Sumbangan / Donate

Donate (Libery Reserve)


U5041526
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Dinasty Ming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Dinasty Ming. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 September 2010

Kaisar Jingtai (Zhu Qiyu)

Kaisar Jingtai (Hanzi: 景泰, 1428-1457) adalah kaisar ke-7 dari Dinasti Ming yang memerintah Tiongkok pada tahun 1449 sampai 1457. Nama aslinya adalah Zhu Qiyu (朱祁钰). Ia adalah putra dari Kaisar Xuande dan adik tiri dari Kaisar Zhengtong. Tahun 1449, menyusul terjadinya Insiden Tumubao, dimana kakaknya, Kaisar Zhengtong, kalah perang dan tertawan oleh Esen Khan dari Mongol, ibusuri atas rekomendasi para menteri mengangkatnya sebagai kaisar untuk mengisi kevakuman kuasa. Pada bulan September di tahun yang sama dia menamai rezimnya Jingtai. Setelah bertahta dia mengangkat Yu Qian, seorang menteri yang terkenal akan kejujuran dan ketegasannya, sebagai menteri perang. Yu segera memperkuat angkatan perang Ming untuk menghadapi pasukan Mongol yang terus maju hendak menduduki Beijing. Atas jasa Yu, tentara Mongol berhasil dihalau dan dipaksa untuk mengadakan negosiasi damai serta mengembalikan Zhengtong yang ditawan. Dinasti Ming pun selamat dari kehancuran.

Dengan bantuan Yu Qian, Jingtai memusatkan perhatiannya pada hal-hal penting. Dia memerintahkan renovasi atas Kanal Besar dan tanggul-tanggul di daerah Sungai Kuning. Hasilnya ekonomi negara bertumbuh dan negara makin kuat.

Tahun 1450, Zhengtong kembali ke Beijing. Para pejabat Ming bersukacita menyambut kembalinya sang kaisar itu. Namun tidak dengan Jingtai, kepada para mentrinya dia berkata dengan marah, “Dulu, saya tidak ingin menjadi kaisar, namun kalian yang memaksa; sekarang kalian juga yang menyuruh saya melepaskan tahta, mengapa ?!” Maka dia menempatkan kakaknya sebagai tahanan rumah di istana selatan untuk mencegahnya kembali merebut kuasa. Gelar putra mahkota dari putra Zhengtong dicabut dan dialihkan ke putranya sendiri, Zhu Jianji.

Jingtai terus memerintah hingga tahun 1457. Suatu hari putranya tiba-tiba meninggal secara misterius, diisukan karena diracun. Hal ini membuatnya sangat berduka dan jatuh sakit. Kesempatan ini dipakai oleh para menteri yang tidak senang dengannya untuk menyerbu istana selatan dan membebaskan Zhengtong dari tahanan rumah. Dalam keadaan sakit di kamarnya, dia mendengar suara lonceng dan genderang dibunyikan tanda kembalinya Zhengtong ke atas singasana. Dia lalu mengirim kasimnya untuk menyelidiki situasi. Setelah mengetahui kakaknya telah kembali bertahta, dia tidak bisa berkata apapun selain, “Bagus ! bagus ! bagus !” yang entah apa maksudnya.

Kini kakaknya yang balik mengenakan tahanan rumah padanya. Sebulan kemudian dia dikabarkan meninggal, sebab kematiannya tidak jelas, ada sumber yang mengatakan dia meninggal akibat kesedihannya dan ada yang mengatakan dia dibunuh atas perintah Zhengtong. Makam yang dipersiapkan untuknya dihancurkan atas perintah kakaknya dan dia tidak dimakamkan di kompleks pemakaman kaisar Ming. Dia dikuburkan bersama selir-selirnya di pinggiran barat kota Beijing dengan upacara penguburan untuk pangeran.

Kaisar Zhengtong (Zhu Qizhen)

Kaisar Zhengtong (Hanzi: 正统, 1427-1464) adalah kaisar ke-6 dari Dinasti Ming yang berkuasa tahun 1435 hingga 1449 lalu berkuasa lagi tahun 1457 hingga wafatnya tahun 1464, juga dikenal dengan nama Kaisar Tianshun (天顺), nama yang dipakai setelah restorasinya. Dia terlahir dengan nama Zhu Qizhen (朱祁镇) sebagai anak sulung dari Kaisar Xuande dan Permaisuri Sun.

***

Awal pemerintahan

Zhu Qizhen menjadi kaisar setelah Xuande wafat tahun 1435 dan rezimnya diberi nama Zhengtong. Saat itu dia baru berumur delapan tahun sehingga menjadikannya kaisar Ming pertama yang naik tahta dimasa kanak-kanak. Dibawah bimbingan para pejabat berpengalaman dari rezim ayahnya, kestabilan warisan rezim sebelumnya dapat dipertahankan. Namun setelah ibunya dan beberapa pejabat tua wafat, dia mulai bergantung pada kasimnya, Wang Zhen.

Belakangan Wang dipromosikannya sebagai penanggung jawab urusan seremonial, posisi yang disalahgunakannya begitu dia menjabat. Wang terlibat korupsi dan menyingkirkan para pejabat jujur sehingga situasi negara mulai kacau, kejayaan yang pernah dicapai pada masa pendahulunya mulai merosot pada masa pemerintahan Zhengtong.

***

Insiden Tumubao

Tahun 1449, Esen Khan, kepala suku Wala dari Mongolia memimpin tentaranya menyerang ke selatan dan menduduki kota Datong di perbatasan. Karena mengkhawatirkan properti pribadinya di Weizhou, kota kecil dekat Datong direbut musuh, Wang Zhen membujuk Zhengtong memimpin langsung 500.000 prajurit untuk menahan serangan musuh.

Pasukan yang dipersiapkan dengan terburu-buru itu masih belum cukup terlatih sehingga mereka mudah kelelahan dan dikalahkan di Tumubao, sebuah benteng dekat Huailai, provinsi Hebei. Ketika Zhengtong terkepung di tengah musuh dan prajuritnya berjatuhan, Jendral Fan Zhong marah dan menyalahkan Wang Zhen yang telah menjerumuskan kaisar dalam kesulitan seperti ini, dengan gadanya dia menghantam Wang Zhen hingga tewas. Kemudian Fan melakukan usaha terakhir dengan mencoba menerobos kepungan musuh dan menyelamatkan kaisar, namun usaha ini gagal. Setelah melihat Fan Zhong gugur, dia turun dari kudanya dan duduk di tanah, siap menyongsong maut, namun dia ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke utara. Peristiwa ini dikenal dengan nama “Insiden Tumubao”

Penangkapannya menimbulkan kehebohan di Beijing. Kalau saja tanpa Jendral Yu Qian, Dinasti Ming mungkin sudah runtuh saat itu. Yu menyarankan agar adik kaisar, Zhu Qiyu diangkat sebagai kaisar mengisi kevakuman kuasa dan dia sendiri menahan serangan Esen Khan. Selama ditahan di Mongol Zhengtong berteman baik dengan Esen Khan yang menangkapnya, dia baru dibebaskan tahun 1450.

***

Tahanan rumah dan restorasi

Sekembalinya ke Tiongkok dia dikenai tahanan rumah oleh adiknya, Kaisar Jingtai yang ingin tetap menjadi kaisar, statusnya pun diturunkan menjadi maharaja, status yang hanya sekedar nama tanpa kuasa. Dia ditempatkan di istana selatan, pusat kota Beijing dan segala kontak ke luar dibatasi oleh Jingtai. Gelar anaknya sebagai putra mahkota pun dicabut dan dialihkan ke anak Jingtai.

Tahun 1457, setelah tujuh tahun menjadi tahanan rumah, Jingtai jatuh sakit karena sedih kematian calon pewarisnya. Kesempatan ini dipakai oleh Jendral Shi Heng, Mentri Xu Youzhen dan Kasim Cao Jixiang yang tidak puas dengan Jingtai menyerbu istana selatan dan membebaskan Zhengtong yang ditahan. Dia ditandu menuju istana kerajaan dan menjadi kaisar untuk kedua kalinya. Genta dan genderang dibunyikan untuk memanggil para pejabat ke hadapannya dan saat itulah restorasinya diumumkan, nama rezimnya kini diganti menjadi Tianshun.

Setelah kembali menjadi kaisar, dia termakan oleh fitnah yang dibuat untuk menjatuhkan Jendral Yu Qian yang dulu berjasa mempertahankan ibukota, atas perintahnya Yu Qian dihukum mati. Dia mempercayai dan memberi penghargaan pada Shi Heng dan Cao Jixiang yang membantunya merebut tahta. Namun belakangan kedua orang ini malah memimpin sebuah pemberontakan yang gagal terhadapnya.

Februari 1464, dia jatuh sakit dan meninggal tak lama kemudian. Putranya, Zhu Jianshen menggantikannya sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Chenghua. Salah satu dari sedikit hal baik yang dilakukannya adalah melarang penguburan manusia hidup-hidup untuk menemani tuannya yang meninggal, mengakhiri tradisi kejam yang telah berlangsung selama berabad-abad itu.

Kaisar Hongzhi (Zhu Youtang)

Kaisar Hongzhi (Hanzi: 弘治, 30 Juli 1470-8 Juni 1505) adalah kaisar Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1487 sampai 1505. Terlahir dengan nama Zhu Youtang (朱祐樘), adalah anak dari Kaisar Chenghua dari selirnya yang bermarga Ji. Dia adalah kaisar masa pertengahan Ming yang bijaksana dan cinta damai, selama masa pemerintahannya Tiongkok stabil dan makmur sehingga masa ini disebut abad perak Hongzhi.


**

Kehidupan awal

Hongzhi lahir dan dibesarkan dibawah penganiayaan Selir Wan dan kroni-kroninya yang memburu putra-putra yang dilahirkan bagi Kaisar Chenghua. Beberapa kali dia lolos dari usaha pembunuhan. Dia dibesarkan secara diam-diam di lingkungan istana oleh permaisuri dari ayahnya. Di bawah perlindungan permaisuri, Selir Wan tidak berani bertindak gegabah padanya. Walaupun begitu, niatnya untuk membunuh sang pangeran tidak pernah pupus, namun sampai kematiannya tahun 1487 niat ini tidak pernah terlaksana.

Tahun 1475, pada usianya yang ke lima barulah dia berkumpul kembali dengan ayahnya dan dianugerahi gelar putra mahkota. Dia sudah menunjukkan kecemerlangannya sejak dini dan dididik dengan baik dibawah pengawasan permaisuri. Dia menguasai ajaran-ajaran Konfusius dan hasil belajarnya sangat memuaskan.

**

Pemerintahan

Tahun 1587, ayahnya mangkat dan dia mewarisi tahta kerajaan. Tahun berikutnya dia menamai rezimnya Hongzhi. Begitu menjadi kaisar, dia tidak membuang-buang waktu menyingkirkan kroni-kroni Selir Wan dari pemerintahan. Sekitar seribu orang termasuk kasim-kasim dan kerabat Selir Wan dinyatakan bersalah dan diberikan hukuman setimpal.

Disaat yang sama dia menunjuk orang-orang jujur seperti Qiu Jun, Xie Qian, Liu Jian, Wang Pu, Xu Pu, Li Dongyang, dll mengisi posisi penting dalam pemerintahannya. Selain itu dia juga mendorong menteri-menterinya untuk berterus terang mengenai segala masalah, bahkan kritik-kritik terhadap dirinya pun diterima dengan terbuka. Dengan demikian pemerintah lebih transparan dan makin banyak orang-orang berbakat bekerja padanya.

Pernah suatu kali pada awal pemerintahannya, Hongzhi berencana membangun sebuah paviliun yang indah di bukit Wansui sehingga dia bisa menikmati pemandangan dari sana. Seorang sarjana kerajaan bernama Hu Chen mengirim surat keberatan padanya agar mengurungkan niatnya dengan alasan pemborosan. Semua orang khawatir akan nasib Hu akibat ‘kelancangannya’. Namun setelah Hongzhi membaca surat Hu dan merasa alasan yang dikemukakan Hu masuk akal, dia bukannya menghukum Hu, malah sebaliknya mengangkatnya sebagai pejabat distrik di Yunnan.

Hongzhi juga pernah terobsesi dengan takhayul karena pengaruh seorang kasimnya yang bernama Li Guang. Setelah Li meninggal, dia memerintahkan rumah Li digeledah untuk mencari sebuah buku mistik seperti yang didesas-desuskan. Namun yang ditemukan adalah setumpuk catatan pembukuan yang berisi hasil korupsi dan kolusi yang dilakukan Li. Kejadian ini membuatnya sadar bahwa dia harus menjaga jarak dari pejabat-pejabat korup dan dekat pada mereka yang jujur.

Hongzhi melandaskan sistem pemerintahannya berdasarkan ideologi Konfusius yang mengispirasikannya menjadi seorang pemimpin yang pekerja keras dan rajin. Dia mengawasi dengan ketat masalah-masalah kenegaraan, menurunkan pajak, mengurangi pengeluaran pemerintah, dan mempekerjakan orang-orang yang pantas sebagai bawahannya. Dalam masa pemerintahannya kekuasaan para kasim dibatasi dan intrik dalam istana yang sudah menjadi hal biasa semasa rezim-rezim sebelumnya berkurang drastis. Rakyat pun hidup damai dan sejahtera. Hongzhi pantas dibandingkan dengan dua pendahulunya, Kaisar Hongwu dan Yongle sebagai salah satu kaisar Ming yang cemerlang.

**

Akhir hayat

Tidak seperti para pendahulunya yang mempunyai banyak selir dan melahirkan banyak anak. Hongzhi hanya mempunyai seorang permaisuri seumur hidupnya. Permaisurinya memberi dua putra baginya, yang satu meninggal ketika masih bayi, maka dia hanya mempunyai satu orang yang dinominasikan mewarisi tahtanya, yaitu Zhu Houzhao yang kelak menjadi Kaisar Zhengde.

Ketika dia sakit berat tahun 1505, dipanggilnya mentri-mentrinya ke ranjang kematiannya. Kepada mereka dia mengumumkan bahwa putra mahkota Zhu Houzhao akan menggantikannya menjadi kaisar. Dia berpesan untuk terakhir kalinya pada mereka, “Pangeran adalah anak yang cerdas, tapi dia masih terlalu muda dan terlalu banyak bermain, aku berharap kalian mendampinginya dalam menjalankan pemerintahan sehingga pada saatnya nanti dia menjadi kaisar yang baik. Berjanjilah kalian untuk melakukannya, dengan begitu aku dapat mati dengan tenang”

Kaisar Chenghua (Zhu Jianshen)

Kaisar Chenghua (Hanzi: 成化, 1447-1487) adalah kaisar ke-8 dari Dinasti Ming yang memerintah tahun 1464 sampai 1487. Dia adalah anak sulung Kaisar Zhengtong, terlahir dengan nama Zhu Jianjun, setelah ayahnya kembali naik tahta namanya diubah menjadi Zhu Jianshen (朱见深).

**

Kehidupan awal

Ketika berumur dua tahun, ayahnya, Kaisar Zhengtong ditawan oleh Mongol dalam insiden Tumubao. Tahun berikutnya setelah ayahnya kembali ke daratan tengah, namun pamannya, Kaisar Jingtai yang menjadi naik tahta untuk mengisi kevakuman kuasa menjadikannya tahanan rumah. Bersama ayahnya, dia turut menjalani masa tahanan ini selama kurang-lebih tujuh tahun. Selama itu dia hidup di bawah bayang-bayang pamannya, gelar putra mahkotanya dicabut dan dialihkan pada anak Jingtai. Tahun 1457, ayahnya kembali merebut tahta dan gelarnya sebagai putra mahkota dipulihkan sehari sebelum kematian pamannya di tahun yang sama.

**

Pemerintahan

Tahun 1464, ayahnya mangkat sehingga dia mewarisi tahta kerajaan dan menamai rezimnya Chenghua, saat itu usianya 17 tahun. Pada awal pemerintahannya dia menjalankan kebijakan-kebijakan positif seperti menurunkan pajak dan memperkuat kerajaannya, namun ini hanya sebentar karena tak lama kemudian kekuasaan pemerintahaan jatuh ke tangan para kasim. Untuk memperkuat pemerintahannya Chenghua membentuk agen mata-mata Xi Chang (melengkapi Dong Chang yang telah ada terlebih dulu) yang dikepalai oleh kasim kepercayaannya, Wang Zhi. Organisasi ini mempunyai hak istimewa untuk mengeksekusi siapapun yang mereka anggap sebagai pengkhianat. Wang memonitor segala kegiatan dan perkataan rakyat, dia banyak menganiaya orang-orang tidak berdosa sehingga orang-orang baik dari dalam maupun luar pemerintahan merasa terteror, kebebasan benar-benar dikebiri pada saat itu.

Memang belakangan Xi Chang dibubarkan dan Wang Zhi diasingkan setelah seorang badut istana menyindir Chenghua, namun para kasim masih memegang kuasa dan pada abad ke-16 organisasi ini dihidupkan kembali oleh kaisar-kaisar penerusnya. Selain bergantung pada para kasim, Chenghua juga bergantung pada Selir Wan, wanita yang pernah melayaninya ketika kecil dan beusia dua kali umurnya. Setelah naik tahta, dia masih terobsesi pada Wan yang ketika itu berumur 35 tahun dan menganugerahinya gelar guifei (贵妃)/ selir kelas atas. Hubungan mereka melahirkan seorang putra, namun bayi itu meninggal tak lama kemudian. Hal ini menjadi awal penderitaan bagi para wanita istana karena untuk mempertahankan posisinya Wan melarang siapapun melahirkan anak bagi kaisar. Mereka yang hamil akan dipaksa untuk melakukan aborsi atau bahkan dibunuh.

Selama masa pemerintahannya kolaborasi antara para kasim dan Selir Wan membusukkan tubuh pemerintahan dan korupsi merajarela. Selir Wan menempatkan keponakannya, Wan An dalam kabinet sebagai mata-mata yang mengawasi tindak-tanduk para pejabat. Sebuah pantun satire yang populer saat itu yang berbunyi, “Ketiga kanselir agung adalah boneka kertas, keenam mentri adalah patung tanah liat.” Tiga kanselir agung merujuk pada Liu Ji, Liu Xu dan Wan An yang tidak memiliki kemampuan apapun selain membual dan menjilat, enam mentri tidak lebih dari sekelompok penjilat yang hanya bisa manggut pada Selir Wan dan para kasim. Chenghua yang dungu dan tukang main wanita sering mengabaikan tugasnya sebagai kaisar sehingga para mentrinya sulit menemuinya. Dia juga seorang yang boros, menghambur-hamburkan uang tanpa terkendali, dia hampir menghabiskan cadangan emas yang telah dikumpulkan para pendahulunya.

Chenghua cenderung memfavoritkan seseorang lebih berdasarkan subjektivitas daripada berdasarkan kemampuan. Hal ini menyebabkan degradasi dalam pemerintahan dan membuka celah bagi para pejabat korup untuk berkuasa. Pada masanya sering terjadi pemberontakan petani di seluruh negri yang semuanya berhasil ditumpas dengan kejam. Hal positif selama rezimnya hanya kemajuan dalam bidang budaya oleh Hu Junren dan Chen Baisha yang mendominasi panggung akademis.

**

Putra mahkota dibesarkan secara rahasia

Setelah anak yang dilahirkan Selir Wan meninggal, dia melarang para wanita kerajaan melahirkan anak bagi kaisar. Ketika Chenghua menghamili seorang dayang bermarga Ji, Wan memerintahkannya untuk menggugurkan kandungannya, namun Ji malah diam-diam melahirkan anak itu dan membesarkannya secara diam-diam di bagian terpencil lingkungan istana. Enam tahun kemudian, Chenghua sedang mengeluh pada seorang kasimnya, dia mengatakan dirinya sangat sedih karena belum mempunya seorang putra pun padahal usianya makin tua. Sang kasim belakangan mengungkapkan rahasia ini, bahwa Chenghua sebenarnya memiliki seorang anak yang dibesarkan secara rahasia. Mendengar hal ini Chenghua sangat gembira, dia segera mencari anak itu dan menemukannya. Keesokan harinya berita ini langsung diumumkan pada seluruh pejabatnya. Dayang Ji langsung diangkat sebagai selir.

Selir Wan sangat murka mendengar kabar ini dan dia segera menyusun rencana untuk melenyapkan anak itu. Korban pertamanya adalah Ji yang mati secara misterius. Zhang Min, kasim yang turut membesarkan anak itu juga ditemukan mati bunuh diri dengan menelan emas. Melihat pangeran kecil ini dihantui bahaya, ibu suri mengambil tanggung jawab merawatnya. Di depan ibu suri, Wan tidak berani bertindak gegabah namun niatnya untuk membunuh pangeran itu belum sirna. Suatu hari Wan mengundang sang pangeran untuk mengunjunginya, sebelum berangkat ibu suri berpesan padanya agar tidak memakan apapun yang ditawarkan Wan padanya. Pangeran itu menuruti nasehat neneknya, dia beralasan sudah kenyang. Ketika Wan menawarkannya semangkuk sup, dia berkata bahwa takut ada racun di sup itu. Mendengar ini dengan marah Wan menghentakkan kakinya ke lantai dan menjerit, “Bagaimana mungkin seorang anak kecil berkata demikian padaku ? Aku yakin suatu hari nanti dia akan membunuhku !”. Tidak lama kemudian Wan meninggal dalam kemarahannya.

**

Kematian

Kematian Wan pada tahun 1487 merupakan pukulan berat bagi Chenghua. Dia merasa sangat berduka sehingga tidak menghadiri rapat selama seminggu. Tak lama kemudian dia pun meninggal bulan September tahun itu. Sang pangeran yang dibesarkan secara rahasia itu menggantikannya naik tahta sebagai Kaisar Hongzhi yang berhasil mengembalikan kejayaan dinastinya selama masa pemerintahannya.

Kaisar Zhengde (Zhu Houzhao)

Kaisar Zhengde (Hanzi: 正德, 1491-1521) adalah kaisar Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1505 sampai 1521. Dia adalah satu-satunya putra Kaisar Hongzhi yang tersisa, saudaranya meninggal saat masih bayi. Terlahir dengan nama Zhu Houzhao (朱厚照). Tidak seperti ayahnya yang bijak, Zhengde dikatakan sebagai kaisar Ming yang bermoral paling bejat.

***

Pemerintahan

Zhengde mendapat gelar sebagai putra mahkota tahun 1492. Dia menjadi kaisar tahun 1505 setelah ayahnya mangkat dan menamai rezimnya Zhengde. Dia mempercayai pejabat-pejabat korup dan menyimpan banyak wanita di istana belakang. Zhengde banyak menghabiskan waktunya bermain wanita. Bosan dengan wanita-wanita di istananya, dia memerintahkan wanita-wanita dari Asia Barat dan Tengah dibawakan untuknya. Setelah merasa jenuh dengan mereka, dia memerintahkan wanita-wanita dari rumah pejabat-pejabatnya dibawa padanya.

Seorang pejabat bernama Ma Ang mempunyai adik yang pandai menari dan menyanyi. Dia menceraikan sang adik dari suaminya lalu mempersembahkannya pada Zhengde. Ma Ang segera dipromosikan karena hal ini. Zhengde yang juga alkoholik juga sering berpesta di rumah Ma Ang. Suatu ketika dia tertarik dengan salah satu gundik Ma Ang, yang kemudian dipersembahkan padanya. Hal ini membuat dua saudara laki-laki Ma Ang dipromosikan. Terkadang dia juga sering keluar dari istananya dengan pakaian biasa ditemani kasim dan pengawalnya untuk mencari wanita cantik.

Zhengde mengadopsi 100 anak angkat yang semuanya diberi marga Zhu. Melalui mereka dia bertindak sewenang-wenang, menyita tanah-tanah petani, memeras rakyat dan membangun banyak istana untuknya. Pejabat korup lain yang disenanginya termasuk Jiang Bin dan Qian Ning. Situasi politik pada masa itu sangat kacau karenanya.

***

Jaman para kasim

Selama masa pemerintahannya dia menempatkan delapan kasim dalam posisi penting, kedelapan orang ini dikenal dengan julukan delapan harimau. Dengan kaisar di belakang mereka, mereka bertindak sewenang-wenang. Mereka menfitnah 53 pejabat setia sebagai pengkhianat dan menyingkirkannya. Pemerintahan secara de fakto dijalankan oleh mereka. Semua laporan yang ditujukan pada kaisar harus terlebih dahulu melalui persetujuan Liu Jin, salah satu dari mereka yang paling berkuasa sebelum disetujui oleh kaisar. Zhengde sendiri yang cuma tahu bersenang-senang menganggap tugasnya membaca dan menandatangani dokumen sebagai beban sehingga mempercayakan semua itu pada Liu Jin.

Liu Jin adalah orang yang berpendidikan rendah, dokumen-dokumen itu selalu dibawanya pada saudara iparnya, Zhang Wenmian, seorang sarjana gagal untuk ditanganinya. Saat itu ada sebuah sindiran populer diantara rakyat ibukota yang mengatakan bahwa ada seorang kaisar lain bermarga Liu disamping Zhengde. Tahun 1510, Liu Jin dihukum mati setelah melakukan kudeta yang gagal. Zhengde merazia kediaman Liu Jin dan menyita sejumlah besar barang berharga.

***

Kaisar yang konyol

Selain dikenal sebagai kaisar yang gila wanita, Zhengde dikenal kekonyolannya. Suatu ketika dia pernah mengadakan inspeksi perbatasan di Datong. Saat itu 50.000 orang Tartar menyerbu perbatasan. Bersama pasukannya dia turut bertempur melawan mereka. Setelah melalui perjuangan yang berat pasukan penyerbu itu pada akhirnya memang berhasil dihalau.

Zhengde dan orang-orangnya hanya terlibat dalam pertempuran kecil dengan pasukan garis belakang musuh. Dalam pertempuran itu 16 Tartar terbunuh sementara korban dipihaknya mencapai ratusan. Lepas dari semua itu, Zhengde merasa dia telah menang dengan gemilang, dia menyombongkan diri pada para pejabatnya. “Tahukah kalian aku telah membunuh seorang prajurit musuh dengan tanganku sendiri ?” katanya dengan sombong. Beberapa orang dari mereka merasa hal ini tidak pantas dan menasehatinya agar tidak bersikap demikian. Sebagai jawabannya Zhengde mengirim mereka ke penjara, dipecat atau dihukum mati.

***

Ekspedisi ke selatan dan akhir hayat

Juni 1519, Zhu Chenhao, Pangeran Ning memberontak terhadapnya yang kemudian ditumpas. Zhengde memakai kesempatan ini untuk mengadakan ekspedisi ke selatan. Sepanjang rute yang dilewatinya ke Nanjing dia sering menangkapi wanita. Takut ditangkap Zhengde dan dijadikan gundik, banyak wanita buru-buru menikah untuk menghindari hal ini. Dia terkena penyakit berat sekembalinya dari perjalanan itu dan akhirnya wafat tahun 1521 tanpa meninggalkan keturunan.

Kaisar Jiajing (Zhu Houcong)

Kaisar Jiajing (Hanzi: 嘉靖, 1507-1567) adalah kaisar ke-11 dari Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1521 sampai 1567. Terlahir dengan nama Zhu Houcong (朱厚熜). Dia adalah anak sulung dari Zhu Youyuan dan sepupu dari kaisar sebelumnya, Zhengde. Dia menjadi kaisar setelah Zhengde mangkat tanpa meninggalkan keturunan.

***

Awal pemerintahan

Setelah naik tahta, tahun-tahun awal pemerintahannya berjalan cukup baik. Dia membatalkan kebijakan-kebijakan yang merugikan dari rezim Zhengde dan menyingkirkan pejabat dan kasim-kasim korup dari tubuh pemerintahan. Jiang Bin, pejabat militer yang jahat juga dieksekusi atas perintahnya. Selain itu dia juga memerintahkan pemotongan pajak di daerah-daerah yang dilanda bencana alam. Wanita-wanita yang ditawarkan padanya sebagai hadiah dikirim pulang.

***

Kemerosotan

Tak lama setelah bertahta, Jiajing memutuskan untuk memberi gelar huangkao pada ayahnya, sebuah gelar untuk ayah kaisar. Hal ini diprotes oleh banyak mentrinya yang menganggapnya tidak sesuai dengan tradisi karena ayah Jiajing bukan kaisar sehingga tidak memenuhi syarat untuk mendapat gelar itu. Bukannya menuruti nasehat itu, Jiajing malah menjebloskan atau menghukum mati mereka yang memprotes keputusannya. Akibatnya banyak pejabat jujur mengundurkan diri sehingga memberi kesempatan bagi mereka yang korup menyusup ke tubuh pemerintahan.

Jiajing seorang yang sangat percaya takhyul dan terobsesi mencari rahasia keabadian. Dia mengabaikan urusan negara selama hampir duapuluh tahun karenanya. Dia mempercayakan urusan negara pada perdana mentrinya yang korup, Yan Song yang memegang kekuasaan selama tujuhbelas tahun. Yan Song dan anaknya menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan mereka sendiri. Siapapun yang ingin dipromosikan akan dating ke kediamannya dengan membawa banyak hadiah. Terkadang jumlah mereka sangat banyak sampai harus menunggu lama di luar kediamannya sebelum dipersilakan masuk. Situasi politik saat itu kacau dan keuangan negara makin menipis. Di samping itu serbuan bajak laut Jepang di daerah pesisir, pasukan Mongol di perbatasan, dan sejumlah pemberontakan petani makin memperburuk krisis sosial saat itu.

Hai Rui, seorang pejabat yang terkenal akan kejujurannya menegurnya karena kebodohanya. Dia membawa bersamanya sebuah peti mati ketika menghadap kaisar untuk menyampaikan surat peringatan sebagai tanda siap mati demi kebenaran. Jiajing marah atas kelancangan Hai Rui, walau tidak dihukum mati Hai Rui harus mendekam dipenjara dan dipecat dari jabatannya.

***

Usaha pembunuhan oleh dayang istana

Jiajing adalah seorang yang bertemperamen kasar, dia memperlakukan wanita-wanita di istananya dengan kejam. Mereka sering dipukuli hanya karena kesalahan kecil. Lebih dari 200 orang dari mereka tewas karena perlakuan buruk. Dalam usahanya mencari keabadian, Jiajing memerintahkan 300 gadis dibawah 14 tahun dan 100 gadis dibawah 10 tahun dibawa ke istana untuk diambil darah mensturasi pertama mereka untuk dibuat obat panjang umur. Selain itu juga, 1000 wanita diambil dari seluruh penjuru negeri untuk kepuasannya. Menurut aturan saat itu, setiap wanita yang tidur dengan kaisar harus diberi gelar. Namun Jiajing sering lupa memberi mereka gelar setelah menidurinya sehingga membangkitkan rasa tidak senang di kalangan wanita istana.

Puncaknya, pada suatu malam tahun 1542 sekelompok dayang yang terdiri dari 16 orang dipimpin oleh Yang Jinying menyusup diam-diam ke kamar tempat Jiajing tidur. Dengan seutas tambang mereka mencoba membunuh sang kaisar, namun karena gugup Yang salah membuat simpul sehingga tali itu tidak secara maksimal mencekiknya. Jiajing melawan sekuat tenaga. Yang lalu menarik tusuk konde perak dari rambutnya dan menikamkannya pada kaisar. Pada saat yang kritis ini Permaisuri Xiaolie bersama para prajurit datang menyelamatkan kaisar yang sudah tak sadarkan diri. Para dayang itu pun berhasil diringkus.

Ketika fajar menyingsing, mereka semua dihukum mati dengan kejam. Kepala mereka dipenggal dan dipertontonkan kepada publik sebagai peringatan bagi yang lain. Keluarga mereka pun tidak luput dari hukuman, 10 lainnya yang terlibat upaya pembunuhan itu turut dieksekusi dan 20 lainnya dijadikan budak, bahkan selir Cao Duan yang tidur dengan kaisar malam itu juga dihukum mati.

Walaupun Jiajing lolos dari pembunuhan itu, dia kehilangan sebuah matanya ketika melawan. Malu dengan penampilannya dia tidak pernah hadir rapat-rapat kenegaraan lagi dan tidak seorangpun dari luar istana boleh melihat wajahnya kecuali Yan Song, si perdana mentri korup kepercayaannya.

***

Kematian dan warisan

Selama masa-masa akhir pemerintahannya, Jiajing banyak menghabiskan waktu untuk mencari keabadian. Dia banyak mengambil gadis-gadis yang baru memasuki usia remaja untuk melakukan hubungan seks yang diyakini menambah kekuatannya. Dia juga memerintahkan pendeta-pendeta untuk mencari mineral-mineral langka dari seluruh penjuru negeri untuk dibuat obat panjang umur dan awet muda, termasuk zat merkuri yang membahayakan kesehatan. Obsesinya ini memperburuk kondisi keuangan negara dan mendapat banyak tentangan dari berbagai pihak.

Setelah 45 tahun bertahta, Jiajing wafat pada tahun 1567 (kemungkinan karena overdosis zat merkuri) dan digantikan oleh anaknya, Zhu Zaihou. Masa bertahtanya yang panjang menjadikannya kaisar Ming kedua yang paling lama berkuasa setelah cucunya, Kaisar Wanli. Walaupun pada masanya keadaan negara relatif stabil, kemerosotan mulai nampak pada akhir abad 16 karena dia banyak mengabaikan tugas sebagai kepala negara.

Kaisar Longqing (Zhu Zaihou)

Kaisar Longqing (Hanzi: 隆庆, 1537-1572) adalah kaisar ke-12 dari Dinasti Ming yang bertahta selama enam tahun yaitu dari tahun 1567-1572. Terlahir dengan nama Zhu Zaihou (朱載垕), adalah anak ketiga dari Kaisar Jiajing. Tahun 1539 diberi gelar Pangeran Yu. Setelah Jiajing mangkat tahun 1567 dia menjadi meneruskan tahtanya, rezimnya diberi nama Longqing.

***

Pemerintahan

Begitu naik tahta, Longqing segera mengambil tindakan untuk memperbaiki segala sesuatu yang tidak benar selama pemerintahan ayahnya yang panjang. Dia mereformasi pemerintahannya dengan menghukum para penjilat dari pemerintahan ayahnya dan mempekerjakan pejabat-pejabat bersih untuk mengatasi situasi. Jendral Qi Jiguang yang pernah berjasa menghalau bajak laut Jepang dari pesisir timur diperintahkan untuk memperkuat pertahanan di Tembok Besar. Negarawan ulung, Gao Gong dan Zhang Juzheng diperintahkan mengadakan negosiasi damai dengan Mongol. Aktivitas perdagangan pun dibuka lagi di perbatasan sehingga hubungan antara Tiongkok dan Mongol yang telah membeku selama berabad-abad pun mulai menghangat kembali. Hal ini menciptakan stabilitas di sepanjang perbatasan utara.

Longqing juga memajukan perdagangan dengan negara-negara lain seperti Eropa, Afrika, dan negara Asia lainnya. Selain itu, dia juga memperkuat daerah perbatasan baik darat maupun laut termasuk kota-kota pelabuhan sepanjang Zhejiang dan Fujian untuk menangkal serangan bajak laut yang pernah menjadi momok ketika pemerintahan Jiajing.

Longqing dikatakan sebagai seorang kaisar yang liberal dan berpikiran terbuka. Namun seperti ayahnya, Longqing juga menyukai kesenangan duniawi. Dia mempunyai sejumlah besar selir yang siap melayaninya. Dia seorang yang boros dan hampir menghabiskan kas negara karena kehidupannya yang glamor. Korupsi di tubuh pemerintahan pun masih belum bisa diberantas secara tuntas sehingga beberapa pemberontakan petani meletus.

Maret 1572, Longqing menderita sakit parah. Setelah dua bulan beristirahat, dia kembali mengatur pemerintahan. Namun dia sadar hidupnya tidak akan lama lagi, lalu dia memanggil Gao Gong, Gao Yi, dan Zhang Juzheng untuk meminta bantuannya mendampingi putra mahkota Zhu Yijun yang akan menggantikannya. Dia pun meninggal tak lama kemudian setelah masa pemerintahannya yang singkat dan dimakamkan di Zhaoling (昭陵)。, salah satu makam di kompleks pemakamaman kaisar Ming.

Li Dingguo

Li Dingguo (Hanzi:李定国)(1621-1662) adalah pemberontak anti-Qing pada awal berdirinya dinasti itu. Ia lahir di Yan’an, Provinsi Shaanxi dari sebuah keluarga miskin. Walau demikian ia seorang yang cerdas dan gemar membaca, terutama seni berperang dan sejarah. Dia bergabung dengan pemberontakan petani Daxi yang dipimpin oleh Zhang Xianzhong dan menjadi anak angkatnya. Pasukan itu berkuasa di Sichuan dan sekitarnya, dia juga salah satu dari empat jendral terbaik Zhang. Setelah kematian ayah angkatnya, Li, Sun Kewang, Liu Wenxiu, dan Ai Nengqi mengabdi pada Zhu Youlang (Kaisar Yongli), salah satu pangeran Dinasti Ming yang mengklaim diri sebagai kaisar Ming Selatan.

Li dengan pasukan gajahnya yang terkenal berhasil merebut daerah-daerah yang diduduki Manchu di selatan Tiongkok. Dia juga berhasil membunuh beberapa jendral-jendral Dinasti Qing yang terkenal seperti Li Hui dan Kong Youde.

Setelah kembali dengan membawa kemenangan, Kaisar Yongli memberinya gelar Pangeran Xining yang membuat rekannya, Sun Kewang iri hati. Setelah gagal dalam rencana membunuh Li dan menggulingkan Yongli, Sun kabur dan membelot ke Qing. Li harus mundur dan memperkuat pertahanan di Yunnan yang menjadi basis pertahanan Ming Selatan.

Tidak lama kemudian pasukan Qing yang dipimpin oleh Hong Chengchou dan Wu Sangui menyerang Yunnan dan Guizhou. Ironisnya, ketika Li bertempur mati-matian mempertahankan kaisar dan dinastinya, Kaisar Yongli dengan pengecut melarikan diri ke Burma tanpa memberitahu Li. Berkali-kali Li mengirim pesan agar kaisar kembali namun gagal sehingga dia juga terpaksa harus mundur ke Burma. Raja Burma yang takut akan pasukan Qing belakangan menyerahkan Kaisar Yongli pada Wu Sangui untuk dieksekusi. Dalam pelarian di negeri asing itu, Li menghembuskan nafas terakhirnya, sebelum meninggal dia berpesan pada anak-anaknya, “Kalian lebih baik mati di alam liar daripada menyerah (pada Qing)”

Kepahlawanan Li meninggalkan kesan yang mendalam di hati rakyat Sichuan. Setelah kematiannya rakyat disana membangun kuil untuk memperingati dirinya.

Kaisar Wanli (Zhu Yijun)

Kaisar Wanli (Hanzi: 万历, 1563-1620) adalah kaisar ke-13 dari Dinasti Ming yang memerintah dari tahun 1572 hingga 1620, pemerintahannya adalah yang terpanjang diantara ke-enambelas kaisar Ming. Pada masa pemerintahannya Dinasti Ming mengalami penurunan drastis. Dia terlahir dengan nama Zhu Yijun(朱翊鈞), putra ke-3 Kaisar Longqing.

Kehidupan awal

Zhu Yijun sebenarnya seorang anak yang cerdas sejak kecil. Suatu ketika dia melihat ayahnya memacu kuda dengan sangat kencang dan berseru padnya, “Ayahanda kaisar, engkau adalah penguasa di bumi, hal yang tidak baik akan terjadi bila ayah berkuda sekencang itu !”. Umurnya baru enam tahun ketika berkata demikian, Longqing sangat terkesan dengan sikapnya itu, dia segera turun dari kuda dan menggelarinya putra mahkota.

Tahun 1572, Longqing wafat dan Zhu Yijun yang baru berumur 9 tahun naik tahta menggantikannya, rezimnya dinamakan Wanli. Sepuluh tahun pertama masa pemerintahannya, dia dibantu oleh ibu suri, ibunya, dan negarawan besar, Zhang Juzheng yang juga menjadi guru yang membimbingnya sejak kecil. Zhang diangkat sebagai kanselir agung. Sebagai administrator yang kompeten, Zhang melakukan reformasi dalam berbagai bidang seperti mereformasi ekonomi dan pertanian serta memperketat sistem ujian kerajaan. Hal ini menciptakan stabilitas sosial bagi Tiongkok.

Pasca kematian Zhang Juzheng

Zhang meninggal pada tahun 1582. Sepeninggalnya, Wanli merasa terbebas dari pengawasan Zhang dan atas hasutan para pejabat dan kasim yang tidak menyukai Zhang dia membatalkan program-program yang telah dirancang Zhang. Dinasti Ming yang baru saja bangkit kembali mengalami kemunduran. Wanli mulai terjerumus dalam kebejatan moral dan pemborosan harta negara. Di istana belakang dia memiliki ratusan wanita yang siap dipanggil kapan saja, dia juga minum-minum tanpa terkendali dan setelah mabuk bisa membunuh siapa saja yang menyinggungnya.

Wanli membangun taman kerajaan baru dan memperluas yang lama. Untuk membangun makamnya yang mewah, dia mengerahkan 30.000 prajurit dan tukang, menguras kas negara dan memakan waktu hingga enam tahun. Selama duapuluh tahun dia jarang menghadiri pertemuan rutin dengan pejabat-pejabatnya, segala laporan dan dokumen dari para mentri harus melewati para kasim kepercayaannya. Dia juga mengirim para kasimnya untuk memungut pajak di seluruh penjuru negeri. Beban pajak yang tinggi makin menambah beban hidup rakyat untuk menutupi defisit kas negara yang dihambur-hamburkan untuk kesenangan pribadinya sehingga membangkitkan kemarahan rakyat dan pemberontakan petani mulai terjadi di berbagai tempat.

Dekadensi moral pada jaman ini menyebabkan sekelompok orang terpelajar dan aktivis politik membentuk gerakan Donglin sebuah perkumpulan politik yang menjunjung kebenaran moral dan mengkritik pemerintah. Pada masa pemerintahannya pula Matteo Ricci, missionaris Yesuit pertama tiba di Tiongkok

Tahun-tahun terakhir

Menjelang akhir pemerintahannya, Wanli menyaksikan kekalahan tragis pasukan Ming dalam pertempuran Sa’erhu (1619) oleh bangsa Manchu yang dipimpin Nu’erhachi. Sejak saat itu bangsa Machu menjadi momok yang menakutkan bagi Tiongkok hingga puncaknya pada kehancuran Dinasti Ming tahun 1644.

Permaisurinya, Xiaoduan, tidak memberinya putra. Dia menghamili seorang dayang bermarga Wang sehingga wanita itu memberinya seorang putra bernama Zhu Changluo. Beberapa tahun kemudian dia juga mendapat seorang putra lagi dari selirnya bermarga Zheng. Wanli berencana mewariskan tahtanya pada putra selir Zheng yang bernama Zhu Changxun, namun setelah perdebatan yang berlarut-larut dengan para mentrinya akhirnya dia menetapkan Zhu Changluo sebagai pewarisnya.

Juli 1620, Wanli jatuh sakit dan tidak bisa memakan apapun selama dua minggu. Sadar ajalnya sudah dekat, dia memanggil mentri kepercayaannya, Zhang Weixian dan menyampaikan pesan terakhir untuk mendampingi putra mahkota Zhu Changluo mengurus negara. Dia meninggal bulan berikutnya dalam usia 56 tahun dan dimakamkan di kompleks pemakaman kaisar Ming, pinggiran kota Beijing. Makamnya, Dingling (定陵) adalah salah satu dari dua makam kaisar Ming yang dibuka untuk umum.

Kong Youde

Kong Youde (Hanzi: 孔有德, ?-1652) adalah seorang jenderal Dinasti Ming yang kemudian membelot pada bangsa Manchu. Ia banyak memberikan kontribusi bagi Dinasti Qing setelah bangsa Manchu memasuki Tiongkok, namun bagi orang Han / Tionghoa ia dianggap sebagai pengkhianat.

Kong lahir di Liaodong (sekarang Liaoning) dari keluarga penambang. Di masa muda ia pernah menjadi bajak laut. Kemudian bergabung dengan tentara Ming di bawah komando Mao Wenlong. Setelah Mao Wenlong dihukum mati oleh Yuan Chonghuan, wakilnya, Chen Jisheng menggantikannya memegang komando atas pasukan itu, namun tidak lama kemudian terjadi pemberontakan yang merenggut nyawa Chen. Kong lalu bergabung dengan pasukan yang dipimpin oleh inspektur militer kerajaan, Sun Yuanhua.

Tahun 1631, Huang Taiji memimpin tentara Qing menyerang kota Dalinghe (sekarang kabupaten Jin, Liaoning). Zu Dashou komandan penjaga kota itu terkepung rapat dan kota dalam kondisi kritis. Sun Yuanhua segera memerintahkan Kong memimpin 800 pasukan kaveleri sebagai bala bantuan untuk menyelamatkan Zu. Ketika Kong sampai di Wuqiao pasukannya terhalang oleh badai salju dan perbekalan sudah tidak cukup sehingga terjadilah kekacauan diantara pasukan itu. Hal ini memaksanya untuk melakukan pemberontakan dan ia mengangkat diri sebagai komandan tertinggi. Kemudian mereka merebut beberapa daerah strategis di Dengzhou. Peristiwa ini dikenal dalam sejarah dengan nama Pemberontakan Wuqiao (吴桥兵变).

Mendengar hal ini, Sun Yuanhua segera mengirim pasukan untuk menumpas pemberontakan Kong namun pasukannya dapat dikalahkan oleh Kong. Karena masih memandang Sun sebagai sahabat lama, Kong melepaskan Sun kembali ke ibukota, lalu ia sendiri bergabung dengan Manchu sebelum kerajaan sempat mengirim pasukan untuk menumpasnya. Huang Taiji menganugerahkannya gelar Pangeran Gongshun. Di bawah panji kerajaan Qing ia menaklukkan Korea, Jinzhou, Songshan, dan daerah lainnya.

Setelah Dinasti Ming hancur dan bangsa Manchu menduduki Tiongkok tahun 1644, Kong melanjutkan pengabdiannya dengan turut menumpas kaum loyalis Ming dan pemberontakan-pemberontakan anti-Qing. Tahun 1648, ia menaklukkan Guangxi dan dianugerahi gelar Pangeran Dingnan oleh Kaisar Shunzhi. Bulan September 1592, ia berhadapan dengan Li Dingguo, pendukung setia Dinasti Ming, dalam pertempuran Guilin. Pasukannya dikalahkan oleh pasukan Li yang dilengkapi dengan gajah-gajah tempur dari Birma. Kong mundur hingga ke Guilin dan bertahan mati-matian dari dalam tembok kota. Namun Li mengepung kota itu dan terus menyerangnya siang malam.

Salah seorang bawahan Kong berkhianat dan diam-diam menyurati Li serta menganjurkannya memanjat tembok kota. Setelah pasukan Li berhasil memasuki kota, mereka menyerang pasukan Qing di dalam kota dengan dahsyat sehingga mereka kocar-kacir. Kong membakar diri hingga tewas setelah melihat kekalahan sudah didepan mata. Ia meninggalkan seorang putri bernama Kong Sizhen, ia diadopsi oleh ibusuri Xiaozhuang dan belakangan menjadi salah satu selir kerajaan.