Sumbangan / Donate

Donate (Libery Reserve)


U5041526
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Dinasty Tang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Dinasty Tang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 September 2010

Dinasti Tang

Dinasti Tang dapat dikatakan sebagai salah satu masa paling penting dalam perjalanan sejarah bangsa Tiongkok, dan dapat dikatakan sama pentingnya seperti pada masa Dinasti Han.

Masa Dinasti Tang juga merupakan masa keemasan bagi seni dan sastra. Pemerintah mendukung diadakannya ujian negara. Persaingan ketat ini diadakan untuk mencari orang-orang yang benar-benar berbakat.

Disamping segala gemerlap yang ada, Dinasti Tang memiliki sebuah kelemahan besar karena terlalu bergantung pada kekuasaan para bangsawan dan panglima-panglima perang. Kelemahan ini yang membuat banyak lulusan ujian kenegaraan yang langsung diikat tali persaudaraan oleh para bangsawan dan panglima-panglima perang dengan harapan semakin memperkuat kedudukan mereka seiring dengan semakin naiknya jabatan sang sarjana.

Sejak masa Dinasti Tang hingga hari akhir Dinasti Qing, para pejabat yang lulus ujian kenegaraan sering berfungsi sebagai penghubung antara rakyat jelata dengan pemerintah.

Kegemilangan Dinasti Tang semakin redup saat pemerintahan mulai dirasuki pejabat-pejabat yang korup, keguncangan ekonomi, dan pemberontakan terjadi dimana-mana.

Wu Zetian

Lahir pada A.D. 624 dari keluarga pejabat pemerintah pada masa pemerintahan Kaisar Gaozu. Ayahnya, Wu Shihuo, dahulu adalah seorang petani, beralih menjadi pedagang kayu, dan kemudian menjadi pejabat.

Tahun A.D. 637, pada masa pemerintahan Kaisar Li Shimin, Nona Wu yang cantik diundang ke istana raja, dan menjadi seorang selir dengan gelar Cairen (orang berbakat), sebuah gelar selir tingkat ke lima.

Wu Zetian menjadi seorang biarawati saat kematian Kaisar Li Shimin, A.D. 649.

Tiga tahun kemudian, Kaisar Li Zhi, putra Kaisar Li Shimin, memanggil Wu Zetian kembali ke istana sebagai seorang selir bagi dirinya.

Demi mendapatkan dukungan dari kalangan istana, baik dayang istana maupun para pejabat pemerintahan, Wu Zetian banyak memberi hadiah kepada mereka.

Tahun A.D. 653 Wu si Cantik melahirkan seorang putra, Li Hong. Dan membuat dirinya diangkat menjadi selir tingkat ke dua, Zhaoyi.

Demi mencapai kedudukan yang lebih tinggi, Wu Zetian menyingkirkan semua penghalang yang ada.

Nyonya Xiao Shu, seorang selir kesayangan kaisar, menjadi korban ambisi Wu Zetian.

Tahun A.D. 655 Wu Zetian melahirkan seorang anak perempuan, dan demi tujuan untuk menyingkirkan Permaisuri Wang, Wu tega membunuh putrinya sendiri. Sayang rencana itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan.

Tetapi Wu Zetian terus berusaha hingga akhirnya ia menjadi Permaisuri.

Setelah menjadi Permaisuri, Wu mulai menancapkan kukunya lebih kuat pada diri Kaisar Li Zhi.

Banyak korban berjatuhan demi tercapainya ambisi Wu Zetian untuk menguasai seluruh negeri.

Tahun A.D. 683 Kaisar Li Zhi dari Dinasti Tang meninggal dunia. Li Xian, putra ketiga Permaisuri Wu naik takhta.

Tahun A.D. 684, Permaisuri Wu mengangkat putra bungsunya, Li Dan, menjadi kaisar. Ia dikenal sebagai Kaisar Ruizong dari Tang.

Pada tahun A.D. 684 terjadi usaha pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh Xu Jingye, Tang Zhiqi, Wei Siwen, dan Luo Binwang untuk menggulingkan Wu Zetian.

Pemberontakan itu berhasil ditumpas oleh tentara yang dipimpin oleh Jenderal Li Xiaoyi, Zuo Yingyang, Hei Chichan, dan Zuo Baotao.

Untuk semakin memperkokoh kedudukannya, Wu Zetian membuat seolah-olah ada perintah dari Langit bahwa seorang pemimpin wanita akan muncul di bumi dan membawa kemakmuran bagi kerajaan.

Pemberontakan kembali terjadi, kali ini dilakukan oleh Li Yuanjia (Pangeran Han), Li Yuangui (Pangeran Huo), dan Li Lingui (Pangeran Lu).

Jenderal Qiu Shengji, Qu Chongyu, Cen Changqing, dan Zhang Guanfu menumpas habis para pemberontak.

Untuk menumpas habis pemberontakan hingga ke akarnya, Wu Zetian membuat pengumuman resmi bahwa siapa saja yang dapat memberikan informasi tentang para pemberontak akan mendapat hadiah besar dan akan menjadi pejabat.

Setelah situasi politik stabil dan tidak ada kekhawatiran akan adanya pemberontakan, Wu mulai membersihkan pemerintahannya dari para pejabat korup.

Wu Zetian Pada tahun A.D. 690, Wu Zetian menurunkan Li Dan, Kaisar Ruizong, dari takhta dan secara resmi menduduki takhta dan memberi gelar bagi dirinya sendiri “Kaisar Wanita yang Hebat dan Bijaksana”.

Wu Zetian banyak membawa kemakmuran dan kedamaian bagi rakyat selama masa pemerintahannya.

Program pertanian diadakan sehingga rakyat dapat menikmati hasil panen yang melimpah.

Sistem ujian kerajaan diberlakukan untuk mencari orang-orang berbakat.

Kebijaksaan dengan negara-negara perbatasan yang merupakan kombinasi dari kekuasaan, konsiliasi, dan ketentraman dijalankan, sehingga situasi di sekitar perbatasan menjadi lebih stabil dan aman daripada selama masa pemerintahan Kaisar Li Zhi.

Para dayang istana diperintahkan untuk belajar membaca dan menulis.

Pada tahun A.D. 698, sehari setelah pembicaraan antara Ji Xu, seorang pegawai tinggi, dan Zhang bersaudara, Kaisar Wu Zetian mengirim Xu Boyan untuk memanggil Li Xian, Pangeran Luling, ke ibukota. Ia menjadi putra mahkota pada tahun itu juga.

Tahun A.D. 705 Wu Zetian sakit parah. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para pemberontak untuk memaksa Wu Zetian menyerahkan takhta kepada Li Xian.

Tidak beberapa lama kemudian, Wu Zetian diasingkan ke Istana Shangyang, dan ia wafat dalam usianya yang ke 82.

Monumen batu kosong berdiri tegak di depan makam Wu Zetian, dan masih utuh sampai saat ini. Tonggak batu tanpa kata-kata ini memberi ruang kosong untuk pemikiran yang mendalam: apakah menulis kebaikan atau keburukannya?

Hua Mulan

Salah satu figur yang terkenal karena menyamar sebagai pria adalah Hua Mulan. Namanya telah lama disejajarkan dengan kata “pahlawan”, meskipun terdapat beberapa perbedaan pendapat mengenai nama sebenarnya. Menurut Buku Riwayat Ming, nama keluarganya adalah Zhu, sedangkan Buku Riwayat Qing mengatakan Wei. Xu Wei mengemukakan pendapat yang lain, bahwa Mulan bergabung dengan tentara karena ayahnya, dia memberikan nama keluarga Hua. Yang lainnya berdasarkan Nyayian Mulan memberikan nama keluarga Mu.

Tempat asal dan pada jaman apa Mulan hidup juga masih merupakan kabut. Dia dikatakan hidup pada saat kerajaan Wan di Hebei, lainnya mempercayai bahwa dia berasal dari propinsi Shangqiu di Henan, dan pendapat lainnya mengatakan dia adalah orang asli dari protektorat Liang di Gansu. Satu hal yang sama mengenai Mulan adalah dia berasal dari daerah yang dikenal sebagai Daratan Tengah (Tiongkok).

Cheng Dachang dari dinasti Song mencatat bahwa Mulan hidup pada jaman antara dinasti Sui dan Tang. Song Xiangfeng dari dinasti Qing menyatakan bahwa Mulan hidup pada saat dinasti Sui, sedangkan Yao Ying, yang juga berasal dari dinasti Qing, mempercayai bahwa Mulan hidup pada jaman Enam Dinasti. Tidak ada catatan resmi sejarah dinasti Song mengenai diri Mulan. Cerita-cerita yang beredar di Tiongkok menunjukkan bahwa Mulan hidup pada saat sebelum dinasti Tang.

Semua buku sejarah dan legenda menunjukkan satu kesepakatan mengenai jasa besarnya. Dikatakan bahwa ayah Mulan menerima perintah untuk mengabdi kepada tentara. Dia sudah mengetahui hal itu sebelumnya namun saat itu dia sudah tua dan lemah. Mulan mengetahui hal bahwa tersebut adalah mustahil bagi ayahnya untuk bergabung dengan tentara dan satu-satunya adik lelaki Mulan masih terlalu muda. Maka Mulan memutuskan untuk menyamar sebagai pria dan menggantikan posisi ayahnya.

Para tentara melewati banyak pertempuran yang sangat sulit untuk beberapa tahun sebelum mereka diperbolehkan pulang ke rumah. Mulan dipanggil ke pengadilan oleh Kaisar yang menginginkan menunjuknya sebagai perwira tinggi atas jasa-jasa besarnya. Namun Mulan menolak penunjukan tersebut dan memilih menerima sebuah kuda.

Pada kemudian hari, ketika para bekas atasannya berkunjung ke tempat Mulan, mereka baru mengetahui bahwa Mulan adalah seorang wanita.

Cerita ini telah dikenal luas dan banyak memberikan inspirasi bagi karya-karya sastra seperti sajak, puisi, opera dan lukisan.

Li Zhi

Pada tahun A.D. 649, Li Zhi naik takhta sebagai Kaisar Gaozong setelah kematian sang ayah, Kaisar Taizong.

Tiga tahun setelah naik takhta, Kaisar Li Zhi memanggil kembali seorang selir ayahnya dari biara sebagai selirnya. Wu Zetian adalah nama dari selir itu.

Semakin demi sedikit Kaisar Li Zhi mulai tergantung kepada Wu Zetian dalam setiap pengambilan keputusan.

Kaisar Gaozong menyerahkan semua urusan negara kepada Putra Mahkota Li Hong pada tahun A.D. 671.

Sampai akhir hayatnya, Kaisar Gaozong adalah seorang kaisar tanpa kekuasaan langsung. Ia meninggal pada A.D. 683.

Sepeninggalan Kaisar Gaozong, takhta berpindah ke tangan Li Xian, yang juga dikenal sebagai Kaisar Zhongzhong.

Masa Transisi Sui-Tang

Masa transisi Sui-Tang (Hanzi: 隋末唐初, Sui mo Tang chu) adalah masa peralihan dari Dinasti Sui ke Dinasti Tang yang penuh konflik dan pertumpahan darah. Pada masa itu, Tiongkok terpecah-pecah atas beberapa negara independen yang berumur pendek, negara-negara ini dipimpin oleh para mantan pejabat dan pemimpin militer Sui dan para pemimpin pemberontakan petani. Salah satu mantan jenderal Sui bernama Li Yuan akhirnya berhasil mempersatukan kembali Tiongkok dan mendirikan Dinasti Tang, ia menjadi kaisar pertamanya dengan gelar Kaisar Tang Gaozu. Periode ini berawal dari tahun 613 ketika Kaisar Yang dari Sui melakukan kampanye militer melawan Kerajaan Goguryeo, Korea. Perang yang gagal ini berujung tragedi bagi Tiongkok, banyak pasukan yang dikirim ke Korea tidak pernah kembali yang selanjutnya berakibat desersi di tubuh militer dan pemberontakan dari rakyat yang direkrut paksa untuk dikirim dalam kampanye berikutnya. Periode ini baru berakhir tahun 628 dengan dikalahkannya Kerajaan Liang, rezim separatis terakhir pimpinan Liang Shidu oleh Kaisar Tang Taizong (Li Shimin), putra Li Yuan dan kaisar kedua Tang.

***

Invasi Tiongkok atas Goguryeo dan awal pemberontakan

Hingga tahun 611, Tiongkok di bawah Dinasti Sui telah menikmati masa damai dan makmur sejak Kaisar Wen dari Sui mengalahkan Dinasti Chen (598) dan mempersatukan negara. Selama beberapa dekade tidak ada perang besar selain konflik perbatasan dengan Kerajaan Goguryeo dan suku Tujue Timur (Turki) yang menjadi negara protektorat Sui sejak kepemimpinan Qimin Khan, Ashina Rangan,
serta sebuah konflik internal antara Yang Guang (yang kelak menjadi Kaisar Yang dari Sui tahun 604) dengan Yang Liang, Pangeran Han. Pada tahun 610, Raja Yeong-yang dari Goguryeo (Gao Yuan) menolak memberi penghormatan pada Kaisar Yang, hal ini membuat Kaisar Yang murka dan menyusun rencana untuk menyerang Goguryeo. Baik kaisar maupun rakyat Tiongkok yakin kampanye militer ini akan
berjalan mulus.

Namun perang itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sumber daya manusia dan kebutuhan perang, seperti makanan, bahan-bahan untuk membangun armada dan alat-alat perang dikirim ke basis operasi di pos militer Zhuo (sekarang Beijing). Hal ini menyebabkan kekacauan peredaran hasil pertanian karena sebagian besar dipakai untuk berperang, kelaparan melanda berbagai wilayah terutama di bagian utara Tiongkok. Mereka yang dipilih untuk mengirim persediaan logistik ke pos militer Zhuo banyak yang meninggal dalam perjalanan. Pada tahun 611, orang-orang yang direkrut paksa itu mulai berani memberontak, pemberontakan petani meletus dibawah pimpinan Wang Bo dan Liu Badao. Saat itu kaisar belum menganggap serius pemberontakan-pemberontakan itu, ia hanya mengerahkan milisi lokal bentukan pemerintah, namun mereka tidak becus menangani pemberontakan yang dari hari ke hari semakin bertumbuh.

Tanpa mempedulikan penderitaan rakyat, Kaisar tetap mengirimkan ekspedisi militer pertamanya ke Goguryeo tahun 612 dengan pasukan berjumlah sekitar satu juta orang. Pasukan besar itu menyeberangi Sungai Liao dan memasuki perbatasan Goguryeo. Kaisar sendiri secara pribadi memimpin pasukannya mengepung kota Liaodong (sekarang Liaoyang, Liaoning), sementara itu ia mengirimkan Jenderal Yuwen Shu dan Yu Zhongwen memimpin sisa pasukannya memasuki wilayah Goguryeo menuju ke ibukotanya, Pyongyang. Disana mereka bergabung dengan armada yang dipimpin oleh Jenderal Lai Hu’er. Namun Kaisar Yang tidak pernah bisa merebut Liaodong, Yuwen dan Yu sebelum mencapai Pyongyang sudah dihadang oleh Jenderal Eulji Mundeok dari Goguryeo, mereka kalah dalam Pertempuran Salsu hingga terpaksa harus mundur dengan meninggalkan banyak korban di pihaknya. Musim gugur tahun itu, kaisar terpaksa membatalkan kampanye militer itu dan mundur. Dalam perang ini Tiongkok berhasil memperoleh sedikit daerah namun dengan korban jiwa sebesar kurang lebih 300.000 orang.

Tahun 613, Kaisar Yang kembali mengirimkan kampanye militer kedua ke Korea, padahal pemberontakan petani di dalam negeri semakin banyak dan serius. Sekali lagi ia memimpin pasukannya ke Liaodong untuk mengepung kota itu kedua kalinya, sementara itu Yuwen Shu dan Yang Yichen diperintahkan untuk menyerbu Pyongyang. Namun ketika kaisar sedang di Liaodong, Jenderal Yang Xuan’gan, yang bertugas mengatur lalu-lintas perbekalan di dekat ibukota timur, Luoyang, memberontak, ia memimpin pasukannya menyerbu Luoyang. Mendengar kabar ini, kaisar terpaksa menarik mundur pasukannya dari Liaodong. Yuwen Shu dan Qutu Tong diperintahkan untuk menyelamatkan Luoyang. Keduanya bergabung dengan Fan Zigai dan Wei Wensheng yang masing-masing adalah komandan tertinggi penjaga kota Luoyang dan ibukota barat Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi). Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil ditumpas, Yang bunuh diri dalam pelariannya, keluarga dan pengikutnya dihukum mati dengan kejam, namun pemberontakan demi pemberontakan terus meletus di berbagai daerah menentang kesewenang-wenangan sang kaisar.

Namun demikian, Kaisar Yang malah kembali mengirim pasukan ke Korea untuk ketiga kalinya tahun 614. Ketika Jenderal Lai Hu’er tiba di Sungai Liao, Goguryeo menyerah, sebagai tanda penyerahan itu mereka menyerahkan Husi Zheng, salah seorang pengikut Yang yang kabur ke Goguryeo. Kaisar pun membatalkan kampanye militernya, namun ketika ia kembali menuntut penghormatan pada dirinya, Raja Yeong-yang mengabaikan tuntutan itu sehingga Kaisar Yang berencana untuk mengirim ekspedisi ke-empat, namun hal ini tidak pernah terlaksana. Pada musim gugur 615, ketika kaisar mengunjungi Yanmen (sekarang Xinzhou, Shanxi), putra Qimin Khan yang telah menggantikannya, Shibi Khan, Ashina Duojishi, yang tidak senang dengan tindakan Kaisar Yang yang melemahkan sukunya dengan taktik adu domba, melakukan serangan dadakan terhadap Yanmen dan mengepung kota itu. Pasukan Sui yang sebagian besar masih setia pada kaisar segera menuju ke Yanmen untuk membebaskan kota itu. Kaisar menjanjikan hadiah besar bagi mereka yang menolongnya. Namun setelah mereka berhasil menghalau musuh, kaisar malah mengingkari janjinya sehingga menimbulkan kekesalan di kalangan militer.

***

Pecahnya Kekaisaran Sui

Karena semakin meluasnya pemberontakan petani di wilayah utara Tiongkok, Kaisar Yang tidak kembali ke Chang’an maupun Luoyang. Bersama keluarganya ia mengungsi ke Jiangdu (sekarang Yangzhou, Jiangsu) pada musim gugur 616. Dengan mengungsinya kaisar dari Luoyang ke Jiangdu, kaum pemberontak di sekitarnya berkoalisi di bawah pimpinan Li Mi, mantan ahli strategi Yang Xuan’gan, yang
dianggap calon kaisar masa depan oleh sebagian besar pemimpin pemberontak utara. Namun Li, tidak pernah berhasil mencaplok Luoyang ataupun mengklaim gelar kekaisaran bagi dirinya.

Sementara itu, Jenderal Yang Yichen sedang berjuang mati-matian memadamkan pemberontakan di utara Sungai Kuning dan ia berhasil meraih banyak kemenangan gemilang. Namun sayangnya, Kaisar Yang dan perdana menterinya, Yu Shiji malah iri dengan prestasi dan jasa-jasa Yang. Sehingga Yang dipanggil pulang dengan dalih untuk menerima promosi, namun yang didapat adalah penonaktifan dirinya. Yang meninggal tak lama kemudian dalam kesedihan. Dengan tidak adanya jenderal yang mampu, aktivitas pemberontak di utara Sungai Kuning semakin merajarela dan tak terkendali, pemimpin terkuat di wilayah itu adalah Dou Jiande.

Hingga tahun 617, sejumlah pemimpin pemberontak baik pemberontak petani maupun mantan jenderal Sui, telah menguasai wilayah yang cukup signifikan, antara lain:

- Du Fuwei, pemberontak petani, menguasai wilayah selatan Anhui.
- Gao Kaidao, pemberontak petani, menguasai hampir seluruh wilayah utara Hebei.
- Liang Shidu, pemberontak petani, menguasai wilayah tengah Mongolia Dalam dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Liang.
- Li Gui, mantan pejabat Sui, menguasai wilayah tengah dan barat Gansu dan mengangkat diri sebagai Pangeran Liang.
- Li Yuan, mantan pejabat Sui dan sepupu kaisar, menguasai wilayah tengah Shanxi dan belakangan mengangkat cucu kaisar Yang You, Pangeran Dai, sebagai kaisar di Chang’an.
- Lin Shihong, pemberontak petani, menguasai Jiangxi dan Guangdong, serta mengangkat diri sebagai Kaisar Chu.
- Liu Wuzhou, pemberontak petani, menguasai wilayah utara Shanxi dan mengangkat diri sebagai Dingyang Khan.
- Luo Yi, mantan jenderal Sui, menguasai wilayah Beijing.
- Xiao Xi, mantan pejabat Sui dan cucu Kaisar Xuan dari Liang Barat, menguasai Hubei, Hunan, dan Guangxi, mengangkat diri sebagai Kaisar Liang.
- Xue Ju, pemberontak petani, menguasai wilayah timur Gansu dan barat Shaanxi, mengangkat diri sebagai Pangeran Penakluk Qin Barat
- Zhu Can, mantan pejabat Sui, mengacau bersama pasukannya di wilayah selatan Henan dan tenggara Shaanxi, mengangkat diri sebagai Pangeran Jialuolou dan kemudian Kaisar Chu

Beberapa pemimpin pemberontak tersebut, termasuk Li Yuan, Liu Wuzhou, Gao Kaidao, Liang Shidu, dan Dou Jiande pernah menyatakan menyerah dan menerima bantuan militer dari Tujue Timur. Tahun 617, Li Yuan mencaplok Chang’an dan mengangkat cucu kaisar, Yang You sebagai Kaisar Gong dan menjadikan Kaisar Yang sebagai mantan kaisar (太上皇,Taishang Huang), sementara Li sendiri menjadi wali dengan gelar Pangeran Tang. Deklarasi ini tidak diakui oleh sebagian besar wilayah Sui yang masih menganggap Kaisar Yang sebagai kaisar yang sah.

***

Kematian Kaisar Yang, runtuhnya Sui dan berdirinya Tang

Kaisar Yang merasa dirinya aman-aman saja dibawah perlindungan pasukan elit Xiaoguo di Jiangdu, padahal keadaan negara saat itu sudah semakin gawat. Ia tidak terlalu peduli untuk menangani pemberontakan dan hanya mengirim Jenderal Wang Shichong ke Luoyang untuk mempertahankan kota itu dari serbuan pasukan Li Mi. Kaisar bahkan tidak berniat untuk kembali ke utara dan bermaksud memindahkan ibukota ke Danyang (sekarang Nanjing, Jiangsu), di wilayah selatan Sungai Yangtze. Namun anggota pasukan Xiaoguo yang sebagian besar berasal dari utara dan mengkhawatirkan keluarga mereka disana, mulai melakukan desersi, mereka yang tertangkap dikenai hukuman berat. Keresahan melanda tubuh pasukan elit itu sehingga para perwiranya berkomplot untuk melakukan kudeta, mereka mendukung Yuwen Huaji, Adipati Xu (putra Yuwen Shu) sebagai pemimpin kudeta. Musim semi 618, mereka melaksanakan rencana itu dan membunuh Kaisar Yang. Kemudian Yuwen mengangkat keponakan Kaisar Yang, Yang Hao, Pangeran Qin sebagai kaisar boneka, dan ia sendiri sebagai walinya. Ia lalu bertolak dari Jiangdu ke utara bersama pasukan Xiaoguo untuk memerangi pemberontak.

Kabar kematian kaisar segera menyebar ke seantero wilayah Tiongkok. Di Chang’an, Li Yuan meresponnya dengan menuntut Kaisar Gong menyerahkan tahta padanya, ia mendirikan dinasti baru, Dinasti Tang, dengan dirinya sebagai kaisar pertama. Sementara di Luoyang, tujuh orang pejabat terkemuka mengangkat cucu lain Kaisar Yang, Yang Tong, Pangeran Yue, sebagai kaisar dan ia diakui sebagai kaisar yang sah oleh sebagian besar pos militer yang masih setia pada Sui. Li Mi yang posisinya terjepit antara pemerintah Sui di Luoyang dan pasukan Yuwen yang sedang menuju utara, untuk sementara menjalin persekutuan dengan pemerintah di Luoyang dan mengakui Yang Tong sebagai pemimpin yang sah. Setelah Li mengalahkan Yuwen, Wang Shichong yang menentang persekutuan itu, mengambil alih kekuasaan dan menjadi wali atas Yang Tong, dengan demikian persekutuan dengan Li Mi putus. Pada akhir tahun itu, Wang melakukan serangan dadakan terhadap Li, Li yang kalah terpaksa melarikan diri ke wilayah Tang. Tahun berikutnya ia mencoba berontak dan dikalahkan pemerintah Tang, lalu dihukum mati.

Di tempat lain, Xue Ju telah wafat pada awal 618 dan digantikan oleh putranya, Xue Rengao. Li Shimin, Pangeran Qin, putra Li Yuan, mengalahkan dan membunuh Xue, seluruh wilayah kekuasaannya pun dianeksasi oleh Tang. Pada saat yang sama, Dou Jiande mengkonsolidasikan wilayahnya di utara Sungai Kuning, ia mengalahkan dan menghukum mati Yuwen yang telah meracuni Yang Hao dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Xu, namun Dou tidak pernah berhasil mengalahkan Luo Yi. Luo sendiri akhirnya menyerah pada pemerintah Tang. Sementara Zhu Can menghadapi perlawanan sengit dari rakyat yang membenci kekejamannya, ia mempertimbangkan antara menyerah pada Yang Tong di Luoyang atau pada Dinasti Tang, dan akhirnya ia memilih pilihan pertama. Pada musim panas 619, Wang menggulingkan Yang Tong dan mendirikan dinastinya sendiri, Dinasti Zheng, dengan dirinya sebagai kaisar.

***

Penyatuan kembali dibawah Tang

Sementara di Gansu, Li Gui dikudeta oleh bawahannya, An Xinggui dan diserahkan pada Tang. Tang sendiri sedang menghadapi ancaman dari front lain, dimana Liu Wuzhou melakukan ekspansi ke selatan dan merebut sebagian besar wilayah Shanxi yang adalah milik Tang sehingga ibukota Tang, Chang’an terancam. Di wilayah bawah Sungai Yangtze, yang juga bergolak sejak kematian Kaisar Yang, terjadi perebutan kekuasaan tiga tokoh penting disana. Mereka adalah: Shen Faxing, mantan pejabat Sui, yang mengangkat diri Pangeran Liang dan menguasai sebagian besar wilayah selatan Sungai Yangtze; Li Zitong, pemimpin pemberontak, yang menguasai Jiangdu dan sekitarnya dan mengangkat diri sebagai Kaisar Wu; dan Du Fuwei, yang menyerah pada Tang dan menerima gelar Pangeran Wu.

Pada akhir 619, Li Shimin melakukan serangan balasan terhadap Liu Wuzhou. Pada musim panas 620, ia berhasil mengalahkan Liu. Liu kabur ke wilayah Tujue Timur dan wilayahnya jatuh ke tangan pemerintah Tang. Setelah mengalahkan Liu, Li mengalihkan sasarannya ke Kerajaan Zheng pimpinan Wang Shichong. Ia memimpin pasukannya ke ibukota Zheng, Luoyang dan mengepungnya, banyak kota-kota Zheng menyerah pada Tang sehingga Wang terpaksa meminta bantuan pada Kerajaan Xia pimpinan Dou Jiande. Dou yang walaupun secara pribadi tidak menyukai Wang, berpikir, bila Tang berhasil mengalahkan Wang, wilayahnya akan terancam dan menjadi sasaran berikutnya. Maka, Dou memimpin pasukannya ke Luoyang untuk membebaskan kota itu. Pada saat yang sama, Du Fuwei (yang telah berganti marga menjadi Li atas anugerah Kaisar Gaozu) berhasil mengalahkan Li Zitong yang baru mengalahkan Shen Faxing dan memaksanya bunuh diri. Li mencaplok bekas wilayah Shen sementara bekas wilayahnya sendiri dicaplok oleh Li Fuwei dibawah panji Dinasti Tang.

Musim gugur 621, Li Shimin menahan pasukan Dou yang menuju ke Luoyang di Terusan Hulao untuk mencegah mereka bergabung dengan pasukan Zheng. Dalam Pertempuran Hulao, Li mengalahkan Dou dan menangkapnya. Dengan tidak adanya bala bantuan, Wang terpaksa menyatakan menyerah. Kaisar Gaozu menjatuhkan hukuman mati terhadap Dou dan hukuman pengasingan terhadap Wang, namun ketika dalam penahanan untuk menanti dikirim ke tempat pengasingan ia dibunuh oleh Dugu Xiude, yang menaruh dendam padanya karena ayahnya dibunuh Wang. Wilayah Wang dan Dou dianeksasi Tang, namun pada akhir tahun itu bekas wilayah Dou berontak dibawah pimpinan Liu Heita, seorang jenderal Dou yang mengangkat dirinya sebagai Pangeran Handong. Pemberontakan ini diikuti oleh Xu Yuanlang, pemimpin pemberontak dari Shandong yang pernah menyerah pada Zheng dan Tang, ia mengangkat dirinya sebagai Pangeran Lu.

Pada tahun itu juga, Jenderal Li Xiaogong, Pangeran Zhao, sepupu Kaisar Gaozu, menyerang Kerajaan Liang pimpinan Xiao Xi, ia mengepung ibukota Liang, Jiangling (sekarang Jingzhou, Hubei). Xiao yang berhasil dikelabuhi siasat Jenderal Li Jing, tidak menyadari bahwa bala bantuan sedang mendekat, menyerah dan sebagian besar wilayahnya jatuh ke tangan Tang dan sebagian lainnya pada Lin Shihong. Pada saat hampir bersamaan, Li Fuwei berhasil mengalahkan Li Zitong dan memaksanya menyerah, wilayahnya pun dikuasai oleh pemerintah Tang.

Musim semi 622, Li Shimin berhasil mengalahkan Liu Heita dan memaksanya kabur ke wilayah Tujue. Namun Liu kembali ke Tiongkok akhir tahun itu dengan bala bantuan dari Tujue dan berhasil merebut kembali bekas wilayah Xia. Musim dingin tahun itu, Liu kembali menerima kekalahan, kali ini dari kakak Li Shimin, putra mahkota Li Jiancheng. Pada musim gugur 623, Liu yang dalam pelarian, dikhianati oleh bawahannya, Zhuge Dewei, yang meringkus dan menyerahkannya pada Li Jiancheng yang lalu menghukum mati Liu. Dengan kematian Liu, Xu Yuanlang yang telah berkali-kali dikalahkan pasukan Tang, kabur dan akhirnya dibunuh dalam pelariannya. Lin Shihong meninggal pada tahun 622, sepeninggalnya kerajaannya tercerai-berai dan satu-persatu wilayahnya menyerah pada Tang. Maka hingga saat itu rezim separatis yang tersisa tinggal Liang Shidu dan Gao Kaidao, sebagian besar Tiongkok telah dipersatukan di bawah Dinasti Tang.

Musim gugur 623, salah satu letnan Li Fuwei bernama Fu Gongshi memberontak di Danyang, ia mengangkat diri sebagai Kaisar Song dan menguasai daerah bekas kekuasaan Li. Tahun berikutnya ia dikalahkan dan dibunuh oleh Li Xiaogong dan wilayahnya kembali dikuasai Tang. Sementara itu Gao dikudeta oleh bawahannya, Zhang Jinshu, dan melakukan bunuh diri. Kerajaan Yan yang didirikannya juga dianeksasi oleh Tang. Liang Shidu yang aman dalam perlindungan Tujue Timur terus bertahan dari Tang yang sering mengalami gangguan dari serbuan suku barbar itu.

Tahun 626, terjadi Kudeta di Gerbang Xuanwu yang merupakan puncak perselisihan antara Li Shimin dengan kakaknya, Li Jiancheng. Li Shimin membunuh Li Jiancheng dan adiknya, Li Yuanji yang mendukung kakaknya, lalu memaksa ayahnya mengangkatnya sebagai pewaris tahta. Setelah ayahnya mengundurkan diri bulan berikutnya, Li naik tahta sebagai Kaisar Tang Taizong. Kini situasi mulai berbalik, Tujue Timur dilanda konflik internal karena perselisihan antara Jiali Khan, Ashina Duobi (adik Ashina Duojishi) dan Tuli Khan, Ashina Shibobi (putra Ashina Duojishi). Mereka kini tidak sanggup lagi melindungi Liang Shidu dari serbuan Tang yang mengepungnya. Liang Luoren, sepupu Liang, membunuhnya dan menyerahkan diri pada Tang. Seluruh Tiongkok kini telah dipersatukan oleh Dinasti Tang.

Pada masa pemerintahan Taizong pula Tiongkok mencapai masa keemasannya, tentaranya ditempatkan di perbatasan membuat gentar bangsa-bangsa barbar, budaya dan ekonomi berkembang pesat sehingga menarik bangsa-bangsa lain untuk membuka hubungan diplomatik dan belajar dari Tiongkok.

Kudeta di Gerbang Xuanwu

Kudeta di Gerbang Xuanwu (Hanzi: 玄武门之变, pinyin: Xuanwumen zhi bian, 2 Juli 626) adalah sebuah insiden yang merupakan puncak dari intrik keluarga Dinasti Tang antara putra-putra Kaisar Tang Gaozu (Li Yuan) yaitu putra mahkota, Li Jiancheng dan Li Shimin. Li Jiancheng yang iri pada Li Shimin bermaksud membunuhnya, namun Li Shimin yang telah mencium rencana ini mengambil tindakan pendahuluan dengan menyergap Li Jiancheng di gerbang Xuanwu, gerbang yang menuju ke istana Kaisar Gaozu. Disana Li Shimin membunuh kakaknya dan juga adiknya, Li Yuanji, yang mendukung Li Jiancheng. Setelah itu ia mengirim pasukan ke istana untuk menghadap ayahnya. Di bawah intimidasi, Kaisar Gaozu menyerahkan status putra mahkota pada Li Shimin dan turun tahta dua bulan kemudian serta menyerahkan tahtanya pada putra keduanya itu. Peristiwa berdarah ini terjadi di Chang’an (sekarang Xi’an, Provinsi Shaanxi)


***
Latar belakang

Kaisar Gaozu memiliki empat putra dari pernikahannya dengan Putri Dou (meninggal sebelum Dinasti Tang berdiri, secara anumerta dijadikan permaisuri) yaitu Li Jiancheng, Li Shimin, Li Xuanba (mati muda tahun 614), dan Li Yuanji. Setelah Dinasti Tang berdiri, Li Jiancheng menjadi putra mahkota. Walaupun seorang jenderal tangguh yang telah memenangkan banyak pertempuran, namun ia kalah pamor dari adiknya, Li Shimin, yang membujuk ayahnya untuk mengambil inisiatif memberontak terhadap Kaisar Yang dari Sui dan berhasil mengalahkan para pemberontak seperti Kaisar Qin, Xue Rengao; Khan Dingyang, Liu Wuzhou; Pangeran Xia, Dou Jiande; dan Kaisar Zheng, Wang Shichong. Gaozu memberikan kuasa penuh pada ketiga pangeran itu, perintah mereka sama derajatnya dengan titah kaisar. Sejarah tradisional mencatat bahwa Kaisar Gaozu pernah mempertimbangkan untuk mengalihkan status putra mahkota pada Li Shimin yang lebih berprestasi, namun niat ini tidak terwujud karena Li Jiancheng didukung oleh Li Yuanji dan selir-selir kesayangannya. Hal ini lah yang membuat Jiancheng mulai merasa tidak nyaman dan dibayang-bayangi oleh adiknya itu.

Seiring berjalannya waktu, permusuhan antara keduanya makin meruncing, bawahan masing-masing saling mendesak junjungan mereka untuk bertindak terlebih dahulu. Suatu ketika Li Shimin sedang mengunjungi kediaman Li Jiancheng, dalam kesempatan itu Li Yuanji hendak membunuhnya, namun dicegah oleh kakaknya yang masih ragu melakukan hal itu. Bagaimanapun, Li Shimin masih menjadi momok bagi Li Jiancheng. Pada tahun 624, Li Jiancheng berencana untuk menambah pengawalnya dengan pasukan di bawah komando Li Yi (Luo Yi), pangeran Yan, suatu hal yang bertentangan dengan aturan kaisar. Kepala pengawal Li, Yang Wen’gan, takut dihukum dan kehilangan jabatannya sehingga memberontak. Untuk menumpas pemberontakan Yang, Kaisar Gaozu menugaskan Li Shimin dan menjanjikannya status putra mahkota bila berhasil menumpas pemberontakan itu. Namun ketika Li Shimin sibuk bertempur dengan pemberontak, Li Yuanji, Feng Deyi, dan selir-selir Gaozu melakukan intervensi dengan mendukung Li Jiancheng tetap sebagai putra mahkota. Kaisar Gaozu pun menetapkan putra sulungnya itu sebagai penerusnya, serta mengasingkan bawahannya Wang Gui, Wei Ting, dan seorang bawahan Li Shimin, Du Yan. Yang Wen’gan sendiri pada akhirnya berhasil dikalahkan dan dibunuh oleh bawahannya sendiri.

Setelah itu, Li Shimin meminta ijin ayahnya untuk meninggalkan Chang’an (ibukota Tang) untuk mengurus Luoyang (ibukota lama, bekas ibukota Dinasti Sui). Kaisar Gaozu menyetujuinya, namun Li Jiancheng dan Li Yuanji khawatir saudaranya itu akan menggunakan Luoyang sebagai basis untuk membangun kekuatan melawan mereka. Mereka pun memprotes rencana itu pada ayah mereka sehingga rencana ini dibatalkan. Mereka juga membuat tuduhan palsu bahwa Li Shimin melakukan tindakan kriminal. Berkat pembelaan Chen Shuda (adik mantan kaisar Chen terakhir, Chen Shubao), Li Shimin luput dari hukuman. Kedua pangeran itu tetap berusaha memojokkan Li Shimin, siasat mereka kali ini adalah mempreteli kekuatan Li Shimin satu-persatu. Para perwira dan ahli strategi yang pro Li Shimin seperti Yuchi Jingde (Yuchi Gong), Cheng Zhijie, Fang Xuanling dan Du Ruhui dicabut dari jajaran staff Li Shimin. Dalam kesempatan lain mereka juga mencoba membunuhnya dengan meracuni arak yang diminumnya ketika bertamu ke tempat Li Jiancheng. Namun Li Shimin sudah merasakan efek racun yang kerjanya perlahan namun mematikan itu sehingga dia buru-buru meminum penawar dan sembuh.

***
Li Shimin membunuh kakak dan adiknya

Musim panas tahun 626, jenderal dari Tujue Timur (suku Turki), Ashina Yushe, memasuki perbatasan Tang serta mengepung Wucheng (sekarang Yulin, Shaanxi). Biasanya yang menangani gangguan dari Tujue adalah Li Shimin, namun atas bujukan Li Jiancheng, Kaisar Gaozu memberikan tugas ini pada Li Yuanji dan pasukan dibawah Li Shimin dialihkan pada adiknya itu. Atas saran iparnya, Zhangsun Wuji dan Yuchi Jingde, Li Shimin yang takut kedua saudaranya akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menghabisinya memutuskan untuk mengambil tindakan. Secara rahasia ia memanggil Fang Xuanling dan Du Ruhui ke kediamannya untuk menyusun rencana. Malamnya mereka mengirimkan laporan berisi tuduhan palsu terhadap Li Jiancheng dan Li Yuanji yang menyebutkan bahwa keduanya memiliki hubungan gelap dengan selir ayahnya dan berencana membunuhnya. Gaozu sangat terkejut dengan laporan ini, namun dia belum mengambil tindakan antisipasi, hanya mengatakan bahwa ia akan menangani masalah ini besok. Ia juga memanggil pejabat-pejabat tingginya seperti Pei Ji, Xiao Yu, dan Chen Shuda untuk membicarakan apa tindakan apa yang harus diambil selanjutnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Li Shimin dan Zhangsun Wuji berangkat ke istana kaisar dan menyembunyikan pasukannya di gerbang utara istana yang bernama Gerbang Xuanwu. Sementara itu, salah seorang selir Gaozu, Selir Zhang telah mendengar tuduhan palsu yang dibuat Li Shimin terhadap dua saudaranya. Dia pun secara rahasia membeberkannya pada kedua pangeran itu. Li Yuanji menyarankan untuk tidak melaporkan hal ini ke istana, yang harus dilakukan adalah mempersiapkan pasukan untuk berperang. Namun kakaknya, sambil menggerakkan pasukanm juga ingin menghadap ayahnya untuk membicarakan situasi, maka mereka bersama pasukannya bergerak menuju istana.

Ketika keduanya tiba di istana, barulah mereka menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Mereka bersiap untuk kembali ke kediaman Li Jiancheng, namun terlambat, Li Shimin bersama pasukannya keluar dari persembunyian dan menyergap mereka. Li Yuanji menembakkan panah tiga kali pada Li Shimin, namun karena panik, semuanya meleset. Li Shimin membalasnya dengan menembakkan sebatang anak panah yang mengenai dan menewaskan Li Jiancheng. Menurut catatan dari Zizhi Tongjian karya sejarawan Song, Sima Guang, Li Shimin sebenarnya tidak ingin membunuh Li Yuanji. Ia mengejar adiknya yang mencoba kabur. Di hutan Li terjatuh dari kudanya dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Li Yuanji untuk membunuh Li Shimin dengan cekikan tali busur. Pada saat yang kritis itu, Yuchi Jingde tiba dan ia membunuh Li Yuanji dengan sebatang panah.

***
Pasca kudeta

Sementara itu, kepala pengawal Li Jiancheng, Feng Yi walaupun telah mendengar kematian tuannya, ia masih setia padanya dan memutuskan untuk terus berperang. Bersama perwira lainnya, Xue Wanche dan Xie Shufang, Feng memimpin pasukan Li Jiancheng dan Li Yuanji ke Gerbang Xuanwu dimana mereka berhadapan dengan pasukan Li Shimin. Pada awalnya mereka di atas angin dan berhasil membunuh dua orang komandan Li, Jing Junhong dan Lu Shiheng, namun tak lama kemudian Li dan Yuchi tiba disana sambil membawa kepala kedua pangeran. Moral pasukan itu langsung jatuh begitu melihat kepala kedua junjungannya, Feng dan Xue melarikan diri di tengah kekacauan itu.

Li lalu mengirim Yuchi ke istana lengkap dengan pasukan. Kaisar Gaozu sangat terkejut ketika Yuchi menghadapnya dengan pasukan. Ia bertanya apa yang dilakukannya di sini, Yuchi menjawab, “Putra mahkota dan Pangeran Qi (Li Yuanji) telah memberontak, Pangeran Qin (Li Shimin) telah mengirim pasukan dan menghukum mati mereka. Ia khawatir yang mulia akan terkejut sehingga mengirim hamba untuk melindungi yang mulia”

Kaisar Gaozu yang menyadari situasi telah demikian serius meminta nasehat dari Pei Ji, Xiao Yu, dan Chen Shuda. Xiao dan Chen menyarankan padanya agar menetapkan Li Shimin sebagai putra mahkota untuk menenangkannya. Atas permintaan Yuchi, Gaozu mengeluarkan titah yang memerintahkan agar seluruh sisa pasukan Li Jiancheng dan Li Yuanji menghentikan perlawanan dan tunduk pada Li Shimin. Ia juga memanggil putra keduanya itu menghadapnya untuk memberinya beberapa nasehat, di hadapan ayahnya Li Shimin berlutut dan menangis. Tiga hari kemudian ia mengangkat Li Shimin sebagai putra mahkota dan menyerahkan seluruh tanggung jawab negara padanya. Dua bulan setelahnya ia turun tahta dan Li Shimin menjadi kaisar berikutnya dengan gelar Kaisar Tang Taizong. Li Shimin menghukum mati seluruh putra-putra Li Jiancheng dan Li Yuanji, namun mengampuni para bawahan mereka.

***
Legenda
Dalam naskah Dunhuang ada salinan berjudul Perjalanan Kaisar Taizong ke Alam Baka. Disini diceritakan bahwa, Li Shimin ketika sakit keras, jiwanya sempat berkelana ke alam baka dimana dia berjumpa dengan arwah kedua saudaranya yang menuntut balas, mereka menuntut agar Li Shimin diinterogasi oleh Raja Yama, penguasa alam baka dan dijebloskan ke neraka. Namun kisah ini hanyalah hasil rekayasa selama rezim kaisar wanita Wu Zetian untuk mendiskreditkan klan Li (keluarga Dinasti Tang) dan pendukungnya.

Legenda ini juga menjadi asal mula tradisi Dewa Pintu (门神). Konon untuk menghalangi hantu kedua saudaranya yang bergentayangan mengganggunya, Li Shimin memerintahkan dua jenderalnya, Yuchi Jingde dan Qin Qiong untuk berjaga di depan pintu kamarnya sepanjang hari. Namun karena keterbatasan tenaga, keduanya tidak bisa berjaga non-stop sepanjang hari. Sebagai gantinya dibuatlah lukisan kedua jenderal itu dan ditempelkan di sisi kanan dan kiri pintu kamar sang kaisar. Tradisi ini masih dipraktekkan oleh orang Tionghoa hingga kini untuk mencegah hal-hal yang buruk masuk ke rumah.

Yan Zhenqing

Yan Zhenqing (Hanzi: 颜真卿, 709-785) adalah seorang pejabat setia dan ahli kaligrafi pada pertengahan Dinasti Tang. Prestasinya dalam seni kaligrafi Tiongkok sejajar dengan para ahli kaligrafi ulung dalam sejarah. Gaya tulisannya, yaitu Gaya Yan, banyak ditiru oleh para pencinta seni kaligrafi hingga kini. Yan menemui ajalnya dengan mulia saat menjalankan tugas terakhirnya sebagai utusan kekaisaran Tang untuk bernegosiasi dengan pemberontak.

**

Kehidupan awal

Yan Zhenqing dilahirkan di Linyi, Provinsi Shandong dari keluarga yang berpendidikan dan telah menjadi pejabat negara selama beberapa generasi. Kakek buyutnya, Yan Shigu, adalah seorang ahli linguistik terkenal, sementara ayahnya, Yan Weizhen, adalah guru pembimbing para pangeran Tang dan juga ahli kaligrafi. Dibawah pengaruh tradisi keluarga dan bimbingan ibunya, Nyonya Yin, yang tegas, Yan tumbuh sebagai seorang pekerja keras, ia menguasai karya-karya literatur dan ajaran Konfusius.

Tahun 734, Yan lulus ujian kekaisaran dan mendapat gelar Jinshi (gelar akademis tertinggi saat itu, seperti gelar doktoral pada masa kini). Ia memperoleh kesempatan langka untuk mengikuti ujian khusus yang diselenggarakan bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih dari yang lain dan ia lulus dengan baik dalam ujian ini. Dengan latar belakang akademisnya yang menonjol, karirnya dalam politik melesat dengan cepat. Ia diangkat sebagai wakil kepala daerah Distrik Linquan, juru sensor, dan juru sensor istana. Kejujuran dan keterusterangannya membuatnya dicintai oleh rakyat namun dibenci oleh para pejabat korup terutama Yang Guozhong, si perdana menteri korup sehingga ia akhirnya disingkirkan dari ibukota dan diberi jabatan sebagai gubernur Pingyuan tahun 753.

**

Pemberontakan An Lushan

Ketika Yan menjabat sebagai gubernur Pingyuan, An Lushan, gubernur militer beretnis Turki, yang meraih kepercayaan Kaisar Tang Xuanzong karena pintar menjilat, telah menunjukkan tanda-tanda akan berontak. Yan telah mencium gelagat ini sehingga ia membuat persiapan-persiapan perang seperti membentengi kota dengan kokoh dan mengumpulkan persediaan. Ia juga mengirimkan surat peringatan darurat kepada kaisar, namun tidak dihiraukan pihak istana.

Desember 755, An Lushan dan Shi Siming mengangkat senjata dan memberontak terhadap Dinasti Tang sebagai puncak perselisihan antara An dengan Yang Guozhong yang membantai keluarga An. Pasukan Tang yang minim persiapan perang mundur tanpa perlawanan berarti dari wilayah Heshuo (sekarang meliputi Shandong, Hebei, dan Henan). Hanya pasukan dibawah Yan Zhenqing yang bertahan dengan gigih di Pingyuan. Ia kemudian bergabung dengan pasukan yang dipimpin sepupunya, Yan Gaoqing, gubernur Changshan (sekarang Quyang, Hebei) dan menyerbu garis belakang pasukan pemberontak. Belakangan, dalam suatu pertempuran Yan Gaoqing gugur sebagai pahlawan. Kaisar yang saat itu telah melarikan diri dari ibukota dan mendirikan pemerintahan pengasingan di Sichuan mengangkat Yan sebagai deputi mentri keuangan serta melimpahkan padanya kekuasaan militer untuk mendampingi Jenderal Li Guangbi menumpas pemberontakan.

Kemudian Yan meraih sejumlah kemenangan atas pemberontak, termasuk memotong jalur logistik mereka dan merebut kembali lebih dari 17 pos-pos militer di Heshuo. Tahun 756, Kaisar Tang Suzong naik tahta dan mempromosikan Yan sebagai menteri pekerjaan. Karena buruknya manajemen militer pasukan Tang, An Lushan berhasil merebut Hebei dengan serangan dadakan. Yan dengan berat hati meninggalkan jabatannya untuk menangkis serbuan itu, ia baru kembali pada jabatannya tahun 757. Kemudian ia diangkat sebagai menteri hukum. Ia sangat vokal menentang korupsi di tingkat pejabat tinggi sehingga berulang kali jabatannya mengalami turun naik.

**

Tahun-tahun terakhir

Tahun 764, Kaisar Tang Daizong menganugerahi Yan gelar Adipati Lu atas kesetiaan dan jasa-jasanya dalam menumpas pemberontakan An Lushan, ia juga diangkat sebagai guru besar istana yang bertugas membimbing putra mahkota. Namun sifatnya yang keras kepala dan pendiriannya yang teguh tidak disukai oleh perdana menteri Lu Qi yang selalu mencari cara untuk menjatuhkannya.

Tahun 784, pada masa pemerintahan Kaisar Tang Dezong, Li Xilie, gubernur militer Huaixi, memberontak dan menyebabkan kepanikan di ibukota. Lu membujuk kaisar untuk mengirim Yan untuk bernegosiasi dengan Li Xilie di Xuzhou dengan harapan Li akan membunuhnya. Kaisar pun memerintahkan Yan untuk menjalankan tugas berbahaya ini. Yan yang saat itu sudah berusia 75 tahun menerima tugas itu tanpa ragu, padahal teman-temannya dan keluarganya merasa khawatir, anak dan cucunya berusaha membujuknya agar tidak pergi karena sama saja mengantar nyawa, namun sebagai abdi negara ia bertekad bulat akan menjalankan tugasnya sebaik mungkin.

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, Yan tiba di markas besar Li di Xuzhou. Di depan kediaman Li, ia disambut para prajurit dengan senjata terhunus, mereka menggertak Yan dengan kata-kata kasar dan wajah beringas namun Yan tetap tenang dan menatap mereka dengan marah. Melihat gertakan pertamanya tidak mempan, Li akhirnya keluar dan menyambutnya. Di ruang pertemuan, Yan dengan berani mengutuk Li dan para bawahannya yang memberontak sehingga Li memerintahkan agar ia dijebloskan ke penjara. Beberapa hari kemudian Li memerintahkan orang-orangnya untuk menggali lubang besar. Ia lalu membawa Yan ke depan lubang dan memberi penawaran agar Yan bersumpah setia dan mengabdi padanya atau akan dikubur hidup-hidup, namun Yan menolaknya mentah-mentah, ia menyatakan siap mati daripada menyerah pada pemberontak. Li pun tidak dapat berbuat apa-apa selain mengembalikannya ke penjara.

Beberapa hari kemudian, Li memerintahkan orang-orangnya untuk menyalakan api yang besar di lapangan. Sekali lagi ia memberikan tawaran menyerah pada Yan atau akan dibakar hidup-hidup. Namun Yan malah berjalan ke arah api tanpa rasa takut. Bagaimanapun Li masih membutuhkan tenaga orang terpelajar dan berpengalaman dalam pemerintahan seperti Yan sehingga ia memerintahkan pengawalnya untuk menghentikan langkah Yan, ia pun kembali dipenjara.

Tak lama kemudian, Li Xilie mengangkat dirinya sebagai kaisar. Mendengar hal ini, Yan mengutuk Li dengan keras, ia menyebutnya sebagai pemberontak tidak tahu malu. Ia juga bersumpah tidak akan pernah menyerah padanya. Li Xilie akhirnya kehabisan akal untuk membujuknya sehingga memerintahkan agar Yan dihukum mati. Tahun 785, Yan Zhenqing, pejabat setia itu, dihukum mati dengan cara dicekik di Kuil Longxing di Caizhou, Henan. Pada saat-saat terakhirnya pun ia terus mengutuk Li dan di wajahnya tidak pernah terlihat ekpresi takut.

Ketika mendengar kabar kematiannya, Kaisar Dezong meliburkan dewan pemerintahan selama lima hari sebagai tanda berkabung dan menganugerahkan gelar anumerta Wenzhong bagi Yan Zhenqing. Kematiannya yang mulia ditangisi oleh rakyat dan tentara. Sebuah kuil dibangun untuk memperingatinya. Pada masa Dinasti Song, kuil itu dipindahkan ke Shandong dan kini menjadi salah satu objek wisata.

**

Prestasi di bidang kaligrafi

Prestasi Yan Zhenqing di bidang ini disejajarkan dengan Wang Xizhi yang dianggap nabi kaligrafi. Spesialisasinya adalah tulisan kaishu dan tulisan cao, selain itu ia juga menguasai tipe-tipe tulisan lainnya. Gayanya yang disebut gaya Yan dalam tulisan kai, membawa Tiongkok dalam era baru yang menekankan pada ketebalan dan kebesaran karakter-karakter hanzi. Seperti kebanyakan ahli-ahli kaligrafi lain, Yan juga mempelajari keahliannya dari ahli-ahli lain seperti Zhang Xu dan Chu Suiliang. Zhang sangat ahli dalam tulisan cao yang menekankan pada komposisi dan urutan goretan secara keseluruhan; sementara Chu terkenal dengan gaya penulisannya yang lemah gemulai dan memurnikan tulisan kai. Yan juga mendapatkan inspirasi dari gaya Wei Bei yang berasal dari suku minoritas utara yang terfokus pada kekuatan dan kesederhanaan Kaligrafi Yan Zhenqing dalam Prasasti Yan QinliKarya-karya kaligrafi Yan yang terkenal antara lain :

  • Prasasti Pagoda Duobao (多宝塔碑)
  • Prasasti Li Yuanjing (李元靖碑)
  • Prasasti Kuil Keluarga Yan (颜家庙碑)
  • Catatan Magu Xiantan (麻姑仙坛记)
  • Prasasti Yan Qinli (颜勤礼碑)

**

Pengaruh

Gaya kaligrafi Yan Zhenqing mengasimilasi intisari kaligrafi dalam lima ratus tahun sebelumnya. Hampir semua ahli kaligrafi setelah jamannya terpengaruh oleh gayanya. Seorang master kaligrafi bernama Liu Gongquan pernah belajar di bawah bimbingannya. Yang Ningshi, seorang ahli kaligrafi terkenal pada Zaman Lima Dinasti dan Sepuluh Negara, sepenuhnya mewarisi gaya Yan dan mempertegas goresannya.

Trend meniru gaya Yan ini mencapai puncaknya pada masa Dinasti Song. “Empat ahli kaligrafi besar” jaman Song yaitu Su Shi, Huang Tingjian, Mi Fu, dan Cai Xiang semua mempelajari gaya Yan. Su Shi bahkan mengklaim bahwa kaligrafi Yan Zhenqing tiada tandingannya sepanjang sejarah.

Setelah jaman Song, popularitas Yan Zhenqing sedikit menurun karena para ahli kaligrafi cenderung mencoba cara yang lebih abstrak dalam berekspresi. Namun gaya Yan masih tetap dianggap penting, beberapa ahli kaligrafi terkenal seperti Zhao Mengfu dan Dong Qichang dikatakan terinspirasi oleh gaya Yan.

Pada masa kontemporer, ahli kaligrafi terkemuka seperti Shen Yinmo dan Sha Menghai melakukan riset mendalam terhadap gaya Yan sehingga gaya ini kembali populer. Dewasa ini, hampir semua orang yang mempelajari kaligrafi Tiongkok meniru gaya Yan ketika pertama kali mengambil kuas. Pengaruh Yan Zhenqing juga menyebar ke luar negeri seperti Korea, Jepang, dan Asia Tenggara.

Li Baoyu

Li Baoyu (Hanzi: 李抱玉, 703-15 April 777) alias An Zhongzhang (安重璋) atau An Baoyu (安抱玉), Adipati Zhaowu dari Liang (凉昭武公), adalah seorang jenderal pada pertengahan Dinasti Tang yang terkenal karena kontribusinya dalam mempertahankan negara semasa Pemberontakan Anshi dan mempertahankan perbatasan barat dari serbuan bangsa Tufan (Tibet).

***

Latar belakang

Li terlahir dengan nama An Zhongzhang tahun 703 pada masa pemerintahan kaisar wanita Wu Zetian. Leluhurnya berasal dari Parthia (Persia) namun telah menetap di wilayah Hexi selama beberapa generasi. Kakek moyangnya, An Xinggui, adalah seorang pejabat pada awal Dinasti Tang yang membantu Li Yuan mempersatukan negara dengan mengalahkan Li Gui, salah satu rezim separatis yang berkuasa di wilayah Gansu dan sebelah barat Sungai Kuning. Keluarga An secara turun-temurun termashyur akan kemampuannya sebagai peternak kuda yang hebat. Beberapa dari mereka bermigrasi ke wilayah sekitar ibukota Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi), disana mereka mempelajari literatur Tiongkok dan kawin campur dengan keluarga-keluarga lokal. An Zhongzhang yang tumbuh besar di wilayah barat adalah seorang yang mahir berkuda dan memanah. Ia masuk militer pada usia muda, ia dikenal sebagai seorang prajurit yang banyak siasat, teliti, dan berdedikasi tinggi. Pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong, An dianugerahi nama kehormatan Baoyu (yang artinya ‘dia yang memegang batu kumala’) oleh sang kaisar karena prestasinya yang menonjol. Tahun 755, Jenderal An Lushan melakukan pemberontakan di Fanyang (sekarang Beijing) dan mendeklarasikan berdirinya Kekaisaran Yan. Saat itu An Baoyu sedang menjaga kota Nanyang. An Lushan mengirim utusan ke sana dan mencoba membujuknya agar menyerah padanya, namun karena kesetiaannya pada Dinasti Tang, ia membunuh utusan itu dan rombongannya.


***

Di bawah pemerintahan Kaisar Suzong

Tahun 756, pasukan pemberontak Yan bergerak maju menuju Chang’an sehingga memaksa Kaisar Xuanzong melarikan diri ke Chengdu. Sementara putra mahkota Li Heng kabur ke Lingwu, dimana ia mengangkat diri sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Tang Suzong. Salah seorang jenderal kepercayaan Kaisar Suzong bernama Li Guangbi mengundang An untuk bekerja sebagai staffnya. Tahun 757, An memohon pada kaisar untuk mengganti marganya, katanya pada sang kaisar, “Hambamu ini telah hidup di Liangzhou selama beberapa generasi. Hamba benar-benar malu memiliki marga yang sama dengan si pemberontak itu!” Kaisar Suzong mengabulkan permohonannya dan menganugerahkan kepadanya hak menyandang marga Li, marga kekaisaran. Ia juga mendapat ijin untuk memindahkan rumah warisan leluhurnya ke Chang’an, sebuah kehormatan yang sangat besar pada saat itu. Kaisar juga mengangkatnya sebagai gubernur militer wilayah Chenzheng (sekarang Zhengzhou, Henan).

Pada akhir tahun 757, kaisar Yan yang baru, Shi Siming, menduduki kota Luoyang yang sebelumnya telah direbut kembali oleh pasukan Tang. Atas permintaan Li Guangbi, Li Baoyu diberi tugas mempertahankan benteng selatan di Heyang yang penting dan strategis, sementara Li Guangbi sendiri mempertahankan benteng pusat. Li bertahan dengan gigih menghadapi serbuan pasukan pemberontak yang jumlahnya jauh lebih besar dari pasukannya sehingga menghambat gerak laju mereka. Atas kontribusinya ini, ia dianugerahi gelar kebangsawanan Adipati Lecheng. Tahun 761, kasim Yu Chao’en mendesak Li Guangbi agar merebut kembali Luoyang yang akhirnya gagal total. Kekalahan ini memaksa Li Baoyu meninggalkan Heyang dan mundur ke Zezhou (sekarang Jincheng, Shanxi). Tahun 762, Shi Chaoyi, putra Shi Siming yang naik menggantikannya, mengepung kota itu. Untungnya bala bantuan dari Tentara Dingguo di bawah pimpinan Jenderal Guo Ziyi tiba tepat waktu sehingga memungkinkan Li untuk membalas serangan pemberontak Yan serta mengalahkan mereka.

***

Di bawah pemerintahan Kaisar Daizong

Kaisar Suzong mangkat pada akhir tahun 762 dan digantikan oleh putranya yang naik tahta sebagai Kaisar Tang Daizong. Kaisar baru ini menambah wilayah kekuasan Li sebagai gubernur militer dengan wilayah Zelu (sekarang Chanzhi, Shanxi). Ia juga menganugerahi Li gelar Pangeran Wuwei, namun dengan rendah hati Li menolak gelar pangeran itu. Sebagai gantinya, kaisar memberinya gelar Adipati Liang serta gelar kehormatan Sikong (salah satu dari tiga gelar kehormatan tertinggi pada masa itu). Pada akhir tahun itu pula, Li turut berpartisipasi dalam kampanye militer gabungan pasukan Tang dan Huige (suku Uyghur) untuk merebut kembali Luoyang. Setelah Luoyang berhasil diduduki dan Shi Chaoyi kabur, sejumlah jenderal pemberontak menyerah pada Tang, namun Jenderal Pugu Huai’en dari Tang membiarkan mereka tetap memegang jabatannya. Li dan seorang jenderal Tang lainnya, Xin Yunjing, merasa curiga Pugu berniat untuk berontak sehingga memperingatkan kaisar mengenai hal ini. Pada kenyataannya, Pugu memang khawatir pemerintah Tang tidak lagi memperhatikannya sehingga ia membentuk aliansi dengan beberapa mantan jenderal pemberontak. Dan ia benar-benar melakukan pemberontakan pada tahun 763 dan baru dapat dipadamkan tahun 765 setelah kematiannya.

Tahun 763, suku Tufan melakukan serangan dadakan terhadap Chang’an dan berhasil mendudukinya. Kaisar Daizong terpaksa kabur ke Shanzhou (sekarang Sanmenxia, Henan). Walaupun kaisar dapat kembali ke Chang’an tak lama kemudian, situasi di sekitar kota itu sudah tidak sebaik dulu. Para tentara yang desersi dan bandit-bandit lokal mengacau di lima lembah di selatan kota itu, pasukan pemerintah pun dibuat kewalahan menangani gangguan keamanan ini. Mulanya, kaisar menugasi Xue Jingxian untuk menumpas para bandit itu, namun selama beberapa bulan hasil kerja Xue tidak memuaskan. Tahun 764, kaisar memberi tanggung jawab lebih besar pada Li dengan mengangkatnya sebagai gubernur militer Fengxiang (sekarang Baoji, Shaanxi) serta mengalihkan tugas-tugas Xue menumpas para bandit kepadanya. Dalam menjalankan misinya ini, Li menyebarkan pengintai untuk mencari sarang persembunyian si pemimpin bandit, Gao Yu. Setelah itu ia memerintahkan bawahannya, Li Chongke, memimpin pasukan melakukan serangan dadakan dan berhasil meringkus Gao. Sejak itu, gangguan keamanan dari para bandit berhenti.

Pada tahun 764 pula, suku Tufan mulai menunjukkan gelagat akan kembali melakukan serangan. Kaisar Daizong menugasi Li dan Guo untuk bertanggung jawab penuh menghalau serbuan Tufan. Karena Li Baoyu masih berada di posnya di Fengxiang, maka kaisar mengangkat sepupu Li, Li Baozhen, sebagai deputi gubernur militer Zelu. Dengan demikian walaupun secara resmi/ gelar Li Baoyu masih menjabat gubernur militer Zelu, kekuasaan nyata terletak di tangan Li Baozhen. Tahun 765, menjelang akhir pemberontakan Pugu Huai’en, pasukan gabungan Huige dan Tufan yang bertujuan membantu Pugu bergerak mendekati Chang’an. Li adalah salah satu jenderal yang diperintahkan untuk mempertahankan Chang’an. Setelah Pugu meninggal karena sakit, Guo berhasil membujuk pasukan Huige untuk mundur. Dengan mundurnya Huige, Tufan pun turut mundur. Tahun 767, Li mengunjungi Chang’an untuk memberi hormat pada kaisar. Dalam kesempatan ini ia memohon untuk meletakkan salah satu gelar kehormatannya, yaitu Zuo Pushe, yang mendapat persetujuan kaisar. Namun ketika ia memohon pengunduran diri dari jabatannya sebagai gubernur militer Fengxiang, kaisar menolaknya.

Tahun 770, sebagai bagian dari rencana Kaisar Daizong dan perdana menteri Yuan Zai untuk membunuh Yu Chao’en yang semakin berkuasa dan sewenang-wenang, salah satu sekutu Yuan bernama Huangfu Wen dipindahkan dari Shanzhou ke Fengxiang. Li sendiri dipindahkan dari posnya di Fengxiang ke Shannan Barat (sekarang wilayah sekitar Xi’an, Shaanxi) sebelah tenggara Chang’an. Ketika Li berangkat dari Fengxiang ke posnya yang baru, banyak prajuritnya marah dengan keputusan pemindahan atasan mereka dan mereka melampiaskan kekesalannya dengan menjarah Fengxiang selama beberapa hari. Baru setelah Yu Chao’en berhasil dibunuh, Huangfu ditarik kembali ke Shanzhou dan Fengxiang dikembalikan pada Li. Pada akhir tahun itu, Ma Lin, gubernur militer Jingyuan (sekarang Pingliang, Gansu) mengeluh bahwa wilayahnya terlalu miskin untuk mendukung pasukannya. Menanggapi keluhan ini, kaisar memberi isyarat pada Li untuk melepaskan dua prefektur di bawah kekuasaannya, yaitu Zhengzhou dan Yingzhou (sekarang Xuchang, Henan). Li melakukan apa yang diminta oleh kaisar, kedua prefektur itu pun dialihkan pada Ma.

Tahun 771, Li melayangkan petisi pada kaisar untuk melimpahkan tanggung jawab sebagian wilayahnya kepada jenderal lain dengan alasan terlalu banyak daerah yang di bawah tanggung jawabnya berbatasan dengan wilayah Tufan dan bila Tufan menyerbu beberapa daerah secara bersamaan ia tidak akan sanggup menanganinya seorang diri. Ia meminta agar komando atas wilayah Shannan Barat diserahkan pada orang lain. Kaisar Daizong menghargai alasan Li dan menyetujuinya, namun tidak ada catatan lebih lanjut dalam dokumen sejarah apakah kaisar Daizong akhirnya menyerahkan komando atas wilayah itu pada jenderal lain. Tahun 775, Tufan melanggar perbatasan dan menyerang wilayah Tiongkok, Li mempertahankan wilayahnya dan berhasil menghalau mundur mereka. Li Baoyu wafat pada tahun 777. Kematiannya membuat Kaisar Daizong sangat berduka dan ia menganugerahinya beberapa gelar anumerta sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Kitab Tang pada bagian biografi Li Baoyu menuliskan komentar sebagai berikut mengenai dirinya,

Li Baoyu mempertahankan Fengxiang selama lebih dari satu dekade. Walaupun prestasinya dalam memerangi suku-suku barbar tidak terlalu menonjol, ia berhasil mengatasi gangguan keamanan dan membawa ketentraman bagi rakyat. Inilah yang membuatnya dipuji oleh orang-orang pada masanya.

Li Baoyu

Li Baoyu (Hanzi: 李抱玉, 703-15 April 777) alias An Zhongzhang (安重璋) atau An Baoyu (安抱玉), Adipati Zhaowu dari Liang (凉昭武公), adalah seorang jenderal pada pertengahan Dinasti Tang yang terkenal karena kontribusinya dalam mempertahankan negara semasa Pemberontakan Anshi dan mempertahankan perbatasan barat dari serbuan bangsa Tufan (Tibet).

***

Latar belakang

Li terlahir dengan nama An Zhongzhang tahun 703 pada masa pemerintahan kaisar wanita Wu Zetian. Leluhurnya berasal dari Parthia (Persia) namun telah menetap di wilayah Hexi selama beberapa generasi. Kakek moyangnya, An Xinggui, adalah seorang pejabat pada awal Dinasti Tang yang membantu Li Yuan mempersatukan negara dengan mengalahkan Li Gui, salah satu rezim separatis yang berkuasa di wilayah Gansu dan sebelah barat Sungai Kuning. Keluarga An secara turun-temurun termashyur akan kemampuannya sebagai peternak kuda yang hebat. Beberapa dari mereka bermigrasi ke wilayah sekitar ibukota Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi), disana mereka mempelajari literatur Tiongkok dan kawin campur dengan keluarga-keluarga lokal. An Zhongzhang yang tumbuh besar di wilayah barat adalah seorang yang mahir berkuda dan memanah. Ia masuk militer pada usia muda, ia dikenal sebagai seorang prajurit yang banyak siasat, teliti, dan berdedikasi tinggi. Pada tahun-tahun terakhir masa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong, An dianugerahi nama kehormatan Baoyu (yang artinya ‘dia yang memegang batu kumala’) oleh sang kaisar karena prestasinya yang menonjol. Tahun 755, Jenderal An Lushan melakukan pemberontakan di Fanyang (sekarang Beijing) dan mendeklarasikan berdirinya Kekaisaran Yan. Saat itu An Baoyu sedang menjaga kota Nanyang. An Lushan mengirim utusan ke sana dan mencoba membujuknya agar menyerah padanya, namun karena kesetiaannya pada Dinasti Tang, ia membunuh utusan itu dan rombongannya.


***

Di bawah pemerintahan Kaisar Suzong

Tahun 756, pasukan pemberontak Yan bergerak maju menuju Chang’an sehingga memaksa Kaisar Xuanzong melarikan diri ke Chengdu. Sementara putra mahkota Li Heng kabur ke Lingwu, dimana ia mengangkat diri sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Tang Suzong. Salah seorang jenderal kepercayaan Kaisar Suzong bernama Li Guangbi mengundang An untuk bekerja sebagai staffnya. Tahun 757, An memohon pada kaisar untuk mengganti marganya, katanya pada sang kaisar, “Hambamu ini telah hidup di Liangzhou selama beberapa generasi. Hamba benar-benar malu memiliki marga yang sama dengan si pemberontak itu!” Kaisar Suzong mengabulkan permohonannya dan menganugerahkan kepadanya hak menyandang marga Li, marga kekaisaran. Ia juga mendapat ijin untuk memindahkan rumah warisan leluhurnya ke Chang’an, sebuah kehormatan yang sangat besar pada saat itu. Kaisar juga mengangkatnya sebagai gubernur militer wilayah Chenzheng (sekarang Zhengzhou, Henan).

Pada akhir tahun 757, kaisar Yan yang baru, Shi Siming, menduduki kota Luoyang yang sebelumnya telah direbut kembali oleh pasukan Tang. Atas permintaan Li Guangbi, Li Baoyu diberi tugas mempertahankan benteng selatan di Heyang yang penting dan strategis, sementara Li Guangbi sendiri mempertahankan benteng pusat. Li bertahan dengan gigih menghadapi serbuan pasukan pemberontak yang jumlahnya jauh lebih besar dari pasukannya sehingga menghambat gerak laju mereka. Atas kontribusinya ini, ia dianugerahi gelar kebangsawanan Adipati Lecheng. Tahun 761, kasim Yu Chao’en mendesak Li Guangbi agar merebut kembali Luoyang yang akhirnya gagal total. Kekalahan ini memaksa Li Baoyu meninggalkan Heyang dan mundur ke Zezhou (sekarang Jincheng, Shanxi). Tahun 762, Shi Chaoyi, putra Shi Siming yang naik menggantikannya, mengepung kota itu. Untungnya bala bantuan dari Tentara Dingguo di bawah pimpinan Jenderal Guo Ziyi tiba tepat waktu sehingga memungkinkan Li untuk membalas serangan pemberontak Yan serta mengalahkan mereka.

***

Di bawah pemerintahan Kaisar Daizong

Kaisar Suzong mangkat pada akhir tahun 762 dan digantikan oleh putranya yang naik tahta sebagai Kaisar Tang Daizong. Kaisar baru ini menambah wilayah kekuasan Li sebagai gubernur militer dengan wilayah Zelu (sekarang Chanzhi, Shanxi). Ia juga menganugerahi Li gelar Pangeran Wuwei, namun dengan rendah hati Li menolak gelar pangeran itu. Sebagai gantinya, kaisar memberinya gelar Adipati Liang serta gelar kehormatan Sikong (salah satu dari tiga gelar kehormatan tertinggi pada masa itu). Pada akhir tahun itu pula, Li turut berpartisipasi dalam kampanye militer gabungan pasukan Tang dan Huige (suku Uyghur) untuk merebut kembali Luoyang. Setelah Luoyang berhasil diduduki dan Shi Chaoyi kabur, sejumlah jenderal pemberontak menyerah pada Tang, namun Jenderal Pugu Huai’en dari Tang membiarkan mereka tetap memegang jabatannya. Li dan seorang jenderal Tang lainnya, Xin Yunjing, merasa curiga Pugu berniat untuk berontak sehingga memperingatkan kaisar mengenai hal ini. Pada kenyataannya, Pugu memang khawatir pemerintah Tang tidak lagi memperhatikannya sehingga ia membentuk aliansi dengan beberapa mantan jenderal pemberontak. Dan ia benar-benar melakukan pemberontakan pada tahun 763 dan baru dapat dipadamkan tahun 765 setelah kematiannya.

Tahun 763, suku Tufan melakukan serangan dadakan terhadap Chang’an dan berhasil mendudukinya. Kaisar Daizong terpaksa kabur ke Shanzhou (sekarang Sanmenxia, Henan). Walaupun kaisar dapat kembali ke Chang’an tak lama kemudian, situasi di sekitar kota itu sudah tidak sebaik dulu. Para tentara yang desersi dan bandit-bandit lokal mengacau di lima lembah di selatan kota itu, pasukan pemerintah pun dibuat kewalahan menangani gangguan keamanan ini. Mulanya, kaisar menugasi Xue Jingxian untuk menumpas para bandit itu, namun selama beberapa bulan hasil kerja Xue tidak memuaskan. Tahun 764, kaisar memberi tanggung jawab lebih besar pada Li dengan mengangkatnya sebagai gubernur militer Fengxiang (sekarang Baoji, Shaanxi) serta mengalihkan tugas-tugas Xue menumpas para bandit kepadanya. Dalam menjalankan misinya ini, Li menyebarkan pengintai untuk mencari sarang persembunyian si pemimpin bandit, Gao Yu. Setelah itu ia memerintahkan bawahannya, Li Chongke, memimpin pasukan melakukan serangan dadakan dan berhasil meringkus Gao. Sejak itu, gangguan keamanan dari para bandit berhenti.

Pada tahun 764 pula, suku Tufan mulai menunjukkan gelagat akan kembali melakukan serangan. Kaisar Daizong menugasi Li dan Guo untuk bertanggung jawab penuh menghalau serbuan Tufan. Karena Li Baoyu masih berada di posnya di Fengxiang, maka kaisar mengangkat sepupu Li, Li Baozhen, sebagai deputi gubernur militer Zelu. Dengan demikian walaupun secara resmi/ gelar Li Baoyu masih menjabat gubernur militer Zelu, kekuasaan nyata terletak di tangan Li Baozhen. Tahun 765, menjelang akhir pemberontakan Pugu Huai’en, pasukan gabungan Huige dan Tufan yang bertujuan membantu Pugu bergerak mendekati Chang’an. Li adalah salah satu jenderal yang diperintahkan untuk mempertahankan Chang’an. Setelah Pugu meninggal karena sakit, Guo berhasil membujuk pasukan Huige untuk mundur. Dengan mundurnya Huige, Tufan pun turut mundur. Tahun 767, Li mengunjungi Chang’an untuk memberi hormat pada kaisar. Dalam kesempatan ini ia memohon untuk meletakkan salah satu gelar kehormatannya, yaitu Zuo Pushe, yang mendapat persetujuan kaisar. Namun ketika ia memohon pengunduran diri dari jabatannya sebagai gubernur militer Fengxiang, kaisar menolaknya.

Tahun 770, sebagai bagian dari rencana Kaisar Daizong dan perdana menteri Yuan Zai untuk membunuh Yu Chao’en yang semakin berkuasa dan sewenang-wenang, salah satu sekutu Yuan bernama Huangfu Wen dipindahkan dari Shanzhou ke Fengxiang. Li sendiri dipindahkan dari posnya di Fengxiang ke Shannan Barat (sekarang wilayah sekitar Xi’an, Shaanxi) sebelah tenggara Chang’an. Ketika Li berangkat dari Fengxiang ke posnya yang baru, banyak prajuritnya marah dengan keputusan pemindahan atasan mereka dan mereka melampiaskan kekesalannya dengan menjarah Fengxiang selama beberapa hari. Baru setelah Yu Chao’en berhasil dibunuh, Huangfu ditarik kembali ke Shanzhou dan Fengxiang dikembalikan pada Li. Pada akhir tahun itu, Ma Lin, gubernur militer Jingyuan (sekarang Pingliang, Gansu) mengeluh bahwa wilayahnya terlalu miskin untuk mendukung pasukannya. Menanggapi keluhan ini, kaisar memberi isyarat pada Li untuk melepaskan dua prefektur di bawah kekuasaannya, yaitu Zhengzhou dan Yingzhou (sekarang Xuchang, Henan). Li melakukan apa yang diminta oleh kaisar, kedua prefektur itu pun dialihkan pada Ma.

Tahun 771, Li melayangkan petisi pada kaisar untuk melimpahkan tanggung jawab sebagian wilayahnya kepada jenderal lain dengan alasan terlalu banyak daerah yang di bawah tanggung jawabnya berbatasan dengan wilayah Tufan dan bila Tufan menyerbu beberapa daerah secara bersamaan ia tidak akan sanggup menanganinya seorang diri. Ia meminta agar komando atas wilayah Shannan Barat diserahkan pada orang lain. Kaisar Daizong menghargai alasan Li dan menyetujuinya, namun tidak ada catatan lebih lanjut dalam dokumen sejarah apakah kaisar Daizong akhirnya menyerahkan komando atas wilayah itu pada jenderal lain. Tahun 775, Tufan melanggar perbatasan dan menyerang wilayah Tiongkok, Li mempertahankan wilayahnya dan berhasil menghalau mundur mereka. Li Baoyu wafat pada tahun 777. Kematiannya membuat Kaisar Daizong sangat berduka dan ia menganugerahinya beberapa gelar anumerta sebagai penghargaan atas jasa-jasanya.

Kitab Tang pada bagian biografi Li Baoyu menuliskan komentar sebagai berikut mengenai dirinya,

Li Baoyu mempertahankan Fengxiang selama lebih dari satu dekade. Walaupun prestasinya dalam memerangi suku-suku barbar tidak terlalu menonjol, ia berhasil mengatasi gangguan keamanan dan membawa ketentraman bagi rakyat. Inilah yang membuatnya dipuji oleh orang-orang pada masanya.

Yang Gongren

Yang Gongren (Hanzi: 杨恭仁, ?-639) atau Yang Guan (杨纶), Adipati Xiao dari Guan (观孝公), adalah seorang pejabat dan jenderal pada masa Dinasti Sui dan Tang. Pada masa Dinasti Tang ia sempat menjabat sebagai perdana menteri, ia terkenal akan sifatnya yang jujur dan rendah hati

***

Latar belakang

Tidak diketahui kapan dan dimana Yang Gongren dilahirkan. Ia adalah putra sulung Yang Xiong, keponakan jauh Yang Jian/ Kaisar Wen, sang pendiri Dinasti Sui. Yang Xiong sendiri termasuk salah satu dari empat pejabat paling berpengaruh pada awal Dinasti Sui bersama dengan Gao Jiong, Yu Jingze, dan Su Wei. Berbagai gelar kebangsawanan dianugerahkan kepadanya hingga yang terakhir gelar sebagai Pangeran Guan.

***

Di bawah Dinasti Sui

Pada akhir pemerintahan Kaisar Wen, sekitar tahun 601 hingga 604, Yang Gongren menjabat sebagai gubernur Ganzhou (sekarang Zhangye, Gansu). Ia seorang yang mampu memerintah dengan baik dan berlaku adil terhadap orang-orang non-Han yang tinggal di wilayahnya. Kaisar Wen pernah berkata pada ayahnya, Yang Xiong, “Gongren telah memerintah provinsi itu dengan baik, semua ini bukan hanya karena aku telah memilih orang yang tepat, tapi juga karena engkau telah mengajarinya mengenai kebenaran.”

Pada awal pemerintahan Kaisar Yang dari Sui (putra kedua dan penerus Kaisar Wen), Yang menjabat sebagai asisten menteri pekerjaan umum. Ketika Jenderal Yang Xuan’gan melakukan pemberontakan tahun 613, Yang adalah salah satu jenderal yang dipilih oleh Kaisar Yang menumpas pemberontakan itu dan ia berhasil menjalankan misinya. Atas prestasinya ini ia memperoleh pujian dari kaisar dan Su Wei.

Saat itu urusan pekerjaan umum dikendalikan oleh Su, Yuwen Shu, Pei Yun dan Pei Ju, yang sangat korup. Walau demikian Yang Gongren tetap menjaga integritasnya dan tidak mau ikut-ikutan korupsi atau menerima suap seperti yang lain. Karakternya yang lurus itu tidak disenangi oleh Pei Yun yang berusaha menyingkirkannya dengan memberi tugas untuk memimpin pasukan menumpas pemberontakan petani di wilayah Hunan. Dalam pertempuran melawan pemberontak itu, Yang mengalami kekalahan dari Zhu Can, salah satu pemimpin pemberontak di distrik militer Qiao (sekarang Bozhou, Anhui) sehingga terpaksa melarikan diri ke Jiangdu (sekarang Yangzhou, Jiangsu), kota yang kemudian dijadikan ibukota pengungsian oleh Kaisar Yang.

Musim semi 618, Jenderal Yuwen Huaji melakukan kudeta dan membunuh Kaisar Yang. Ia lalu mengangkat keponakan kaisar, Yang Hao, Pangeran Qin, sebagai kaisar boneka. Yuwen juga membunuh sejumlah pejabat tinggi dan bangsawan Sui. Untungnya Yang selamat dari pembantaian itu, Yuwen malah memberinya jabatan sebagai menteri pekerjaan umum. Tak lama setelah kudeta, Yuwen bertolak ke utara bersama pasukan elite Xiaoguo, namun ia dikalahkan oleh seorang pemimpin pemberontak bernama Li Mi sehingga kabur ke wilayah lain di utara. Sebelumnya ia menugaskan Yang untuk mempertahankan Kabupaten Wei (sekarang Handan, Hebei). Tahun 619, seorang pejabat Tang bernama Wei Zheng berhasil membujuk Yuan Baozang, seorang bawahan Yuwen lainnya yang ditugaskan menjaga Kabupaten Wei, untuk menangkap Yang dan menyerah pada pemerintah Tang. Yang digiring ke Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi), ibukota Dinasti Tang. Kaisar Tang Gaozu, mengingat hubungan persahabatan mereka ketika masih menjadi pejabat Sui, memberi pengampunan padanya dan mengangkatnya sebagai asisten kepala biro ujian negara serta menganugerahinya gelar kebangsawanan, Adipati Guan.

***

Di bawah pemerintahan Kaisar Gaozu

Tak lama kemudian, Kaisar Gaozu mengangkat Yang sebagai komandan Liangzhou (sekarang Wuwei, Gansu) karena ia akrab dengan seluk-beluk wilayah tersebut. Yang menjalankan tugasnya dengan efektif sehingga suku-suku minoritas di sebelah timur Pegunungan Pamir menyerahkan diri dan tunduk pada pemerintah Tang berkat jasanya. Pada tahun-tahun awal berdirinya Dinasti Tang, suku Tujue Timur sering menyerbu wilayah Tiongkok. Yang berhasil memukul mundur mereka, namun wilayahnya menderita kerusakan yang cukup parah akibat serangan itu. Pada musim dingin 619, Yang secara resmi dianugerahi gelar Nayan (纳言), gelar untuk kepala biro ujian yang juga sejajar dengan perdana menteri. Namun pada kenyataannya ia tetap tinggal di Liangzhou dan tidak berkesempatan untuk menjalankan tanggung jawabnya sebagai Nayan.

Tahun 623, Kaisar Gaozu memanggil Yang ke Chang’an untuk diangkat sebagai kepala biro legislatif pemerintah, sebuah jabatan yang juga sejajar perdana menteri. Ia juga menerima jabatan menteri pekerjaan umum. Secara resmi ia juga tetap menjabat sebagai komandan Liangzhou.

Tahun 626, konfik antara putra-putra Kaisar Gaozu mencapai klimaks dengan meletusnya Insiden di Gerbang Xuanwu. Li Shimin, putra ke-2 kaisar, membunuh kakaknya, putra mahkota Li Jiancheng dan adiknya Li Yuanji, yang mendukung sang putra mahkota. Setelah itu Li Shimin memaksa ayahnya mengangkatnya sebagai putra mahkota. Ia juga menata ulang pemerintahan. Sebagai bagian dari reorganisasi ini, Yang ditarik dari posnya namun pangkatnya tetap sebagai jenderal.

***

Di bawah pemerintahan Kaisar Taizong

Dua bulan setelah insiden itu, Kaisar Gaozu turun tahta dan menyerahkan kekuasaan pada Li Shimin yang naik tahta sebagai Kaisar Tang Taizong. Kaisar baru ini memberikan Yang jabatan sebagai gubernur Yongzhou dan tak lama kemudian sebagai asisten komandan Yangzhou. Tahun 631, ia menjadi komandan Luozhou (sekarang Luoyang, Henan), sebuah wilayah strategis yang juga berfungsi sebagai ibukota timur. Namun tak lama kemudian ia mengundurkan diri, mengenai kapan tepatnya tidak ada catatan yang jelas dalam sejarah.

Sekalipun telah menduduki berbagai jabatan tinggi, Yang tetap dikenal sebagai seorang yang rendah hati dan santun, bahkan terhadap mereka yang jabatannya lebih rendah darinya sekalipun. Seringkali ia dibandingkan dengan perdana menteri Shi Qing dari Dinasti Han yang juga terkenal karena kerendahhatiannya. Keluarganya dikaruniai kemuliaan berlimpah. Adiknya, Yang Shidao, menikah dengan putri Kaisar Gaozu, Putri Guiyang; sepupu perempuannya menikah dengan Li Yuanji dan kemudian menjadi selir kesayangan Kaisar Taizong setelah Li Yuanji terbunuh; keponakannya, Yang Sijing, menikah dengan putri Kaisar Gaozu yang lain, Putri Anping.

Yang meninggal dunia tahun 639, ia memperoleh gelar kehormatan secara anumerta dan dimakamkan dekat makam istri Kaisar Taizong, Permaisuri Zhangsun, yang kelak juga menjadi makam Kaisar Taizong.

Han Xiu

Han Xiu (Hanzi: 韩休, 672-739), Bangsawan Wenzhong dari Yiyang (宜阳文忠子), adalah seorang pejabat pada pertengahan Dinasti Tang yang terkenal akan keterusterangan dan kejujurannya. Ia sempat menjabat sebagai perdana menteri pada masa pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong.

***

Latar belakang

Han Xiu lahir pada tahun 672 pada masa pemerintahan Kaisar Tang Gaozong. Keluarganya berasal dari ibukota Chang’an (sekarang Xi’an, Shaanxi) dan masih keturunan raja-raja negara Han pada Zaman Negara-negara Berperang. Para leluhurnya turun-temurun menjadi pejabat negara pada Dinasti Han, Jin, Wei Utara, Qi Utara, Zhou Utara, Sui, dan Tang. Kakeknya, Han Fu, adalah kepala daerah pada awal Dinasti Tang, sedangkan ayahnya, Han Dazhi, menjadi pejabat sensus di ibukota timur, Luoyang. Pamannya, Han Damin, yang lebih mempunyai nama besar di antara anggota keluarganya, juga adalah pejabat negara. Pada awal pemerintahan Wu Zetian, ia menolak menjadi saksi palsu untuk memberatkan pejabat Li Xingbao. Setelah Li akhirnya dihukum mati, Wu Zetian memaksanya melakukan bunuh diri.

Han adalah seorang yang memiliki bakat sastra yang besar dan berpengetahuan luas. Setelah lulus dari ujian negara, ia diberi jabatan sebagai sekretaris jenderal Kabupaten Taolin (sekarang Sanmenxia, Henan). Pada masa pemerintahan restorasi Kaisar Tang Ruizong, putra mahkota Li Longji secara pribadi menguji sejumlah pejabat yang masuk daftar rekomendasi. Dalam seleksi ini Han mendapatkan nilai terbaik bersama Zhao Dongxi sehingga ia dipromosikan menjadi pejabat rendah biro ujian kekaisaran. Belakangan jabatannya naik menjadi pejabat rendah di kementerian pegawai negeri. Kemudian menjadi pejabat menengah biro legislatif hingga menjadi deputi menteri ritual dimana ia bertugas membuat konsep titah kaisar.

***

Di bawah pemerintahan Kaisar Tang Xuanzong

Tahun 724, ketika Han sedang menjabat sebagai deputi menteri ritual, kaisar mengirimnya ke Guozhou (sekarang Sanmenxia) dalam rangka mendongkrak wibawa pejabat setempat dengan menempatkan pejabat-pejabat bereputasi baik di sana. Guozhou terletak antara Chang’an (ibukota barat) dan Luoyang (ibukota timur), akibatnya bila kaisar sedang bepergian ke kedua ibukota tersebut, iring-iringan kekaisaran sering melintasi kota itu dan untuk itu rakyat harus bekerja keras mempersiapkan kebutuhan kaisar beserta rombongannya. Melihat situasi ini, Han memohon pembebasan pajak bagi rakyat di wilayah Guozhou. Permohonan ini awalnya mendapat penolakan dari perdana menteri Zhang Shuo, namun Han tidak patah semangat, ia terus mengajukan petisi ke istana agar permohonannya dikabulkan. Ketika para bawahannya mengingatkannya bahwa perbuatannya ini bisa membuat Zhang Shuo tersinggung, ia menjawab, “Bila seorang pejabat tak mampu membebaskan rakyatnya dari penderitaan, untuk apa ia mengatur pemerintahan? Bila aku harus dihukum karena menyinggung atasanku, maka aku akan dengan rela hati menerima hukuman itu.”

Petisi yang diajukan Han akhirnya mendapat persetujuan. Namun kurang lebih setahun setelah itu, ia meletakkan jabatannya untuk menjalani masa berkabung bagi ibunya yang baru meninggal. Atas desakannya ia diijinkan keluar sebelum masa bakti tiga tahunnya berakhir. Setelah masa berkabung usai, ia dipanggil kembali untuk menjadi pejabat. Kali ini menjadi deputi menteri pekerjaan umum dan sekali lagi mendapat tanggung jawab dalam penyusunan konsep titah kaisar. Tak lama kemudian ia dipromosikan menjadi salah satu sekretaris jenderal biro eksekutif pemerintah.

Tahun 733, setelah kematian perdana menteri Pei Guangting, Kaisar Xuanzong meminta saran pada Xiao Song, rekan Pei, mengenai orang yang tepat untuk menggantikan Pei. Xiao awalnya merekomendasikan temannya, Wang Qiu, namun Wang menolak dan sebagai gantinya ia merekomendasikan Han pada Xiao. Xiao, yang mengira Han adalah seorang yang penurut dan mudah dikendalikan, akhirnya merekomendasikannya pada kaisar. Kaisar pun mengangkat Han sebagai deputi kepala biro ujian negara dan memberinya kekuasaan sebagai perdana menteri secara de facto. Harapan Xiao untuk mendominasi Han pupus, ia tidak menduga bahwa Han adalah seorang yang keras hati dan tidak dapat tunduk begitu saja pada keinginannya. Karakter Han, terutama kemampuannya mengambil keputusan, membuat Song Jing, seorang pejabat senior terkesan padanya. Han tidak ragu menyuarakan nuraninya secara terang-terangan bahkan tidak jarang menyinggung kaisar sekaligus mengundang respek.

Suatu ketika, Li Meiyu, kepala polisi Kabupaten Wannian (salah satu kabupaten di pinggiran Chang’an), didakwa melakukan pelanggaran hukum (namun kasusnya tidak tercatat jelas dalam dokumen sejarah) dan kaisar memutuskan ia dihukum pengasingan ke wilayah Lingnan. Menanggapi kasus ini Han berkomentar, “Li Meiyu hanya pejabat rendahan dan hanya melakukan pelanggaran ringan, namun ada yang melakukan pelanggaran besar tapi tidak dipecat; mengapa yang melakukan pelanggaran besar ini justru diabaikan sementara yang melakukan pelanggaran kecil diasingkan? Hamba memperhatikan panglima besar Jinwu, Cheng Boxian, karena disayang oleh Yang Mulia menjadi tamak dan korup. Ia telah membangun rumah dan mengendarai kuda tanpa mengindahkan hukum dan tata tertib. Hamba mohon Jenderal Cheng dihukum dulu sebelum Yang Mulia menghukum Li.” Mulanya kaisar menolak, tapi Han meneruskan argumennya, “Yang Mulia bahkan tidak bisa mentolerir pelanggaran kecil Li, jadi bagaimana mungkin kejahatan besar Jenderal Cheng diabaikan begitu saja? Bila Yang Mulia tidak bisa mendepak Cheng, maka hamba pun tidak bisa menuruti perintah Yang Mulia untuk menghukum Li.” Kata-kata Han yang sangat berterus-terang itu membuat kaisar terkesan dan akhirnya menyetujuinya.

Setiap kali kaisar mengadakan pesta pora bergelimang kepuasan duniawi dan menghamburkan biaya besar, ia akan bertanya pada pelayan, “Menurutmu apakah Han Xiu mengetahui semua ini?” Dan tak lama kemudian datang sebuah petisi dari Han yang isinya nasehat agar kaisar menghentikan kebiasaan pesta pora seperti itu. Suatu ketika pernah seorang pelayan berkomentar, “Sejak Han Xiu menjabat perdana menteri, Yang Mulia terlihat semakin kurus, mengapa tidak menyingkirkannya saja?” Jawab sang kaisar, “Sekalipun aku mengurus, namun kekaisaran ini menggemuk; setiap kali Xiao Song menyampaikan laporan padaku, ia hanya menyampaikan yang membuatku senang, tapi setelah kembali ke istana dan memikirkan negara, aku tak dapat tidur nyenyak; Han sering mengkritik dan menyuruhku memperbaiki kesalahan sehingga setelah kembali ke istana dan memikirkan urusan negara, aku dapat tidur nyenyak, aku memakai Han Xiu demi negara ini.”

Kaisar menganugerahi gelar kehormatan Yinqing Guanglu Daifu (银青光禄大夫) pada Han. Namun perselisihan Han dengan Xiao Song kian menajam, ia sering mengkritik Xiao dengan keras yang berujung pengunduran diri Xiao. Kaisar tergerak melihat Xiao yang mengajukan pengunduran diri dengan berlinang air mata. Agar tidak menimbulkan kesan bersikap berat sebelah, maka pada akhir tahun 733. Kaisar Xuanzong mendepak Xiao dan Han dari jabatannya sebagai perdana menteri. Han diturunkan jabatannya menjadi menteri pekerjaan umum. Tahun 736, ia diangkat menjadi penasehat bagi putra mahkota Li Ying dan dianugerahi gelar Bangsawan Yiyang. Han menghembuskan nafas terakhir pada tahun 739, ia dimakamkan dengan penuh kehormatan dan dianugerahi beberapa gelar anumerta. Putra-putranya, Han Hao, Han Qia, Han Hun, Han Hong (韩洪), Han Hong (韩汯), namanya menggunakan pengejaan yang sama namun huruf yang berbeda dari saudaranya), dan Han Huang juga mengikuti jejaknya menjadi pejabat negara. di antara semuanya, Han Huang kelak menjadi gubernur yang berpengaruh pada masa pemerintahan Kaisar Tang Dezong (cicit Kaisar Xuanzong).