mr. Baggins. Di usia sembilan puluh, ia hampir sama saja dengan sewaktu berusia lima puluh. Ketika usianya menginjak sembilan puluh sembilan, mereka menyebutnya awet muda; namun mungkin lebih tepat dikatakan ia tak berubah. Beberapa orang menggelengkan kepala dan menganggap ini terlalu berlebihan; rasanya tidak adil bahwa ada orang yang (kelihatannya) bisa terus awet muda dan (kabarnya) punya kekayaan tak terhingga.
"Pasti ada harga yang mesti dibayar," kata mereka. "Itu tidak wajar, pasti nanti akan timbul kesulitan!"

Tapi sejauh itu tidak ada masalah; dan karena Mr. Baggins sangat dermawan dengan uangnya, kebanyakan orang mau memaafkan keanehan dan keberuntungannya. Ia bergaul baik dengan keluarganya (kecuali, tentu saja, keluarga Sackville-Baggins), dan ia mempunyai banyak pengagum setia di antara para hobbit dari keluarga-keluarga miskin dan kurang penting. Tap' ia tidak mempunyai sahabat-sahabat dekat, sampai beberapa keponakannya mulai tumbuh dewasa.
Yang tertua di antara mereka, dan yang paling disayang Bilbo, adalah Frodo Baggins muda. Saat Bilbo berusia sembilan puluh sembilan tahun, ia mengadopsi Frodo sebagai ahli warisnya, dan membawanya tinggal bersamanya di Bag End; maka pupuslah harapan keluarga Sackville-Baggins. Kebetulan ulang tahun Bilbo dan Frodo sama, 22 September. "Sebaiknya kau datang dan tinggal di sini, Frodo anakku," begitu kata Bilbo pada suatu hari, "jadi kita bisa merayakan pesta ulang tahun kita bersama-sama dengan nyaman." Saat itu Frodo masih berusia dua puluhan, sedang dalam masa tweens, selang antara masa kanak-kanak dan kedewasaan pada usia tiga puluh tiga.

Dua belas tahun berlalu sudah. Setiap tahun keluarga Baggins mengadakan pesta ulang tahun bersama yang cukup meriah di Bag End; tapi kini ternyata ada rencana pesta istimewa untuk musim gugur itu. Bilbo akan berumur sebelas puluh satu, 111, suatu angka yang ganjil, dan usia yang sangat terhormat untuk seorang hobbit (Old Took sendiri hanya berumur 130); dan Frodo akan berusia tiga puluh tiga, 33, angka penting: saatnya ia mencapai "kedewasaan".
Lidah-lidah mulai bergoyang ramai sekali di Hobbiton dan Bywater; desas-desus tentang pesta mendatang menyebar ke seluruh penjuru Shire. Riwayat dan watak Mr. Bilbo Baggins sekali lagi menjadi pokok pembicaraan utama, dan orang-orang yang sudah tua mendadak mendapati banyak orang ingin mendengar kisah-kisah lama mereka.
Yang paling banyak menarik perhatian pendengar adalah si tua Ham Gamgee, yang lebih dikenal sebagai si Gaffer (yang berarti Lelaki Tua). Ia berbicara di Semak Ivy, sebuah penginapan kecil di jalan Bywater; ia berbicara dengan agak sok, sebab sudah empat puluh tahun ia merawat kebun di Bag End, dan ia juga telah membantu si Holman tua dengan pekerjaan yang sama sebelum itu. Kini, setelah ia mulai tua dan sendi-sendinya sudah kaku, pekerjaannya lebih banyak dilakukan putra bungsunya, Sam Gamgee. Baik ayah maupun anak bersahabat dekat dengan Bilbo dan Frodo. Mereka tinggal di Bukit itu juga, di Bagshot Row Nomor 3, persis di bawah Bag End.
"Seperti sering kukatakan, Mr. Bilbo itu seorang hobbit terhormat yang sangat santun dan ramah," si Gaffer menyatakan. Memang benar Bilbo sangat sopan padanya, memanggilnya "Master Hamfast", dan selalu meminta nasihatnya tentang menanam sayur-sayuran-dalam masalah umbi-umbian, terutama kentang, si Gaffer diakui sebagai pakar terkemuka oleh semua orang di lingkungan itu (termasuk dirinya sendiri).
"Tapi bagaimana dengan si Frodo yang tinggal bersamanya?" tanya Old Noakes dari Bywater. "Memang nama belakangnya Baggins, tapi dia lebih dari separuh Brandybuck, kata orang. Aku tak mengerti kenapa seorang Baggins dari Hobbiton mencari istri jauh-jauh di Buckland, yang penduduknya aneh-aneh."
"Tidak heran mereka aneh," tambah Daddy Twofoot (tetangga si Gaffer), "sebab mereka tinggal di sisi yang salah dari Sungai Brandywine, persis berseberangan dengan Old Forest. Itu tempat yang gelap dan jahat, menurut cerita."
"Kau benar, Dad!" kata si Gaffer. "Memang kaum Brandybuck dari Buckland tidak tinggal di dalam Old Forest, tapi tampaknya mereka memang keturunan aneh. Mereka suka bermain-main dengan perahu di sungai besar itu-dan itu tidak wajar. Tidak heran kalau terjadi masalah, menurutku. Meski begitu, Mr. Frodo itu seorang hobbit muda yang sangat ramah. Sangat mirip Mr. Bilbo, dan bukan hanya dalam penampilannya. Bagaimanapun, ayahnya seorang Baggins. Mr. Drogo Baggins seorang hobbit sopan dan terhormat; tak banyak yang bisa diceritakan tentang dia, sampai dia tenggelam."
"Tenggelam?" terdengar beberapa suara. Mereka pernah mendengar tentang itu, dan berbagai selentingan menyeramkan lain, tapi kaum hobbit suka sekali mendengar tentang riwayat keluarga, dan mereka sudah siap mendengarkan lagi tentang yang satu ini.
"Ya, begitulah kata orang," kata si Gaffer. "Soalnya Mr. Drogo menikah dengan Miss Primula Brandybuck yang malang. Miss Primula itu sepupu pertama Mr. Bilbo dari pihak ibunya (ibunya adalah yang bungsu di antara putri-putri Old Took), dan Mr. Drogo sepupu kedua. Jadi, Mr. Frodo adalah sepupunya yang pertama dan kedua sekaligus, bersaudara sepupu dari kedua pihak, begitu sebutannya, kalau kalian paham. Waktu itu Mr. Drogo sedang tinggal di Brandy Hall dengan ayah mertuanya, Master Gorbadoc tua; ini sering dilakukannya setelah Pernikahannya (soalnya dia sangat suka makan, dan Gorbadoc tua itu sangat murah hati dengan makanan); lalu dia pergi naik perahu di Sungai Brandywine; dia serta istrinya tenggelam, sedangkan Mr. Frodo masih anak-anak, kasihan sekali."
"Kudengar mereka naik perahu setelah makan malam, di bawah sinar bulan," kata Old Noakes, "dan berat badan Drogo yang membuat perahunya karam."
"Aku mendengar istrinya yang mendorongnya ke dalam air, dan Drogo menariknya ikut masuk," kata Sandyman, tukang giling di Hobbiton.
"Seharusnya kau jangan percaya semua yang kaudengar, Sandyman," kata si Gaffer, yang tidak begitu menyukai tukang giling ini. "Tidak masuk akal segala omongan tentang mendorong dan menarik itu. Perahu memang pada dasarnya berbahaya, kalaupun orang-orang di dalamnya duduk diam tanpa banyak macam-macam. Pokoknya begitulah, Mr. Frodo menjadi anak yatim piatu, terdampar di antara kaum Bucklander yang aneh itu, diasuh di Brandy Hall. Tempat itu penuh sesak. Old Master Gorbadoc mengumpulkan tak kurang dari ratusan saudara di tempat itu. Mr. Bilbo benar-benar telah melakukan perbuatan mulia, membawa anak itu tinggal bersama masyarakat baik-baik.
"Tapi kurasa hal itu merupakan kejutan berat untuk kaum Sackville- Baggins. Mereka menyangka akan memperoleh Bag End, saat Mr. Bilbo pergi dan diduga sudah mati. Ternyata dia kembali dan menyuruh mereka pergi; lalu dia masih hidup terus, dan malah tidak pernah kelihatan bertambah tua! Lalu mendadak dia menyodorkan seorang pewaris, dan sudah mengurus semua surat-suratnya. Keluarga Sackville-Baggins takkan pernah masuk ke Bag End sekarang, mudah-mudahan begitu."
"Lumayan banyak uang yang disimpan di sana, begitulah yang kudengar," kata seorang asing, pendatang dari Michel Delving di Wilayah - Barat, yang sedang punya urusan bisnis. "Seluruh puncak bukit kalian penuh dengan terowongan berisi peti-peti penuh emas, perak, dan permata, begitulah yang kudengar."
"Kalau begitu, kau lebih banyak mendengar daripada yang aku tahu," jawab si Gaffer. "Aku sama sekali tidak tahu tentang permata, Mr. Bilbo royal sekali dengan uangnya, dan kelihatannya dia tidak kekurangan, tapi aku tidak tahu tentang terowongan apa pun. Aku bertemu Mr. Bilbo ketika dia kembali, sekitar enam puluh tahun yang lalu, saat aku masih remaja. Waktu itu aku belum lama membantu Holman tua (karena dia sepupu ayahku), tapi dia membawaku ke Bag End untuk membantunya menjaga kebun supaya tidak diinjak-injak dan dikacaukan orang-orang sementara penjualan sedang berlangsung. Di tengah-tengah itu semua, Mr. Bilbo datang mendaki Bukit dengan seekor kuda kecil, beberapa kantong yang sangat besar, dan beberapa peti. Aku tak ragu bahwa kebanyakan berisi harta yang diperolehnya di negeri-negeri asing, di mana ada gunung-gunung emas, kata orang; tapi harta itu tak cukup banyak untuk mengisi terowongan. Tapi putraku Sam pasti lebih banyak tahu tentang itu. Dia suka keluar-masuk Bag End. Dia keranjingan kisah-kisah zaman dulu, dan selalu mendengarkan semua cerita Mr. Bilbo. Mr. Bilbo yang mengajari Sam membaca-tanpa bermaksud buruk, camkan itu, dan kuharap tidak bakal timbul masalah karenanya.
"Peri dan Naga! kataku padanya. Kol dan kentang lebih baik buatmu dan buatku. Jangan mencampuri urusan majikanmu, atau kau akan mendapat masalah yang terlalu besar untukmu, begitulah kukatakan padanya. Dan itu boleh kukatakan pada yang lain-lain juga," tambah si Gaffer sambil memandang si orang asing dan si tukang giling.
Tetapi para pendengarnya tidak percaya. Legenda tentang kekayaan Bilbo sekarang sudah terpatri kuat dalam benak generasi muda kaum hobbit.
"Ah, tapi sekarang harta kekayaannya pasti sudah bertambah, lebih banyak daripada yang pertama kali dibawanya," debat si tukang giling, menyuarakan pendapat umum. "Dia sering pergi jauh. Dan lihatlah orang-orang aneh yang mengunjunginya: kurcaci-kurcaci datang di malam hari, dan penyihir pengembara itu, si Gandalf, dan sebagainya. Kau boleh omong sesukamu, Gaffer, tapi Bag End itu tempat yang aneh, dan penghuninya lebih aneh lagi."
"Dan kau juga boleh omong sesukamu, tentang apa yang tidak lebih banyak kauketahui daripada tentang urusan naik perahu itu, Mr. Sandyman," jawab si Gaffer dengan ketus, semakin tidak menyukai tukang giling itu. "Kalau itu kausebut aneh, ada lagi yang lebih aneh di sekitar sini. Ada orang-orang yang tinggalnya tidak terlalu jauh dari sini, yang tidak mau menawarkan segelas bir pada teman, walaupun mereka tinggal di dalam liang berdinding emas. Tapi di Bag End mereka mengikuti aturan kesopanan dengan baik. Sam bilang semua akan diundang ke pesta, dan akan ada hadiah-hadiah, camkan itu, hadiah untuk semuanya-bulan ini juga."

Bulan itu bulan September, dan cuacanya bagus sekali. Sekitar satu-dua hari kemudian, tersebar selentingan (mungkin dimulai oleh Sam yang sudah tahu) tentang akan adanya kembang api-kembang api yang belum pernah disaksikan lagi di Shire selama hampir lebih dari seabad, semenjak Old Took meninggal.
Hari-hari berlalu dan Hari H semakin dekat. Suatu sore, sebuah kereta aneh berisi bungkusan-bungkusan yang juga tampak aneh bergulir masuk ke Hobbiton, mendaki Bukit, menuju Bag End. Kaum hobbit yang tercengang mengintip melongo dari ambang-ambang pintu yang diterangi lampu. Kereta itu dikemudikan orang-orang aneh dan asing, yang menyanyikan lagu-lagu aneh: orang-orang kerdil dengan janggut-panjang dan kerudung lebar. Beberapa di antara mereka tetap tinggal di Bag End. Pada akhir minggu kedua bulan September, sebuah kereta datang melalui Bywater dari arah Jembatan Brandywine di siang hari bolong. Kereta itu dikemudikan oleh seorang lelaki tua. Ia memakai topi tinggi runcing berwarna biru, jubah panjang kelabu, dan selendang perak. Ia mempunyai 'an-gut panjang putih dan alis tebal panjang yang menjulur keluar dari bawah pinggiran topinya. Anak-anak hobbit kecil berlari-lari di belakang kereta sepanjang kota Hobbiton, sampai ke atas Bukit. Mereka menduga kereta itu bermuatan kembang api, dan ternyata benar. Di depan pintu masuk rumah Bilbo, orang tua itu mulai menurunkan muatannya: ada berkas-berkas besar kembang api dari segala macam bentuk dan jenis, masing-masing diberi label dengan huruf G merah besar dan huruf Peri.
Tentu saja itu lambang Gandalf, dan orang tua itu Gandalf sang Penyihir, yang di Shire tersohor karena kepiawaiannya dengan api, asap, dan cahaya. Pekerjaannya yang sebenarnya jauh lebih sulit dan berbahaya, tapi penduduk Shire tidak tahu-menahu tentang itu. Bagi mereka, Gandalf hanya salah satu "hiburan" pada acara pesta. Karena itulah gairah anak-anak hobbit menggebu-gebu. "G untuk Gede!" teriak mereka, dan pria tua itu tersenyum. Mereka kenal wajahnya, meski ia hanya sesekali muncul di Hobbiton dan tidak pernah tinggal lama; tetapi anak-anak itu maupun orang-orang lainnya-kecuali orang-orang tertua di antara para tetua mereka-belum pernah melihat pertunjukan kembang apinya, yang sudah menjadi legenda masa lalu.
Ketika pria tua itu selesai menurunkan muatannya, dibantu oleh Bilbo dan beberapa kurcaci, Bilbo membagi-bagikan uang receh; tapi tak satu pun petasan dibagikan, dan ini sangat mengecewakan para penonton.
"Pergilah sekarang!" kata Gandalf. "Nanti kalian akan mendapat banyak kembang api, kalau sudah waktunya." Lalu ia menghilang ke dalam bersama Bilbo, dan pintu ditutup. Para hobbit kecil itu memandangi pintu dengan sia-sia untuk beberapa saat, lalu pergi sambil memendam perasaan seakan-akan hari pesta takkan pernah datang.

Di dalam Bag End, Bilbo dan Gandalf duduk di sebuah ruangan kecil, di depan jendela terbuka yang menghadap pemandangan kebun di sebelah barat. Siang itu cerah dan damai. Bunga-bunga bersinar merah dan keemasan: snapdragon, bunga matahari, dan nasturtian merambati seluruh tembok tanah dan mengintip ke dalam jendela-jendela bundar.
"Kebunmu kelihatan cerah sekali!" kata Gandalf.
"Ya," kata Bilbo. "Memang aku sangat menyukai kebunku, dan bahkan seluruh Shire ini, tapi rasanya aku butuh liburan."
"Jadi, maksudmu kau akan tetap melaksanakan rencanamu?"
"Benar. Aku sudah mengambil keputusan itu beberapa bulan yang lalu, dan belum berubah pikiran."
"Baiklah. Tak perlu dibahas lagi. Tetaplah pada rencanamu-seluruh rencanamu, perhatikan itu-dan kuharap itu akan membawa manfaat terbaik bagimu, dan bagi kita semua."
"Kuharap begitu. Bagaimanapun, aku berniat menikmati hari Kamis nanti, dan melakukan kelakar kecilku."
"Siapa yang akan tertawa, ya?" kata Gandalf sambil menggelengkan kepala.
"Kita lihat saja nanti," kata Bilbo.

Hari berikutnya lebih banyak lagi kereta mendaki Bukit, lagi dan lagi. Mungkin ada pihak-pihak yang mengeluh tentang "transaksi setempat", tetapi minggu itu juga berbagai pesanan mulai mengalir dari Bag End untuk segala macam perbekalan, bahan-bahan pokok, atau kemewahan yang bisa diperoleh di Hobbiton, Bywater, atau di mana pun di lingkungan tersebut. Orang-orang mulai bergairah; mereka mulai menandai hari-hari di kalender, dan dengan penuh semangat mereka menunggu tukang pos, mengharapkan undangan.
Tak lama kemudian, undangan-undangan mulai mengalir, kantor pus Hobbiton kewalahan, dan kantor pos Bywater terendam surat, sampai-sampai asisten-asisten tukang pos relawan dipanggil. Aliran tukang pos seakan tak ada habisnya mendaki Bukit, membawa ratusan variasi sopan ucapan Terima kasih, aku pasti datang.
Di gerbang Bag End dipasang pengumuman: DILARANG MASUK, KECUALI UNTUK KEPERLUAN PESTA. Bahkan mereka yang ada urusan, atau pura-pura mempunyai Urusan Pesta, jarang diizinkan masuk. Bilbo sibuk sekali: menulis undangan, menandai jawaban, membungkus hadiah, dan membuat beberapa persiapan pribadi. Sejak kedatangan Gandalf, ia tak terlihat lagi.
Suatu pagi kaum hobbit bangun dan menemukan lapangan luas di sebelah selatan pintu masuk rumah Bilbo tertutup tambang dan tiang untuk tenda dan paviliun. Sebuah gerbang masuk khusus dibuat menembus bendungan yang menuju jalan, dan anak tangga lebar serta gerbang putih dibangun di sana. Ketiga keluarga hobbit di Bagshot Row, yang bersebelahan dengan lapangan itu, sangat tertarik dan dicemburui secara luas. Gaffer Gamgee bahkan berhenti pura-pura bekerja di kebunnya.
Tenda-tenda mulai berdiri. Ada sebuah paviliun istimewa, begitu besar sampai-sampai pohon yang tumbuh di lapangan itu ada di dalamnya, berdiri dengan bangga di dekat salah satu ujungnya, di kepala meja utama. Lentera-lentera digantung pada dahan-dahannya. Yang lebih menjanjikan lagi (dalam benak hobbit): sebuah dapur terbuka yang luar biasa besar dibangun di pojok utara lapangan. Sederet tukang masak, dari setiap penginapan dan rumah makan sekitarnya, datang untuk ditambahkan kepada kaum kurcaci dan makhluk-makhluk aneh lainnya yang tinggal di Bag End. Kegairahan memuncak.
Lalu cuaca berubah mendung. Itu terjadi pada hari Rabu sore sebelum pesta. Orang-orang menjadi sangat cemas. Lalu Kamis, 22 September, akhirnya datang juga. Matahari terbit, awan-awan lenyap, bendera-bendera dikibarkan, dan kegembiraan dimulai.
Bilbo Baggins menyebut acara ini pesta, tapi sebenarnya ini merupakan beragam hiburan yang digabungkan jadi satu. Boleh dikatakan semua orang yang lingual di dekatnya diundang. Beberapa ada yang terlupa tanpa sengaja, tapi karena mereka toll datang juga, maka tidak ada masalah. Banyak orang dari luar Shire juga diundang, bahkan ada beberapa dari luar perbatasan. Bilbo sendiri yang menemui para tamu (dan tambahannya) di gerbang baru berwarna putih. Ia memberikan hadiah-hadiah kepada orang-orang yang tak terhitung banyaknya-ada orang-orang yang keluar lewat jalan belakang dan masuk lagi dari gerbang. Kaum hobbit memang biasa memberikan hadiah kepada orang lain di hari ulang tahun mereka. Bukan hadiah mewah biasanya, dan tidak begitu berlebihan seperti pada pesta ini; tapi itu bukan kebiasaan buruk. Sebenarnya di Hobbiton dan Bywater setiap hari adalah ulang tahun seseorang, jadi setiap hobbit di wilayah itu punya kesempatan untuk setidaknya mendapat satu hadiah, sekurang-kurangnya sekali seminggu. Tapi mereka tak pernah bosan.
Pada kesempatan ini, hadiah-hadiahnya luar biasa bagus. Anak-anak hobbit begitu gembira, sampai hampir lupa makan. Ada macam-macam mainan yang belum pernah mereka lihat, semuanya indah dan beberapa pasti mempunyai daya sihir. Banyak di antaranya sudah dipesan setahun sebelumnya, dan datang dari Glinting dan Dale, buatan asli para kurcaci.
Setelah setiap tamu disambut dan sudah berada di dalam, mengalirlah lagu-lagu, tarian, musik, permainan, dan tentu saja makanan dan minuman. Ada tiga tahap hidangan resmi: makan siang, minum teh, dan makan malam (atau makan larut malam). Makan siang dan minum tell ditandai terutama oleh berkumpulnya para tamu untuk duduk dan makan bersama. Di luar acara tersebut, orang-orang makan dan minum begitu saja-secara beruntun sejak jam sebelasan hingga jam enam tiga puluh, ketika acara kembang api dimulai.
Kembang api itu diciptakan oleh Gandalf: bukan hanya dibawa olehnya, tetapi dirancang dan dibuat olehnya; efek-efek khusus, rangkuman potongan, dan formasi roket dinyalakan sendiri olehnya. Tetapi juga banyak petasan, model obor, model lilin kurcaci, ragam air mancur peri, petasan jembalang, dan petasan halilintar. Semuanya istimewa. Kepiawaian Gandalf semakin meningkat dengan bertambahnya usia.
Ada roket-roket yang meluncur seperti rangkaian burung gemilang bernyanyi dengan suara lembut. Ada pohon-pohon hijau dengan batang-batang asap gelap: daun-daunnya merekah seperti sumber air yang dalam sekejap tersingkap, dan dahan-dahannya yang berkilauan menjatuhkan kembang gemerlap ke atas para hobbit yang tercengang, lalu menghilang dengan wewangian harum tepat sebelum menyentuh wajah mereka yang menengadah. Ada air mancur kupu-kupu yang terbang dalam kerlap-kerlip kemilau ke dalam pohon-pohon; ada tiang-tiang api berwarna yang naik dan berubah menjadi elang, atau kapal layar, atau sekelompok angsa terbang; ada badai petir merah dan curah hujan kuning; ada belantara tombak perak yang mendadak melompat ke angkasa dengan bunyi teriakan seperti laskar yang berperang, dan jatuh kembali ke dalam air dengan bunyi desis ratusan ular membara. Dan ada kejutan terakhir, sebagai penghormatan kepada Bilbo, dan yang sangat mengejutkan kaum hobbit, seperti telah direncanakan Gandalf. Lampu-lampu padam. Asap tebal naik, membentuk wujud gunung di kejauhan, dan mulai menyala di puncaknya. Ia memuntahkan nyala api hijau dan merah. Seekor naga merah keemasan terbang keluar dari sana-tidak seukuran sebenarnya, tapi kelihatan sangat hidup: api keluar dari rahangnya, matanya melotot; terdengar raungan, dan ia mendesis tiga kali di alas kerumunan kepala para hobbit. Mereka semua membungkuk, dan banyak yang jatuh tertelungkup. Naga itu berlalu bagai kereta api ekspres, jungkir-balik, lalu meledak di alas Bywater dengan bunyi memekakkan.
"Itu tanda untuk makan malam!" kata Bilbo. Rasa ngeri dan kecemasan langsung sirna, dan para hobbit yang tiarap meloncat berdiri. Hidangan makan malam istimewa tersedia untuk semuanya; semuanya, kecuali mereka yang khusus diundang untuk pesta makan malam keluarga. Ini berlangsung di paviliun besar di mana terdapat pohon itu. Undangannya terbatas hanya dua belas lusin (angka yang disebut saw Gross oleh para hobbit, meski sebutan itu dianggap tidak sopan untuk menunjuk orang); dan tamunya dipilih dari mereka yang bertalian keluarga dengan Bilbo dan Frodo, ditambah beberapa teman yang bukan keluarga (seperti Gandalf). Banyak hobbit muda termasuk di dalamnya, dan hadir atas izin orangtua mereka; kaum hobbit cukup bijak dalam membiarkan anak-anak mereka bangun sampai malam, terutama bila ada kesempatan mendapat makanan gratis. Membesarkan hobbit-hobbit kecil membutuhkan banyak makanan.
Banyak anggota keluarga Baggins dan Boffin, juga banyak anggota keluarga Took dan Brandybuck; ada beberapa Grubb (keluarga nenek Bilbo Baggins), dan beberapa Chubb (keluarga kakek Bilbo dari marga Took); dan beberapa dari keluarga Burrows, Bolger, Bracegirdle, Brockhouse, Goodbody, Hornblower, dan Proudfoot. Beberapa di antara mereka hanya kerabat jauh Bilbo, dan beberapa bahkan belum pernah ke Hobbiton, karena mereka tinggal di daerah-daerah terpencil di Shire. Keluarga Sackville-Baggins tidak dilupakan. Otho dan istrinya Lobelia hadir juga. Mereka tidak menyukai Bilbo dan membenci Frodo, tetapi kartu undangannya begitu indah, ditulis dengan tinta emas, sampai mereka merasa tak mampu menolak. Lagi pula, sepupu mereka, Bilbo, sudah bertahun-tahun mengkhususkan diri dalam hal makanan, dan hidangan-hidangannya sudah terkenal lezat.
Keseratus empat puluh empat tamu itu mengharapkan pesta yang menyenangkan, walau mereka agak takut pada pidato sang man rumah sesudahnya (acara yang tak terelakkan). Ia suka bertele-tele memasukkan bagian yang disebutnya puisi; dan kadang-kadang, setelah minum segelas dua gelas, ia akan menyinggung petualangan tak masuk akal dari perjalanannya yang misterius. Tamu-tamu tidak kecewa: mereka menikmati pesta yang sangat menyenangkan, bahkan hiburan yang sangat memukau: mewah, berlimpah-limpah, beraneka ragam, dan berkepanjangan. Selama minggu-minggu berikutnya, hampir tidak ada sama sekali pembelian makanan di wilayah itu; tapi berhubung hidangan makanan Bilbo sudah menghabiskan persediaan hampir semua toko, gudang bawah tanah, dan gudang-gudang sejauh bermil-mil di sekitarnya, maka hal itu tidak menjadi masalah.
Setelah pesta (kurang-lebih), menyusullah pidato. Meski begitu, kebanyakan kelompok itu kini sudah bersuasana hati toleran, dalam tahap yang mereka sebut "mengisi pojok-pojok". Mereka meneguk minuman favorit mereka, menggigit makanan lezat kesukaan mereka, dan kecemasan mereka terlupakan. Mereka sudah siap mendengarkan apa pun, dan bersorak-sorai pada setiap akhir kalimat.
Hadirin yang baik, Bilbo memulai, bangkit berdiri di tempatnya. "Dengar! Dengar! Dengar!" mereka berteriak, dan terus mengulanginya bersamaan, meski tampaknya enggan mengikuti anjuran mereka sendiri. Bilbo meninggalkan tempatnya dan berdiri di atas sebuah kursi, di bawah pohon yang diterangi. Cahaya lentera jatuh di wajahnya yang berseri-seri; kancing-kancing emas berkilauan di rompi sutranya yang bersulam. Mereka semua bisa melihatnya berdiri, melambaikan satu tangan di udara, tangan satunya ada di saku celananya.
Para Baggins dan Boffin yang budiman, ia mulai lagi, dan para Took dan Brandybuck, dan Grubb, dan Chubb, dan Burrows, dan Hornblower, dan Bolger, Bracegirdle, Goodbody, Brockhouse, dan Proudfoot. "ProudFEET!" teriak seorang hobbit tua dari bagian belakang paviliun. Tentu saja namanya Proudfoot, dan nama itu pas sekali; kakinya besar, berbulu sangat lebat, dan keduanya diangkat di atas meja.
Proudfoot, ulang Bilbo. Juga keluarga Sackville-Baggins yang baik, yang akhirnya kusambut kembali ke Bag End. Hari ini hari ulang tahunku yang keseratus sebelas; usiaku sebelas puluh satu hari ini! "Hura! Hura! Panjang Umur!" teriak mereka, dan dengan gembira mereka memukul-mukul meja-meja. Bilbo hebat sekali. Inilah jenis pidato yang mereka sukai: pendek dan jelas.
Kuharap kalian semua bergembira, seperti aku sendiri. Sorak memekakkan. Seruan Ya (dan Tidak). Bunyi berisik terompet, seruling, dan alat musik lainnya terdengar. Seperti sudah diceritakan tadi, banyak sekali anak muda hobbit yang hadir. Ratusan petasan sudah diledakkan. Kebanyakan bertanda DALE; kebanyakan hobbit tidak memahami maksudnya, tapi mereka semua setuju petasannya luar biasa bagus. Petasan-petasan itu berisi alat-alat musik, kecil, tapi buatannya sempurna dan mengeluarkan bunyi-bunyian memukau. Bahkan di salah satu pojok beberapa Took dan Brandybuck muda, yang menyangka Paman Bilbo sudah selesai (karena jelas ia sudah mengucapkan semua yang penting), sekarang membentuk orkes dadakan, dan memulai irama dansa ceria. Master Everard Took dan Miss Melilot Brandybuck naik ke atas meja, dan dengan lonceng di tangan mereka mulai menari Springle-ring: sebuah tarian manis, tetapi agak dahsyat.
Tetapi Bilbo belum selesai. Ia merebut terompet dari seorang anak muda di dekatnya, dan membunyikannya tiga kali dengan keras. Suara berisik mereda. Aku tidak akan lama, teriak Bilbo. Teriakan riuh dari semuanya. Aku memanggil kalian semua ke sini untuk Tujuan Tertentu. Ada sesuatu dalam caranya mengatakan itu, yang membuat orang-orang terkesan. Keadaan hampir senyap, dan satu-dua kaum Took memasang telinga.
Bahkan untuk Tiga Tujuan! Pertama, untuk menyampaikan bahwa aku sangat menyayangi kalian semua, dan sebelas puluh satu tahun adalah waktu yang terlalu pendek untuk hidup di antara hobbit-hobbit yang begitu istimewa dan mengagumkan. Ledakan seruan setuju yang hebat.
Sebagian dari kalian tidak aku kenal sebaik yang kuinginkan, dan aku menyukai kurang dari separuh dari kalian sebesar separuh dari yang pantas kalian peroleh. Ini agak tak terduga dan rumit kedengarannya. Ada bunyi tepuk tangan di sana-sini, tapi kebanyakan dari mereka berusaha memikirkan ucapan Bilbo tadi, dan mereka-reka apakah itu suatu pujian.
Kedua, untuk merayakan ulang tahunku. Sorak-sorai lagi. Seharusnya kukatakan: ulang tahun KAMI. Karena, tentu saja, ini juga ulang tahun ahli waris dan keponakanku, Frodo. Dia menjadi dewasa dan menerima warisannya hari ini. Beberapa tepuk tangan acuh tak acuh dari kaum tua, dan beberapa teriakan keras "Frodo! Frodo! Frodo yang Baik," dari para pemuda. Keluarga Sackville-Baggins mengerutkan dahi, dan bertanya dalam hati, apa artinya "menerima warisannya".
Berdua jumlah usia kami seratus empat puluh empat. Jumlah kalian dipilih sesuai dengan angka ini: Satu Gross, kalau aku boleh memakai istilah ini. Tidak ada sorak-sorai. Ini konyol. Kebanyakan tamu, terutama kaum Sackville-Baggins, merasa tersinggung, karena merasa yakin mereka diundang hanya untuk melengkapi jumlah yang dibutuhkan, seperti barang-barang dalam paket. "Satu Gross, yang benar saja! Ungkapan yang kasar."
Hari ini juga, kalau aku boleh menunjuk pada sejarah kuno, adalah ulang tahun kedatanganku naik tong di Esgaroth di Danau Panjang; meski waktu itu aku tidak ingat bahwa hari itu hari ulang tahunku. Saat itu aku baru lima puluh satu tahun, dan ulang tahun rasanya tidak terlalu penting. Perjamuannya sangat istimewa, meski aku pilek berat saat itu, seingatku, dan hanya bisa mengatakan "Teriba kasih bajak". Sekarang aku mengulanginya dengan benar: Terima kasih banyak atas kedatangan kalian ke pestaku. Para tamu masih tetap diam. Mereka semua cemas sebuah lagu atau puisi akan muncul, dan mereka mulai jemu. Kenapa Bilbo tidak berhenti bicara dan membiarkan mereka minum demi kesehatannya? Tetapi Bilbo tidak menyanyi atau membacakan puisi. Ia diam sejenak.
Ketiga dan yang terakhir, kata Bilbo, aku ingin memberikan PENGUMUMAN. Ia mengucapkan kata terakhir ini begitu keras dan mendadak, sampai semua yang masih mampu, duduk tegak. Aku menyesal harus mengumuhkan bahwa-meski, seperti tadi sudah kukatakan sebelas puluh satu. tahun adalah waktu yang terlalu singkat untuk dilewatkan di tengah kalian-inilah AKHIRnya. Aku akan pergi. Aku akan berangkat SEKARANG. SELAMAT TINGGAL!

Ia melangkah turun dan lenyap. Ada kilatan cahaya yang sangat menyilaukan, dan semua tamu mengedipkan mata. Ketika mereka membuka mata, Bilbo tidak tampak di mana pun. Seratus empat puluh empat hobbit ternganga keheranan, duduk bersandar membisu. Odo Proudfoot tua memindahkan kakinya dari atas meja dan mengentakkannya. Lalu ada keheningan sempurna, sampai tiba-tiba, setelah beberapa tarikan napas dalam, setiap Baggins, Boffin, Took, Brandybuck, Grubb, Chubb, Burrows, Bolger, Bracegirdle, Brockhouse, Goodbody, Hornblower; dan Proudfoot berbicara bersamaan.
Secara umum disepakati bahwa kelakar itu berselera rendah, dan dibutuhkan lebih banyak makanan dan minuman untuk menyembuhkan para tamu dari perasaan terkejut dan jengkel. "Dia sinting. Aku sudah sering bilang." Mungkin komentar itulah yang paling banyak dilontarkan. Bahkan kaum Took (dengan beberapa pengecualian) menganggap tingkah laku Bilbo tak masuk akal. Untuk sementara, kebanyakan menganggap lenyapnya Bilbo hanya olok-olok konyol.
Tetapi Rory Brandybuck tua tidak begitu yakin. Baik usia maupun hidangan melimpah tidak membuat ia dan istrinya kabur ingatan, dan ia mengatakan kepada putrinya, Esmeralda, "Ada sesuatu yang mencurigakan di sini, Sayang! Kuduga si Baggins gila itu sudah pergi lagi. Si tolol tua konyol.--Tapi kenapa harus khawatir? Dia tidak membawa bahan makanan bersamanya." Dengan keras ia memanggil Frodo untuk membagikan anggur lagi.
Frodo satu-satunya yang tidak mengatakan apa pun. Untuk beberapa saat ia duduk di samping kursi Bilbo yang kosong, tidak menghiraukan semua pertanyaan dan komentar. Ia menikmati olok-olok itu, tentu saja, meski ia sudah tahu sebelumnya. Ia sulit menahan diri untuk tidak tertawa melihat kedongkolan tamu-tamu yang terkejut. Tapi sekaligus ia merasa sangat cemas: tiba-tiba ia menyadari bahwa ia sangat menyayangi hobbit tua itu. Kebanyakan tamu meneruskan makanminum dan membahas keanehan Bilbo Baggins, di masa lalu maupun sekarang, tapi keluarga Sackville-Baggins sudah pergi dengan gusar. Frodo tak ingin lagi mengikuti pesta itu. Ia menyuruh menghidangkan lebih banyak anggur, dan menghabiskan anggur dalam gelasnya demi kesehatan Bilbo, lalu menyelinap keluar dari paviliun.

Sedangkan Bilbo Baggins, sementara mengucapkan pidatonya ia sudah memegang-megang cincin emas di sakunya: cincin ajaib yang sudah bertahun-tahun dirahasiakannya. Saat melangkah turun ia menyelipkan cincin itu di jarinya, dan setelah itu ia tak pernah terlihat lagi oleh satu hobbit pun.
Ia berjalan cepat kembali ke lubangnya, dan sejenak berdiri sambil tersenyum, mendengarkan bunyi riuh di paviliun dan suasana gembira di bagian-bagian lain di lapangan. Lalu ia masuk. Ia melepaskan pakaian pestanya, melipat dan membungkus rompi sutra bersulamnya dalam kertas tisu, dan menyimpannya. Lalu dengan cepat ia mengenakan beberapa pakaian lama yang kusut, dan mengikatkan sebuah sabuk kulit yang sudah usang di pinggangnya. Di situ ia menggantungkan sebilah pedang pendek dalam sebuah sarung pedang Wit hitam yang lusuh. Dari sebuah laci terkunci, yang berbau bola kamper, ia mengeluarkan sehelai jubah lama dan kerudung. Benda-benda itu disimpan seolah sangat berharga, tapi mereka sudah begitu penuh tambalan dan pudar, sampai warnanya yang asli hampir tidak kelihatan lagi: mungkin saja dulu warnanya hijau tua. Pakaian itu agak kebesaran untuk Bilbo. Kemudian ia masuk ke ruang kerjanya, dan dari lemari besi ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain lama, sebuah naskah bersampul kulit, dan sebuah amplop yang besar sekali. Buku dan bungkusan dimasukkannya ke dalam tas berat yang ada di situ, yang sudah hampir penuh. Ke dalam amplop ia menyelipkan cincin emasnya, serta rantainya yang halus, kemudian menutupnya dan mengalamatkannya pada Frodo. Mula-mula ia meletakkannya di atas perapian, tapi mendadak ia mengambilnya dan memasukkannya ke saku celananya. Saat itu pintu terbuka dan Gandalf masuk dengan cepat.
"Halo!" kata Bilbo. "Aku sudah bertanya-tanya, apakah kau akan datang."
"Aku senang menjumpaimu dalam keadaan kasat mata," kata penyihir itu, sambil duduk di kursi. "Aku ingin menjumpaimu dan mengungkapkan hal-hal terakhir. Kuduga kau merasa semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana?"
"Ya, memang," kata Bilbo. "Meskipun kilatan cahaya itu mengejutkan sekali: aku saja kaget, apalagi yang lain. Tambahan kecil darimu, kuduga?"
"Memang. Kau sudah dengan bijak merahasiakan cincin itu selama inn, dan aku merasa perlu memberikan sesuatu yang lain kepada para tamu, sesuatu yang bisa menjelaskan menghilangnya dirimu dengan mendadak."
"Dan akan merusak olok-olokku. Kau orang tua yang suka ikut campur urusan orang lain," tawa Bilbo, "tapi kuduga kau lebih tahu, seperti biasanya."
"Memang begitu kalau aku tahu sesuatu. Tapi aku belum terlalu yakin atas masalah ini. Sekarang masalah ini sudah mencapai titik akhirnya. Kau sudah menikmati kelakarmu, membuat cemas atau menyinggung sebagian besar kerabatmu, dan memberikan bahan omongan pada seluruh Shire untuk dibahas selama sembilan hari, atau sembilan puluh sembilan hari mungkin lebih tepat. Apa kau akan melanjutkannya?"
"Ya. Aku merasa butuh liburan, liburan panjang sekali, seperti sudah kukatakan padamu. Mungkin liburan untuk selamanya: aku tidak memperkirakan akan kembali lagi. Bahkan sebenarnya aku tidak bermaksud untuk kembali, dan aku sudah mengatur semuanya.
"Aku sudah tua, Gandalf. Mungkin dari luar tidak kelihatan, tapi aku sudah mulai merasakannya jauh di dalam hatiku. Awet muda!" dengus Bilbo. "Bah, aku merasa tipis sekali, seperti terulur, kalau kau mengerti maksudku: seperti mentega yang dioleskan pada terlalu banyak roti. Itu pasti tidak baik. Aku butuh perubahan, atau semacarnnya."
Gandalf menatapnya dengan aneh dan tajam. "Tidak, memang kelihatannya tidak baik," katanya sambil merenung. "Tidak, bagaimanapun kupikir rencanamu mungkin yang terbaik."
"Well, bagaimanapun aku sudah mengambil keputusan. Aku ingin melihat gunung-gunung lagi, Gandalf gunung-gunung; lalu menemukan tempat untuk aku bisa beristirahat. Dalam kedamaian dan ketenangan, tanpa banyak keluarga berkeliaran sambil mengorek-ngorek, dan rangkaian tamu terkutuk yang memencet bel. Mungkin aku bisa menemukan tempat untuk menyelesaikan bukuku. Aku sudah memikirkan akhir yang bahagia untuknya: dan dia hidup bahagia sampai akhir hayatnya."
Gandalf tertawa. "Kuharap begitu. Tapi takkan ada yang membaca buku itu, bagaimanapun akhir kisahnya."
"Ah, mungkin akan dibaca, di tahun-tahun mendatang. Frodo sudah membaca sebagian, sampai sejauh yang sudah kutulis. Kau akan mengawasi Frodo, bukan?"
"Ya, akan kulakukan-bila perlu kuawasi berlipat ganda sebisa mungkin."
"Tentu dia akan ikut aku, kalau aku memintanya. Bahkan dia mengusulkannya satu kali, tepat sebelum pesta. Tapi dia sebenarnya belum benar-benar ingin. Aku ingin melihat alam liar lagi sebelum aku mati, dan Gunung-Gunung; tapi Frodo masih mencintai Shire, dengan hutan-hutan, padang rumput, dan sungai-sungai kecilnya. Dia akan lebih nyaman di sini. Aku mewariskan semuanya kepadanya, tentu, kecuali beberapa hal. Kuharap dia bahagia, bila sudah terbiasa sendirian. Sudah saatnya dia menjalani hidupnya sendiri sekarang."
"Semuanya?" kata Gandalf. "Cincin itu juga? Kau sepakat tentang itu, ingat itu." "Well, ya, mungkin begitu," kata Bilbo terbata-bata.
"Di mana cincin itu?"
"Di dalam amplop, kalau kau man tahu," kata Bilbo tak sabar. "Di sana, di atas perapian. Oh tidak! Ada di sini, di saku bajuku!" ia ragu. "Bukankah aneh rasanya sekarang?" kata Bilbo perlahan kepada dirinya sendiri. "Ya, bagaimanapun, kenapa tidak? Kenapa cincin ini tidak tetap di sini saja?"
Gandalf menatap Bilbo dengan tajam, ada kilauan di matanya. "Menurutku, Bilbo," katanya tenang, "sebaiknya cincin itu kautinggalkan di sini. Apa kau tidak ingin?"
"Well, ya dan tidak. Kini, setelah tiba saatnya, aku tak senang berpisah dengannya. Dan aku tidak tahu kenapa aku harus. Kenapa kau ingin aku meninggalkannya?" tanya Bilbo, ada perubahan aneh dalam suaranya. Tajam oleh kecurigaan dan kejengkelan. "Kau selalu mendesakku tentang cincinku, tapi kau tak pernah mempermasalahkan benda-benda lain yang kuperoleh dalam perjalananku."
"Tidak, tapi aku terpaksa mendesakmu," kata Gandalf. "Aku ingin kebenarannya. Itu penting. Cincin ajaib memang... yah, ajaib; dan mereka langka dan aneh. Secara profesional aku tertarik pada cincinmu, boleh dikatakan begitu; dan aku masih tertarik. Aku ingin tahu di mana cincin itu, kalau kau mengembara lagi. Juga menurutku kau sudah memilikinya cukup lama. Kau tidak membutuhkannya lagi, Bilbo, kecuali kalau aku salah."
Wajah Bilbo memerah, dalam matanya ada kilatan cahaya amarah. Wajahnya yang ramah berubah keras. "Kenapa tidak?" teriaknya. "Dan apa urusanmu ingin tahu apa yang kulakukan dengan barang-barangku sendiri? Cincin itu milikku. Aku yang menemukannya. Dia datang padaku."
"Ya, ya," kata Gandalf. "Tapi tidak perlu marah begitu."
"Kalau aku marah, itu salahmu," kata Bilbo. "Sudah kubilang cincin itu milikku. Milikku. Kesayanganku. Ya, kesayanganku."
Wajah sang penyihir tetap suram dan penuh perhatian, dan hanya sedikit kilatan dalam matanya menunjukkan bahwa ia kaget, dan bahkan cemas. "Pernah ada yang berkata begitu," kata Gandalf, "tapi bukan kau."
"Tapi kini aku yang mengatakannya. Dan mengapa tidak? Meski dulu Gollum juga pernah berkata begitu, sekarang cincin ini bukan miliknya, tapi milikku. Dan aku akan menyimpannya, kataku."
Gandalf berdiri. Ia berbicara dengan tegas. "Kau bodoh kalau begitu, Bilbo," katanya. "Semakin jelas dengan setiap kata yang kauucapkan. Cincin itu sudah terlalu jauh menguasai dirimu. Lepaskanlah! Lalu kau bisa pergi, dan bebas."
"Aku akan berbuat sesuka hatiku dan pergi semauku," kata Bilbo keras kepala.
"Ayo, ayo, hobbit-ku sayang!" kata Gandalf. "Kita sudah lama bersahabat, dan kau berutang padaku. Ayolah! Lakukan seperti yang sudah kaujanjikan: lepaskan!"
"Well, kalau kau sendiri menginginkan cincinku, katakan saja!" seru Bilbo. "Tapi kau takkan mendapatkannya. Aku tidak akan memberikan barang kesayanganku, camkan itu." Tangan Bilbo mendekati pangkal pedang kecilnya.
Mata Gandalf berkilauan. "Sebentar lagi giliranku untuk marah," katanya. "Kalau kau mengucapkan itu lagi, aku akan marah. Lalu kau akan melihat Gandalf tanpa jubah." ia maju selangkah ke arah Bilbo, dan tampaknya ia menjadi lebih tinggi dan mengancam; bayangannya memenuhi seluruh ruangan itu.
Bilbo mundur ke dinding, terengah-engah, tangannya mencengkeram saku celananya. Untuk beberapa saat mereka berdiri berhadapan, dan udara di ruangan itu menggelenyar. Mata Gandalf tetap terarah pada Bilbo. Perlahan tangan Bilbo mengendur, dan ia mulai gemetar.
"Entah kenapa kau ini,-.Gandalf," kata Bilbo. "Kau belum pernah seperti ini. Apa sih masalahnya? Cincin ini kan milikku. Aku menemukannya, dan Gollum akan membunuhku seandainya aku tidak tetap memegangnya. Aku bukan pencuri, apa pun yang dikatakannya."
"Aku tidak pernah menyebutmu pencuri," jawab Gandalf. "Dan aku juga bukan pencuri. Aku bukan mencoba merampokmu, tapi membantumu. Kuharap kau mempercayaiku, seperti biasanya." Gandalf membalikkan tubuh, dan bayangan itu lenyap. Ia seolah mengerut kembali menjadi pria tua kelabu, bungkuk dan sedih.
Bilbo menyapukan tangan ke matanya. "Aku minta maaf," katanya. "Tapi perasaanku aneh sekali. Meski begitu, aku akan lega sekali kalau tidak diganggu oleh cincin itu lagi. Akhir-akhir ini cincin itu memenuhi benakku. Kadang-kadang aku merasa seperti ada mata yang memandangku. Aku selalu ingin memakainya dan menghilang, atau bertanya-tanya apakah dia aman, dan mengeluarkannya agar yakin. Aku mencoba menyimpannya di tempat terkunci, tapi ternyata aku tak bisa tenang kalau dia tidak berada di saku celanaku. Aku tidak tahu kenapa. Dan kelihatannya aku tak bisa mengambil keputusan."
"Kalau begitu, percayalah padaku," kata Gandalf. "Kau sudah membuat keputusan. Pergilah dan tinggalkan cincin itu. Berhentilah memilikinya. Berikan pada Frodo, dan aku akan mengawasinya."
Sejenak Bilbo berdiri tegang, tak bisa memutuskan. Akhirnya ia mendesah. "Baiklah," katanya dengan enggan. "Akan kulakukan." Lalu ia angkat bahu dan tersenyum agak sedih. "Bagaimanapun, memang itulah tujuan pesta INI sebenarnya: untuk memberikan banyak hadiah ulang tahun, sekaligus supaya lebih mudah melepaskan cincin itu. Ternyata tetap saja tidak menjadi lebih mudah, tapi akan sayang sekali semua persiapanku. Akan merusak kelakarku."
"Memang, tujuan utama seluruh kegiatan ini jadi sia-sia," kata Gandalf.
"Baiklah," kata Bilbo, "cincin akan beralih pada Frodo dengan semua barang lain." ia menarik napas panjang. "Dan sekarang aku benar-benar harus pergi, atau akan ada yang memergoki aku. Aku sudah mengucapkan selamat tinggal, dan aku tidak tahan kalau harus mengulanginya lagi." ia mengangkat tasnya dan beranjak ke pintu.
"Cincin itu masih ada di saku celanamu," kata Gandalf.
"Well, memang!" seru Bilbo. "Juga surat wasiatku dan semua dokumen lainnya. Sebaiknya kau mengambilnya dan menyerahkannya untukku. Itu paling aman."
"Tidak, jangan berikan cincin itu padaku," kata Gandalf. "Letakkan di atas perapian. Akan cukup aman di sana, sampai Frodo datang. Aku akan menunggunya."
Bilbo mengeluarkan amplopnya. Tapi tepat ketika ia akan meletakkannya di dekat jam, tangannya tersentak ke belakang, dan bungkusan itu jatuh ke lantai. Sebelum Bilbo bisa memungutnya, Gandalf sudah membungkuk dan mengambil amplop itu, lalu meletakkannya di tempatnya. Wajah Bilbo sekejap mengejang penuh kemarahan. Tapi mendadak kemarahannya lenyap dan wajahnya berubah penuh kelegaan dan tawa gembira.
"Well, sudah beres," kata Bilbo. "Sekarang aku berangkat!"
Mereka keluar ke lorong. Bilbo memilih tongkat kesukaannya dari tempat penyimpanannya, lalu ia bersiul. Tiga orang kerdil muncul dari ruang-ruang berlainan, di mana mereka sibuk selama ini.
"Sudah siapkah semuanya?" tanya Bilbo. "Semua sudah dikemas dan diberi label?"
"Semuanya sudah," jawab mereka.
"Kalau begitu, mari kita berangkat!" Bilbo keluar dari pintu depan.
Malam itu cuaca cerah, langit hitam dihiasi bintang-bintang. Bilbo menengadah, menghirup udara luar. "Menyenangkan sekali! Sangat menyenangkan bisa pergi lagi, berada di Jalan dengan para kurcaci! Inilah yang kudambakan selama bertahun-tahun! Selamat tinggal!" kata Bilbo, memandang rumahnya dan membungkuk kepada pintunya. "Selamat tinggal, Gandalf!"
"Selamat jalan, untuk sementara, Bilbo. Jaga dirimu sendiri! Kau sudah cukup tua, dan mungkin cukup bijaksana."
"Jaga diri! Aku tak peduli. Kau jangan cemas tentang aku! Belum pernah aku sebahagia sekarang, dan itu sangat besar artinya. Tapi saatnya sudah tiba. Akhirnya aku bisa pergi," tambah Bilbo, lalu dengan suara rendah, seolah hanya kepada dirinya sendiri, ia bernyanyi perlahan dalam kegelapan:

Jalan ini tak ada habisnya
Dari pintu tempat ia bermula.
Terbentang hingga di kejauhan sana,
Mesti kujalani sedapat aku bisa,
Kaki letih tapi kuberjalan juga,
Sampai kudapati jalan yang lebih lega
Di mana ban yak jalur dan urusan bertemu.
Lalu ke mana? Tak tahulah aku

Bilbo berhenti, diam sejenak. Lalu tanpa sepatah kata lagi ia membalikkan badannya dari lampu-lampu dan suara-suara di lapangan dan tenda, dan diikuti ketiga pendampingnya ia berjalan memutar di kebunnya, berderap menuruni jalan panjang yang curam. Setiba di bawah, ia melompati pagar semak di bagian yang rendah, lalu berjalan ke arah padang rumput, menghilang ke dalam kegelapan malam, bagai desiran angin di tengah rerumputan.
Untuk beberapa saat Gandalf tetap berdiri di sana, memandang ke dalam kegelapan. "Selamat jalan, Bilbo yang baik-sampai pertemuan kita berikutnya!" katanya perlahan, lalu ia masuk kembali.

Tak lama kemudian Frodo masuk, dan menemukan Gandalf duduk dalam kegelapan, sedang merenung. "Apa dia sudah pergi?" tanya Frodo.
"Ya," jawab Gandalf, "akhirnya dia pergi."
"Seandainya saja... maksudku, sampai tadi sore aku masih berharap bahwa ini hanya olok-olok saja," kata Frodo. "Tapi dalam hati aku tahu dia memang berniat pergi. Dia selalu berkelakar tentang hal-hal yang serius. Coba aku kembali lebih awal, biar bisa melihatnya pergi."
"Kurasa dia lebih suka menyelinap pergi diam-diam," kata Gandalf. "Jangan terlalu cemas. Dia akan baik-baik saja sekarang. Dia meninggalkan bingkisan untukmu. Itu, di sana!"
Frodo mengambil amplop dari atas perapian, dan melihatnya sekilas, tapi tidak membukanya.
"Kau akan menemukan surat wasiatnya dan semua dokumen lain, di dalamnya, kukira," kata penyihir itu. "Kini kaulah penguasa Bag End. Dan kau akan menemukan cincin emas juga di dalam amplop itu."
"Cincin itu!" seru Frodo. "Dia meninggalkannya untukku? Aneh, kenapa? Tapi mungkin cincin itu bisa bermanfaat."
"Mungkin ya, mungkin tidak," kata Gandalf. "Sebaiknya tidak digunakan, kalau aku jadi kau. Tapi rahasiakan terus, dan simpanlah dengan aman! Sekarang aku mau tidur."

Sebagai tuan rumah Bag End, Frodo merasa wajib berpamitan dengan para tamu, meskipun ia enggan. Selentingan tentang peristiwa-peristiwa ajaib sekarang sudah menyebar di seantero lapangan, tapi Frodo hanya mau mengatakan pasti semuanya akan beres besok pagi. Sekitar tengah malam, kereta-kereta berdatangan menjemput orang-orang penting. Satu demi satu kereta itu bergulir menghilang, penuh penumpang hobbit yang kenyang tapi tak puas. Tukang-tukang kebun yang sudah dipesan berdatangan, dan dengan gerobak dorong memulangkan mereka yang tak sengaja tertinggal.
Malam berlalu lamban. Matahari terbit. Para hobbit bangun agak lebih siang. Pagi terus merayap. Orang-orang datang dan mulai (atas perintah) membongkar paviliun dan meja-meja serta kursi, sendok-sendok, pisau, botol dan piring, lentera-lentera, serta semak-semak berbunga dalam kotak-kotak, remah-remah dan kertas petasan, kantong-kantong yang terlupakan, sarung tangan dan saputangan, dan hidangan yang tidak termakan (hanya sedikit sekali). Lalu sejumlah orang lain datang (tanpa disuruh): dari keluarga Baggins, Boffin, Bolger, Took, dan tamu-tamu lain yang tinggal di dekat situ. Tengah hari, ketika orang-orang yang sudah kenyang sekalipun telah berkeliaran lagi, ada kerumunan besar di Bag End. tak diundang tapi bukan tak terduga.
Frodo menunggu di anak tangga, tersenyum, tapi kelihatan agak letih dan cemas. Ia menyambut semua pengunjung, tapi tak bisa menyampaikan lebih banyak daripada sebelumnya. Jawabannya atas semua pertanyaan hanya ini, "Mr. Bilbo Baggins sudah pergi; sejauh yang kuketahui, untuk selamanya." Beberapa tamu dipersilakannya masuk, karena Bilbo meninggalkan "pesan" untuk mereka.
Di koridor ada tumpukan besar berbagai bingkisan, paket, dan perabot rumah kecil. Setiap benda dipasangi label. Ada beberapa label semacam ini:
Untuk ADELARD TOOK, untuk DIRINYA SENDIRI, dari Bilbo; pada sebuah payung. Adelard sudah sering membawa pergi payung Bilbo tanpa label.
Untuk DORA BAGGINS, untuk mengenang surat-menyurat yang PANJANG, teriring kasih sayang dari Bilbo; pada sebuah keranjang sampah besar. Dora adik perempuan Drogo dan saudara wanita tertua Bilbo dan Frodo yang masih hidup; usianya sembilan puluh sembilan, dan ia sudah menulis berlembar-lembar kertas penuh nasihat bagus selama lebih dari separuh abad.
Untuk MILO BURROWS, mudah-mudahan akan bermanfaat, dari B.B.; pada sebuah pena emas beserta botol tinta. Milo tak pernah membalas surat.
Untuk dipakai ANGELICA, dari Paman Bilbo; pada sebuah cermin bulat cembung. Ia seorang remaja Baggins, dan jelas menganggap wajahnya sendiri cantik.
Untuk koleksi HUGO BRACEGIRDLE, dari seorang penyumbang; pada sebuah rak buku (kosong). Hugo sering meminjam buku, dan jarang, bahkan tidak pernah, mengembalikannya.
Untuk LOBELIA SACKVILLE-BAGGINS, sebagai HADIAH; pada sebuah kotak berisi sendok-sendok perak. Bilbo yakin Lobelia mengambil banyak sendoknya ketika ia sedang pergi mengembara dulu. Lobelia tahu betul itu. Ketika ia datang agak siang hari itu, ia langsung memahaminya, tapi ia tetap mengambil sendok-sendok itu.

Itu hanya sebagian kecil dari kumpulan hadiah tersebut. Rumah Bilbo sudah agak kacau dengan barang-barang yang dikumpulkannya sepanjang hidupnya. Memang lubang hobbit cenderung penuh sesak: penyebab utama adalah kebiasaan memberikan hadiah ulang tahun. Tentu saja tidak semua hadiah ulang tahun selalu baru; ada satu-dua mathom yang gunanya sudah terlupakan, yang sudah berkeliling di seluruh wilayah; tapi Bilbo biasanya memberikan hadiah baru. Dan menyimpan hadiah yang diterimanya. Lubang lama sekarang agak dikosongkan.
Setiap hadiah perpisahan diberi label, yang ditulis secara pribadi oleh Bilbo, dan beberapa mempunyai maksud tertentu, atau merupakan kelakar. Tapi tentu saja kebanyakan hadiah diberikan pada orang-orang yang memang menginginkannya dan menyambutnya dengan baik. Kaum hobbit miskin, terutama mereka yang tinggal di Bagshot Row, bernasib cukup baik. Gaffer Gamgee tua mendapat dua karung kentang, sekop baru, rompi wol, dan sebotol minyak gosok untuk sendi-sendi yang gemerutuk. Sebagai balasan atas keramahannya menerima kunjungan Bilbo, Rory Brandybuck tua mendapat selusin botol Old Winyards: anggur merah keras dari Wilayah Selatan, yang kini sudah cukup matang, karena dulu disimpan ayah Bilbo. Rory memaafkan Bilbo, dan menyebutnya orang baik sekali setelah ia menghabiskan botol pertama.
Banyak sekali yang ditinggalkan untuk Frodo. Dan tentu saja, semua harta utama, serta buku-buku, gambar, dan banyak sekali perabot rumah, menjadi milik Frodo. Namun tak ada tanda-tanda atau berita tentang uang atau perhiasan: tak ada satu penny pun atau manik-manik kaca yang dibagikan.

Siang itu melelahkan sekali untuk Frodo. Desas-desus keliru bahwa seluruh isi rumah itu akan dibagikan gratis menyebar sangat cepat, dan dalam sekejap rumah itu penuh sesak dengan orang-orang yang sebenarnya tidak punya urusan di sana, tapi tak bisa ditolak. Labellabel mulai terlepas dan tercampur aduk, dan timbul pertengkaran. Beberapa orang mencoba melakukan pertukaran dan transaksi di koridor; yang lain mencoba mengambil benda-benda kecil yang tidak dimaksudkan untuk mereka, atau barang apa saja yang tampaknya tidak dibutuhkan atau dijaga. Jalan ke gerbang tertutup oleh gerobak dan kereta.
Di tengah keruwetan itu muncul keluarga Sackville-Baggins: Frodo sedang istirahat sejenak, dan membiarkan sahabatnya Merry Brandybuck mengawasi keadaan. Ketika Otho dengan nyaring menuntut bertemu dengan Frodo, Merry membungkuk sopan.
"Dia tidak bisa," kata Merry. "Dia sedang istirahat."
"Bersembunyi, maksudmu," kata Lobelia. "Pokoknya kami mau bertemu dengannya, dan itu tekad kami. Pergi dan beritahu dia!"
Merry meninggalkan mereka lama sekali di koridor, dan mereka sempat menemukan hadiah perpisahan mereka yang berupa sendok-sendok. Hal itu tidak membuat suasana hati mereka jadi lebih baik. Akhirnya mereka dibawa ke ruang kerja. Frodo sedang duduk di belakang meja, dengan banyak sekali berkas di depannya. Ia kelihatan enggan untuk menemui pasangan Sackville-Baggins, dan ia bangkit berdiri sambil memegang-megang sesuatu dengan gelisah di dalam saku bajunya. Tapi ia berbicara dengan sangat sopan.
Pasangan Sackville-Baggins agak kurang sopan. Mereka mulai dengan menawar murah (seperti di antara teman-teman) berbagai benda berharga yang tidak ada labelnya. Ketika Frodo menjawab bahwa hanya barang-barang yang khusus ditunjuk Bilbo yang dibagi-bagikan, mereka mengatakan seluruh kegiatan itu mencurigakan.
"Hanya satu hal yang jelas bagiku," kata Otho, "yaitu bahwa kau menarik keuntungan besar sekali dari semua ini. Aku menuntut melihat surat wasiatnya."
Sebenarnya Otho-lah yang akan menjadi ahli waris, jika Frodo tidak diadopsi sebagai anak oleh Bilbo. Otho membaca surat wasiat tersebut dengan saksama dan mendengus. Sayang sekali, surat wasiat itu sangat jelas dan benar (menurut kebiasaan hukum para hobbit, yang antara lain mensyaratkan tujuh tanda tangan saksi, memakai tinta merah).
"Gagal lagi!" kata Otho kepada istrinya. "Setelah menunggu enam puluh tahun. Sendok-sendok? Omong kosong!" ia menjentikkan jarinya di bawah hidung Frodo dan pergi. Tapi Lobelia tidak begitu mudah disingkirkan. Sejenak kemudian, Frodo keluar dari ruang kerja untuk melihat keadaan, dan menemukan Lobelia masih berkeliaran di rumah itu, memeriksa sudut-sudut dan pojok-pojok dan mengetuk-ngetuk lantai. Frodo dengan tegas menuntunnya keluar dari rumah, setelah mengambil kembali beberapa benda kecil (tapi berharga) yang entah bagaimana sudah jatuh ke dalam payung Lobelia. Ekspresi wajah wanita itu menyiratkan ia sedang memikirkan komentar perpisahan yang pedas; tapi, sambil membalikkan badannya di tangga, ia hanya bisa mengatakan,
"Kau akan menyesal, anak muda! Kenapa kau tidak pergi juga? Kau tidak berhak berada di sini; kau bukan Baggins-kau... kau... seorang Brandybuck!"
"Kaudengar itu, Merry? Itu sebuah penghinaan," kata Frodo sambil menutup pintu di belakang Lobelia.
"Itu justru pujian," kata Merry Brandybuck, "dan karenanya, tentu, tidak benar."

***

Lalu mereka berkeliling di lubang itu, dan mengusir tiga anak muda hobbit (dua Boffin dan satu Bolger) yang sedang menggedor dinding, membuat lubang di salah satu gudang bawah tanah. Frodo juga bergumul dengan Sancho Proudfoot muda (cucu Odo Proudfoot tua), yang sudah memulai penggalian di dapur besar, karena mengira mendengar bunyi gema di sana. Legenda tentang emas Bilbo menimbulkan harapan dan perasaan ingin tahu; karena emas yang sudah menjadi legenda (yang diperoleh secara misterius, atau bahkan secara tidak wajar) secara umum menjadi milik siapa pun yang menemukannya-kecuali bila pencariannya terhalang.
Ketika Frodo sudah berhasil mengatasi Sancho dan mendorongnya keluar, ia jatuh terkulai di kursi di koridor. "Sudah saatnya menyudahi kegiatan, Merry," katanya. "Kuncilah pintu, dan jangan buka untuk siapa pun lagi hari ini, meski mereka membawa palu godam." Lalu ia pergi menyegarkan diri dengan secangkir teh yang sudah dingin.
Baru saja ia duduk, terdengar ketukan pelan di pintu depan. "Paling-paling Lobelia lagi," pikir Frodo. "Pasti dia sudah memikirkan sesuatu yang sangat keji, dan kembali untuk mengucapkannya. Biar saja dia menunggu.
Ia melanjutkan minum teh. Ketukan itu berulang, lebih keras, tapi Frodo tidak mengacuhkapnya. Tiba-tiba kepala Gandalf si penyihir muncul di jendela.
"Kalau kau tidak membiarkan aku masuk, Frodo, akan kudobrak pintumu sampai menembus rumahmu dan keluar ke bukit," katanya.
"Gandalf-ku yang baik! Sebentar!" seru Frodo, lalu ia lari keluar ruangan, menuju pintu. "Masuk! Masuk! Kukira kau Lobelia."
"Kalau begitu, aku memaafkanmu. Tapi beberapa saat yang lalu aku melihatnya, mengendarai kereta kuda menuju Bywater dengan ekspresi yang bisa membuat susu segar mengental."
"Dia hampir saja membuatku mengental. Benar, aku sudah hampir mencoba memakai cincin Bilbo. Aku ingin sekali menghilang."
"Jangan lakukan aku!" kata Gandalf sambil duduk. "Berhati-hatilah dengan cincin itu, Frodo! Malah sebenarnya sebagian alasanku datang kemari karena aku ingin menyampaikan sesuatu."
"Jadi, kenapa?"
"Apa yang sudah kauketahui?"
"Hanya yang diceritakan Bilbo. Aku sudah mendengar ceritanya: bagaimana dia menemukan cincin itu dan bagaimana dia menggunakannya; dalam pengembaraannya, maksudku."
"Kisah yang mana, aku ingin tahu," kata Gandalf.
"Oh, bukan yang diceritakannya pada orang-orang kerdil dan yang ditulisnya dalam bukunya," kata Frodo. "Dia menceritakan kisah sebenarnya, tak lama setelah aku mulai tinggal di sini. Katanya kau mendesaknya terus sampai dia menceritakannya padamu, jadi sebaiknya aku juga tahu. 'Tak ada rahasia di antara kita, Frodo,' kata Bilbo, 'tapi cerita itu tak boleh diteruskan. Bagaimanapun, cincin itu milikku.'"
"Itu menarik sekali," kata Gandalf "Well, bagaimana menurutmu?"
"Kalau maksudmu isapan jempol tentang cincin yang katanya diberikan sebagai 'hadiah' itu, yah, menurutku kisah sebenarnya jauh lebih masuk akal, dan aku tidak mengerti mengapa harus diubah. Sangat di luar kebiasaan Bilbo, dan menurutku itu agak aneh."
"Aku juga berpendapat begitu. Tapi hal-hal aneh memang bisa terjadi pada orang-orang yang memiliki harta seperti itu-kalau mereka menggunakannya. Biarlah ini menjadi peringatan untukmu agar berhati-hati dengannya. Mungkin cincin itu mempunyai kekuatan-kekuatan lain, bukan sekadar membuatmu menghilang sesuka hatimu."
"Aku tidak mengerti," kata Frodo.
"Aku juga tidak," jawab Gandalf. "Tapi aku mulai bertanya-tanya tentang cincin itu, terutama sejak tadi malam. Kau tak perlu khawatir. Tapi kalau kau mau memperhatikan nasihatku, gunakan sesekali saja, atau bahkan tidak sama sekali. Setidaknya kumohon kau jangan menggunakannya dengan cara apa pun yang bakal menimbulkan desas-desus atau kecurigaan. Kukatakan sekali lagi: simpanlah dengan aman, dan rahasiakan!"
"Kau misterius sekali! Apa yang kautakutkan?"
"Aku tidak yakin, maka aku tidak akan mengatakan lebih banyak. Mungkin aku bisa menceritakan sesuatu padamu kalau aku sudah kembali. Aku akan segera pergi: jadi, selamat tinggal untuk sementara ini." ia bangkit berdiri.
"Segera!" seru Frodo. "Wah, kukira kau akan tinggal sedikitnya seminggu. Aku sudah mengharapkan bantuanmu."
"Memang sebenarnya maksudku begitu, tapi aku terpaksa mengubah niatku. Mungkin aku akan pergi cukup lama; tapi aku akan datang dan menemuimu lagi, sesegera mungkin. Tunggulah aku! Aku akan menyelinap- diam-diam. Aku tidak akan sering-sering lagi berkunjung secara terbuka ke Shire. Tampaknya aku sudah mulai tidak disukai. Katanya aku mengganggu dan merusak kedamaian. Bahkan beberapa orang menuduhku mendorong Bilbo pergi, atau lebih buruk dari itu. Kalau man tahu, katanya ada persekongkolan antara kau dan aku untuk memperoleh harta Bilbo."
"Keterlaluan!" seru Frodo. "Maksudmu Otho dan Lobelia. Jahat sekali! Aku mau memberikan Bag End dan semuanya pada mereka, asal aku bisa mendapatkan Bilbo kembali dan bisa mengembara bersamanya. Aku cinta Shire, tapi entah mengapa, aku mulai berharap aku juga bisa pergi. Aku bertanya-tanya, apakah aku masih akan bertemu lagi dengannya."
"Aku juga begitu," kata Gandalf. "Dan aku bertanya-tanya tentang banyak hal lain. Selamat tinggal! Jaga dirimu sendiri! Tunggulah aku, terutama pada saat-saat tak terduga! Selamat tin-gall"
Frodo mengantar Gandalf sampai ke pintu. Gandalf melambaikan tangannya untuk terakhir kali, dan berjalan sangat cepat; tapi, menurut Frodo, penyihir itu berjalan bungkuk sekali, tidak seperti biasanya, seolah ia mengangkat beban yang sangat berat. Malam mulai turun, dan sosok Gandalf yang berjubah dengan cepat lenyap ditelan senja. Frodo tidak bertemu lagi dengannya untuk waktu yang sangat lama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar